Jumat, 24 Oktober 2014

[syiar-islam] Kenangan Pejuang dan Pahlawan dari 2 Ormas Islam - Muhammadiyah dan NU

 



<!--#yiv2677707609 _filtered #yiv2677707609 {font-family:Calibri;panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;} _filtered #yiv2677707609 {font-family:Tahoma;panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;} _filtered #yiv2677707609 {font-family:Verdana;panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;} _filtered #yiv2677707609 {font-family:"Century Gothic";panose-1:2 11 5 2 2 2 2 2 2 4;} _filtered #yiv2677707609 {font-family:Oswald;panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;} _filtered #yiv2677707609 {panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;}#yiv2677707609 #yiv2677707609 p.yiv2677707609MsoNormal, #yiv2677707609 li.yiv2677707609MsoNormal, #yiv2677707609 div.yiv2677707609MsoNormal {margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri", "sans-serif";}#yiv2677707609 h1 {margin-top:24.0pt;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:14.0pt;font-family:"Cambria", "serif";color:#365F91;font-weight:bold;}#yiv2677707609 h3 {margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:13.5pt;font-family:"Times New Roman", "serif";font-weight:bold;}#yiv2677707609 a:link, #yiv2677707609 span.yiv2677707609MsoHyperlink {color:blue;text-decoration:underline;}#yiv2677707609 a:visited, #yiv2677707609 span.yiv2677707609MsoHyperlinkFollowed {color:purple;text-decoration:underline;}#yiv2677707609 p {margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman", "serif";}#yiv2677707609 p.yiv2677707609MsoAcetate, #yiv2677707609 li.yiv2677707609MsoAcetate, #yiv2677707609 div.yiv2677707609MsoAcetate {margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:8.0pt;font-family:"Tahoma", "sans-serif";}#yiv2677707609 span.yiv2677707609EmailStyle17 {font-family:"Calibri", "sans-serif";color:windowtext;}#yiv2677707609 span.yiv2677707609Heading3Char {font-family:"Times New Roman", "serif";font-weight:bold;}#yiv2677707609 span.yiv2677707609BalloonTextChar {font-family:"Tahoma", "sans-serif";}#yiv2677707609 span.yiv2677707609Heading1Char {font-family:"Cambria", "serif";color:#365F91;font-weight:bold;}#yiv2677707609 span.yiv2677707609apple-converted-space {}#yiv2677707609 .yiv2677707609MsoChpDefault {} _filtered #yiv2677707609 {margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;}#yiv2677707609 div.yiv2677707609WordSection1 {}-->Kutipan Puisi "Antara Karawang dan Bekasi" gubahan Chairil Anwar:  Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata        Dikutip dari  http://www.sangpencerah.com/2014/04/mr-kasman-singodimejo-sang-harimau.html  Prof Dr Mr Raden Kasman Singodimejo, tokoh Muhammadiyah kelahiran Kalirejo Purworejo Jawa Tengah 25 Februari 1908 dikenal sederhana, terus terang dan pemberani. "Namanya memang Singodimejo, kenyataannya dia singa di mana-mana," kata Mohamad.Roem, kawan dekat beliau sejak muda.  Suatu hari setelah ceramah di Ternate, Kasman harus menyeberang ke Bitung (Sulawesi Utara) memenuhi undangan di sana. Ketika sampai di tepi laut, tiba-tiba cuaca berubah. Angin besar, ombak laut makin tinggi. Pemilik perahu biasanya tidak berani berlayar, menunggu cuaca baik kembali. Namun tidak tahu kapan cuaca akan baik kembali.  Dalam ketidakpastian, Kasman keluar singanya."Apakah ada nakhoda Muslim yang percaya bahwa hidup dan mati di tangan Allah? Siapa yang bersedia mengantarkan saya dalam keadaan ini ke Bitung?" teriak Kasman.Teriakan itu menularkan keberanian ke hati pemilik kapal. Beberapa orang mengacungkan tangan. Namun karena hanya perlu satu perahu, maka ia memilih salah satu dan terima kasih kepada yang lain. "Kalian juga sudah mendapat pahala.  "Dalam buku biografinya: "Hidup Itu Berjuang", diceritakan ketika dalam tahanan Orde Lama, dia diminta mengakui mengadakan rapat gelap untuk gerakan makar. Kasman menolak karena memang tidak melakukannya. Lalu dikonfrontir dengan Nasuhi, tahanan lain. "Tidakkah Letkol malam itu menjemput Pak Kasman lalu membawanya ke Tengerang?" kata pemeriksa. Nasuhi diam. Pertanyaan itu diulang dan diulang lagi. Tapi Nasuhi tetap diam. "Awas! Letkol diproses verbaal telah mengakuinya," penyidik mulai menggertak. Nasuhi tetap diam.  Suasana senyap.Kasman minta ijin bicara: "Bismillahir rahmanir rahim. Nasuhi kamu kan percaya kepada Allahu Akbar. Jawablah secara jantan. Kamu kan laki-laki. Allah sebagai saksi. Jawab yang lantang supaya kedengaran," kata Kasman.Nasuhi menjawab: "Saya terpaksa menandatangani proses verbaal. Sebetulnya tidak begitu." Lalu Kasman menyambung: "Nah, itulah tuan-tuan keadaan yang sebenarnya. Saya sebagai bekas Jaksa Agung, bekas kepala Kehakiman Militer, bekas Menteri Muda Kehakiman, tahu persis semua ini tidak syah." Kasman lalu berdiri. Dibuangnya kursinya jauh ke belakang, tangannya diangkat lalu berteriak sangat keras dan melotot. "Percuma pemeriksaan semacam ini! Silakan tuan-tuan cabut pistol. Tembak saya! Tembak! Tambak!" Jaksa itu gagal memaksa Kasman. Singanya keluar pada saat yang tepat.  Di luar soal "singa", ada dua pesan Kasman yang patut direnungkan. Pertama: "Hidup itu berjuang". Kedua: "Jalan pemimpin itu bukan jalan yang mudah. Memimpin itu jalan menderita".  Berjuang dan menderita memang sering menyatu. Kasman tidak hanya bicara tetapi telah menjalaninya berkali-kali.Sejak muda ia terlibat aktif mendirikan republik ini, kemudian melalui Masyumi dan Muhammadiyah berjuang mengisi negeri ini sesuai cita-cita dan prinsip hidupnya. Untuk itu dia rela empat kali masuk penjara. Sekali pada zaman Belanda, tiga kali masa rezim Orde Lama. Tapi dia tetap bahagia. "Bahagia dalam keluarga, bahagia karena hidup punya cita-cita," kata Pak Roem. Karena "hidup itu berjuang", maka bagi mereka yang tidak berjuang atau meninggalkan gelanggang perjuangan, sesungguhnya dia telah kehilangan makna hidupnya.      http://www.sangpencerah.com/2014/10/kenangan-bersama-muhammadiyah-tempoe.html  Kenangan Bersama Muhammadiyah Tempoe DuluOleh: M. Rizki
