Selasa, 16 Juni 2015

[syiar-islam] Wahabi Merubah Tulisan IMAM SYAFI’I TENTANG BID’AH HASANAH

 

Assalamu'alaikum wr wb,

Lagi2 Salafi Wahabi merubah2 pendapat/kitab ulama. Jika mereka berkata sesuatu, jangan percaya.
Contoh di video ini Wahabi menyebut bahwa Habib Umar Bin Hafiz berkata: Syiah itu mazhabnya iblis
https://www.youtube.com/watch?v=w9v0yL7DkwE

Saya perhatikan video tsb. Tidak ada 1 patah kata pun Habib Umar menyebut nama Syi'ah. Habib Umar cuma berkata bahwa mencaci-maki atau mencela orang2 awam, ulama, dan sahabat itu bukan ajaran Nabi. Tapi mazhab Iblis. Namun Habib Umar tidak ada menyebut Syiah itu mazhabnya iblis. Kalau benar begitu, berarti Habib Umar termasuk mencaci-maki juga dong?

Tidak. Habib Umar terlalu santun. Beliau tidak menyebut nama. Beliau hanya menyebut perilaku agar siapa pun yang suka mencaci-maki, dalam hal ini mungkin kita bisa berkesimpulan Syi'ah Rafidhoh dan Wahabi Nashibi / Takfiri serta kelompok Khawarij yang suka mencaci-maki itulah Mazhab Iblis. Ini jika kita mau menyebut nama.

Namun sekali lagi Habib Umar tidak menyebut Nama. Cuma Wahabi saja yang menyebut nama sambil menambah kutipan kitab yang bisa jadi karangan mereka sendiri.

Sebaliknya di Video ini, saat Hasan Dalil mengaku bahwa dia Syi'ah Ja'fari, apakah berarti dia kafir? Habib Umar menjawab tidak. Kita tidak bisa mengatakan kamu kafir hanya karena kamu berkata kamu menganut mazhab Ja'fari (Syi'ah Imamiyah):
https://www.youtube.com/watch?v=EqNJAkIUpjs

Kita baru bisa mengatakan kafir jika memang mereka menampakkan kekafiran. Itu juga Qodhi khusus yang melakukannya dengan tabayyun pada si tertuduh. Bukan para Fesbuker yang dgn mudah mengkafirkan orang dgn modal copas internet tanpa tabayyun.

Jika Habib Umar benar menyatakan Syi'ah itu Mazhab Iblis, tentu beliau bersama Habib  'Ali Al-Jifri (keduanya dari Yaman) tidak mau menanda-tangani Risalah Amman yang menyatakan Syi'ah (Ja'fari dan Zaidi) sbg bagian dari Islam dan dilarang saling menyesatkan. Tentu beliau tidak mau menanda-tangani itu jika Syi'ah Ja'fari dan Zaidiyah adalah Mazhab Iblis:

www.ammanmessage.com
http://kabarislamia.com/2013/08/06/risalah-amman-ijma-ulama-dianggap-akal2an-syiah-oleh-wahabi/

Jadi terhadap Fitnah Najd ini hati2. Amat deras dan amat canggih. Laksana Dajjal bisa membuat Api terlihat sebagai Air.

Terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab yang lahir tahun 1703 Masehi di Najd dan dari Suku Bani Tamim ini ada Nubuwat Nabi yang cocok:
Ibnu Umar berkata, "Nabi berdoa, 'Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.' Mereka berkata, Terhadap Najd kami.' Beliau berdoa, 'Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.' Mereka berkata, 'Dan Najd kami.' Beliau berdoa, 'Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.' Maka, saya mengira beliau bersabda (Najd) pada kali yang ketiga, 'Di sana (Najd) terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.'" [HR Bukhari]
Ini dikuatkan dengan hadits lainnya:
Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.: Dari Yusair bin Amru, ia berkata: Saya berkata kepada Sahal: Apakah engkau pernah mendengar Nabi saw. menyebut-nyebut Khawarij? Sahal menjawab: Aku mendengarnya, ia menunjuk dengan tangannya ke arah Timur, mereka adalah kaum yang membaca Alquran dengan lisan mereka, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1776)
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin 'Abdur Rahman bahwa Abu Sa'id Al Khudriy ra berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil.
Kemudian 'Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesetnya anak panah dari sasaran (hewan buruan). (HR Bukhari 3341)
Rasulullah saw bersabda: "Nanti pada akhir zaman akan muncul kaum mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkongan, mereka memecah Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, dan mereka akan terus bermunculan sehingga keluar yang terakhir daripada mereka bersama Dajjal, maka jika kamu berjumpa dengan mereka, maka perangilah sebab mereka itu seburuk-buruk makhluk dan seburuk-buruk khalifah. " ( Sunan Nasai/4108, Sunan Ahmad/19783 )
http://kabarislamia.com/2015/03/01/wahabi-berdasarkan-al-quran-dan-hadits/