Wartawan, penggiat Jejak Islam Bangsa (JIB)Kuda-kuda berseliweran di jalanan. Kereta api, masuk dengan perlahan, asapnya mengepul. Sepeda-sepeda tertambat. Alun-alun begitu hidup. Keraton dan Mesjid Gede ramai dikerubuti orang-orang yang berdatangan. Tahun itu, 1941, hampir 30 tahun sudah, Muhammadiyah muncul. Sekolah-sekolah bermunculan bak jamur. Tenaga persiapan melawan penjajah siap sedia. Surau-surau hidup. Setiap sekolah mengkaji ayat, mengeja lafal kalam suci.  Gedung Sekolah Kweek School Muhammadiyah di Yogyakarta itu penuh sesak. Kongres ke-30 Muhammadiyah resmi digelar. Berdatangan dari jauh, seluruh Indonesia perwakilan pimpinan Muhammadiyah tiap kota, tiap daerah. Beragam suku, beragam bahasa, memimpikan Indonesia merdeka, dengan rahmat Allah.
Di sana, pertama kali sekali aku bertemu dengan Mr. kasman Singodimedjo, seorang yang namanya sedang naik daun karena baru saja keluar dari tahanan Belanda.  Mr. Kasman, Sarjana Hukum, seorang yang dulu pernah memimpin JIB (Jong Islamieten Bond), bisa dibilang organisasi pertama pergerakan Islam di Indonesia khusus pemuda, didikan Pak Salim. Mr. Kasman, beliau saat itu menjabat sebagai Pimpinan Konsul Muhammadiyah 'Batavia', sedangkan aku sendiri yang lebih muda delapan tahun dari beliau, diamanahi Pimpinan Consul Wilayah Sumatera Timur, Medan.  Mr. Kasman, adalah seorang yang terhormat, mendapat gelar Meester in de Rechten, Sarjana Hukum. Jarang saat itu orang bergelar Mr. pada Muhammadiyah. Rasa kekeluargaan begitu terasa, apalagi ada rasa bangga pada diri kami karena ada anggota Muhammadiyah yang ditangkap Belanda. Saat itu pula, pemimpin-pemimpin Muhammadiyah berdatangan seperti KH Mas Mansyur, ketua Pengurus Besar, Haji Abdullah darri Makasar, Tom Oli dari Gorontalo, Citrosuwarno dari Pekalongan, dan lainnya sangat banyak.  Yang membuat saya gembira juga, saat Mr. kasman yang terhormat itu saya kira tak ingin berkenalan cepat dengan saya, tapi nyatanya beliau menjabat tangan saya, dan saya merasa dia sangat santun dan menghormati sekitarnya. Pun setelah rapat-rapat, kami semua tinggal di Pondok sederhana. Tidak ada keistimewaan bagi Kiayi, atau ketua pengurus, atau orang yang bergelar Misteer sekalipun.  Pondok itu, sebuah ruang kelas besar. Saat malam semakin gelap, setelah rapat, kami semua masuk bersama ke Pondok. Satu hal yang tak akan dilupakan selama hidup, keistimewaan kita pada zaman penjajahan disbanding zaman kemerdekaan ini ialah persaudaraan yang mendalam antara kita. Semua sama, kami tidur bersama.  Suasana ini mengingatkan seperti dalam dek kapal. Tidur menumpuk semua di sana. Begitu sederhananya saat itu. Kadang, malah kita semua tidur siang di sana, karena malamnya harus berapat, bersiap, kelak Indonesia merdeka. Bertumpuk sudah, satu bantal berdua beralas tikar. Kadang saling tindih, kepala, kaki, menyebar dimana-mana.  "Berat saudara…berat…" Lalu diangkatnya kaki yang telah terletak di atas dadanya karena badannya kecil. Yang mengangkat kaki karena keberatan memikul itu ialah Wakil majelis Pemuda (WMP) Muhammadiyah dari Purwokerto, Sudirman namanya. Sedangkan kaki yang tertenggek di atas dada kawan karena sedap tidurnya ialah kaki Mr. Kasman Singodimedjo.  Baru lima tahun belakangan , kita melihat Qadla dan Qadar Allah bahwa Pemuda yang berat memikul kaki itu ialah Panglima Besar TNI yang pertama di Indonesia Jenderal Soedriman, sedangkan yang kakinya terletak di dada orang itu adalah Jaksa Agung yang pertama di Republik Indonesia dan turut menghadiri Zaman Proklamasi 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 (H), Mr. Kasman Singodimedjo.  Mr Kasman, kelak didaulat juga sebagai Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesai Pusat) pertama (sebelum ada DPR), anggota tambahan PPKI, juga anggota Majelis Konstituante. Dua orang ini, bersama Muhammadiyah, hingga akhir hayatnya. Kini, tak terhitung lagi jumlah sekolah Muhammadiyah yang mencetak orang=orang besar seperti mereka. Mulai dengan pendidikan, Indonesia bisa merdeka, juga dengan pendidikan, generasi selanjtunya seharusnya bisa mengisi kemerdekaan. [sp/islampos]        http://news.liputan6.com/read/742491/tak-ada-hari-pahlawan-tanpa-resolusi-jihad-nu  
`Tak Ada Hari Pahlawan Tanpa Resolusi Jihad NU`
 10 Nov 2013 22:03    Pada 68 tahun yang lalu, 10 November 1945, arek-arek Suroboyo bertempur melawan tentara sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutunya. Pada tanggal yang saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan itu menjadi perang dahsyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar, ada beberapa catatan penting sebagai refleksi bersama tentang makna Hari Pahlawan yang selama ini lepas dari pengamatan. Pertempuran dahsyat 10 November 1945 itu tak bisa lepas dari kejadian-kejadian sebelumnya.

"Ada peristiwa besar yang mendahului lahirnya pertempuran 10 November tersebut, yaitu adanya fatwa Resolusi Jihad yang digulirkan Pendiri Ormas Nahdhatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945," kata Marwan melalui pesan singkatnya kepada Liputan6.com di Jakarta, Minggu (10/11/2013).

Menurutnya, salah satu isi Resolusi Jihad NU adalah mewajibkan bagi umat Islam, terutama NU, untuk mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dan sekutunya yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.

"Kewajiban ini merupakan perang suci (Jihad). Kewajiban ini bagi setiap muslim yang tinggal radius 94 kilometer. Sedangkan mereka yang berada di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material bagi mereka yang berjuang," jelasnya.

"Fatwa Resolusi Jihad tersebutlah yang memantik semangat pertempuran seluruh rakyat Indonesia untuk saling bahu membahu dalam satu tekad dan tujuan, yaitu mengusir segala bentuk penjajahan di muka bumi Indonesia sampai titik darah penghabisan," tambah Marwan.

Fatwa Resolusi Jihad tersebut, lanjut Marwan, merupakan wujud kecintaan ulama terhadap bangsa ini sekaligus sebagai bentuk komitmen para ulama dan para santri untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang di deklarasikan tiga bulan sebelumnya.