Priyadi 'Didie' Dwi Nugroho shared Abdullah Ade's photo.
8 mins · 
Lagi dan lagi...
Abdullah Ade's photo.
Abdullah Ade
SALAFY MENDISTORSI QOUL IMAM SYAFI'I TENTANG BID'AH HASANAH

TAFSIR & QOUL ULAMA, WAHABI - SALAFY HALALKAN SEGALA CARA

Dalam kitab Manaqib al-Syafi'i karya al-Imam al-Baihaqi, juz 1 hal. 469; maknanya sebagai berikut:

"Dan perkara-perkara yang baru ada dua macam, yang pertama adalah yang menyelisihi al-Kitab atau as-Sunnah, atsar atau ijma', maka ini adalah bid'ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, yang tidak menyelisihi dari salah satu hal ini (al-Kitab, Sunnah, atsar atau ijma'), maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela".

Perkataan Imam al-Syafi'i di atas telah didistorsi/ditahrif oleh kaum Wahabi di dunia maya, antara lain saudara Maulana Mufti di facebook, dan firanda di webnya, dan artinya menjadi begini: "Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma', maka ini adalah bid'ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela"(lihat juga manaqib As-Syafi'i 1/469)

Perhatikan, pernyataan Imam al-Syafi'i yang seharuanya diartikan, "Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, yang tidak menyelisihi dari salah satu hal ini (al-Kitab, Sunnah, atsar atau ijma')", oleh Wahabi diartikan "Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela"(lihat juga manaqib As-Syafi'i 1/469)

Setelah mentaharif makna pernyataan Imam al-Syafi'i, kaum Wahabi, Maulana Mufti maupun Firanda kemudian memberikan kesimpulan sebagai berikut:

"Lihatlah Imam As-Syafi'i menyebutkan bahwa bid'ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi'i menghendaki dengan bid'ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan
kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid'ah jika ditinjau dari sisi bahasa."

Di sini, si Wahabi terjerumus dalam dua kesalahan lagi. Pertama, mengartikan maksud bid'ah hasanah nya Imam al-Syafi'i, dengan bid'ah lughawi. Kedua, mengarahkan maksud perkataan Imam al-Syafi'i, terhadap teori maslahah mursalah, yang diakui dalam Madzhab Maliki, tidak dalam Madzhab Syafi'i, sebagai salah satu sumber hukum.

Sementara, Firanda sangat pinter dalam mengarahkan bid'ah hasanah nya Imam al-Syafi'i kepada teori maslahah mursalah nya madzhab maliki dan bid'ah secara lughawi, dengan mengutip pernyataan Imam al-Syafi'i, yang terdapat dalam kitab Tahdzib al-Asma wal-Lughat karya Imam al-Nawawi, juz 3 hal. 23, terbitan Penerbit al-Muniriyyah, miliknya Munir al-Dimasyqi, yang ditahqiq oleh kaum Wahabi, yang redaksinya berbeda dengan riwayat asli dalam Manaqib al-Syafi'i karya al-Baihaqi.

Di sini Firanda terjebak dalam dua kelemahan ilmiah: Pertama, harusnya Firanda merujuk kepada al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi'i, karna Imam al-Nawawi mengutip pernyataan tersebut dari Imam al-Baihaqi. Dan Firanda memiliki kitab Manaqib al-Syafi'i. Mengutip dari sumber kedua, dan meninggalkan sumber pertama, terutama ketika kedua sumber tersebut berbeda, adalah suatu kelemahan metodologis secara ilmiah.

Kedua, pernyataan Imam al-Syafi'i yang terdapat dalam kitab Tahdzib al-Asma' wal-Lughat karya Imam al-Nawawi, sepertinya telah ditahrif oleh Wahabi yang menerbitkan kitab tersebut. Sebagaimana dimaklumi, penerbit al-Muniriyah miliknya Munir al-Dimasyaqi, memang gemar mentahrif kitab para ulama, termasuk menisbatkan kitab al-Nashihah karya al-Wasithi, murid Ibnu Taimiyah, kepada Imam Abu Muhammad al-Juwaini, ayahnya Imam al-Haramain. Hal ini sebagaimana kami paparkan dalam buku, BEKAL PEMBELA AHLUSSUNNAH WAL-JAMA'AH MENGHADAPI RADIKALISME SALAFI WAHABI. Dalam buku ini, kami memaparkan pemalsuan Wahabi terhadap beberapa kitab para ulama Ahlussunnah.

Dalam Manaqib al-Syafi'i, pernyataan Imam al-Syafi'i tertulis begini:

المحدثات من الامور ضربان. أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا، فهذه البدعة الضلالة والثانثة ما أحدث من الخير (لا خلاف فيه لواحد من هذا وهذه محدثة غير مذمومة). وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان نعمت لبدعة هذه.

Sementara dalam Tahdzib al-Asma' wal-Lughat, terbitan kaum Wahabi tertulis begini:

المحدثات من الامور ضربان. أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا، فهذه البدعة الضلالة والثانثة ما أحدث من الخير (لا خلاف فيه لواحد من العلماء وهذه محدثة غير مذمومة). وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان نعمت البدعة هذه.

Anda perhatikan, kedua teks dalam kurung tersebut berbeda. Padahal Imam Nawawi, mengutip dari Imam al-Baihaqi.

Memang Firanda sangat lihai dalam mengarahkan pandangan para ulama terhadap kemauannya. Misalnya, ia mengarahkan pernyataan Imam Izzuddin bin Abdussalam, terhadap bid'ah lughawi. Kemudian memperkuat arahannya dengan mengutip pernyataan al-Syathibi dalam al-I'tisham. Di sini Firanda, seperti tidak tahu, atau tidak tahu menahu, bahwa konsep al-Syathibi, memang berbeda dengan konsep mayoritas ulama dalam persoalan bid'ah. Tapi firanda menganggapnya satu. Firanda juga memperkuat usahanya dalam mengarahkan pernyataan Imam Syafi'i tentang bid'ah hasanah kepada bid'ah secara bahasan, dengan mengutip pernyataan Imam al-Syafi'i tentang istihsan. Padahal antara teori istihsan dengan teori bid'ah sangat jauh, sebagiaman dapat dipahami dari kitab-kitab ushul fiqih. Demikian catatan singkat kami.

Semoga bermanfaat
 
.
===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits di http://media-islam.or.id

Buat website mulai 1 Dinar (Rp 2,4 juta) http://media-islam.or.id/2010/07/22/pembuatan-website-seharga-2-dinar

Bagi yg ingin turut membantu www.media-islam.or.id DSB, bisa transfer mulai rp 5 ribu ke : Rekening BCA No 0061947069 a/n Agus Nizami dan konfirmasi. Mudah2an bisa jadi sedekah kita sbg ilmu yg bermanfaat.
Milis Syiar Islam: syiar-islam-subscribe@yahoogroups.com

__._,_.___

Posted by: A Nizami <nizaminz@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
===


Untuk berlangganan milis Syiar Islam, kirim email ke:
syiar-islam-subscribe@yahoogroups.com


Toko Ayudia
Busana Gamis Modern http://pasarklewersolo.id

Pasang Iklan di Media Islam mulai Rp 500 ribu/bulan:
http://media-islam.or.id/pasang-iklan

.

__,_._,___

0 komentar:

Poskan Komentar