"Namun dalam sejarah bangsa Indonesia, adanya fatwa Resolusi Jihad seakan dinafikkan begitu saja. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya," tutur Ketua Fraksi PKB di DPR itu.

Untuk itu, Marwan berharap agar momentum Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad harus dijadikan refleksi bersama untuk mengusir penjajahan dalam dimensi lain, yaitu melawan segala bentuk intervensi asing dalam hal kebijakan ekonomi, kedaulatan pangan, politik, supremasi hukum, demi mewujudkan cita-cita awal pendirian bangsa ini, yaitu mensejahterakan rakyat Indonesia lahir dan batin.

"Memperingati hari Pahlawan akan hampa tanpa memahami arti Resolusi Jihad. Karena kedua hal tersebut saling berkaitan. Untuk itu saya mengajak semua elemen bangsa untuk mengisi peringatan hari Pahlawan ini dengan kontekstualisasi makna Resolusi Jihad dengan kebutuhan bangsa saat ini," tukas Marwan. (Eks)        http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,40394-lang,id-c,fragmen-t,Resolusi+Jihad-.phpx  ENSIKLOPEDI NUResolusi Jihad  Senin, 22/10/2012 13:15    Seruan yang dikeluarkan oleh NU yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan. 

Dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 sebagai buah keputusan yang dihasilkan dari Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur.

Melalui konsul-konsul yang datang ke pertemuan tersebut, seruan ini kemudian disebarkan ke seluruh lapisan pengikut NU khususnya dan umat Islam umumnya di seluruh pelosok Jawa dan Madura. 

Berikut ini adalah isi dari Resolusi Jihad NU sebagaimana pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945. Salinannya di sini dengan menyesuaikan ejaan:Bismillahirrahmanirrahim
Resolusi
Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya:Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.Menimbang:

a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam

b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Ummat Islam.

Mengingat:

a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya.

d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.Memutuskan:

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.

2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat "sabilillah" untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam. 

Seruan ini memiliki pengaruh yang besar dalam menggalang umat Islam khususnya untuk berjuang mengangkat senjata melawan kehadiran Belanda setelah diproklamirkannya kemerdekaan. Pesantren-pesantren dan kantor-kantor NU tingkat Cabang dan Ranting segera menjadi markas Hizbullah yang menghimpun terutama pemuda-pemuda santri yang ingin berjuang dengan semangat yang tinggi meski dengan keahlian dan fasilitas persenjataan yang sangat terbatas. 

Seruan ini juga diyakini memiliki sumbangan besar atas pecahnya Peristiwa 10 November 1945 yang terkenal dan kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Soetomo atau terkenal dengan panggilan Bung Tomo, pimpinan laskar BPRI dan Radio Pemberontakan, yang sering disebut sebagai penyulut utama peristiwa 10 November diketahui memiliki hubungan yang dekat dengan kalangan Islam. 

Jauh sebelum peristiwa itu, ia diketahui telah berkawan baik dengan Wahid Hasyim, tokoh muda NU yang penting saat itu. Karena faktor Wahid Hasyim pula ia terpilih sebagai satu-satunya pemuda dari Surabaya yang menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru pada Juli 1945 yang menggantikan Hokokai peninggalan Jepang. 

Di luar itu, juga umum diketahui bahwa saat itu Bung Tomo kerap bertandang ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, untuk menemui dan meminta restu Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari. Seruan "Allahu Akbar" di pembuka dan penutup orasinya yang sangat membakar melalui Radio Pemberontakan yang dipimpinnya adalah upayanya untuk merekrut kalangan pemuda Muslim di satu sisi dan bukti kedekatan hubungannya dengan kalangan Islam.

Tidak terbatas pada Peristiwa 10 November 1945, seruan ini berdampak panjang pada masa berikutnya. Perjuangan kemerdekaan yang melibatkan massa rakyat yang berlangsung hampir empat tahun sesudah itu di berbagai tempat di Jawa khususnya hingga pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 1949 juga banyak didorong oleh semangat jihad yang diserukan melalui resolusi ini.

Pesan dan isi Resolusi Jihad ini jelas dan tegas. Tetapi dalam interpretasinya, terutama melalui penyebarannya secara lisan, kadang-kadang memperoleh tekanan yang lebih keras dan luas seperti bahwa kewajiban (fardhu 'ain) bagi setiap muslim yang berada pada jarak radius 94 km untuk turut berjuang. Sedangkan yang berada di luar jarak itu berkewajiban untuk membantu saudara-saudara mereka yang berada dalam jarak radius tersebut.

Jalur "aksi perjuangan" melalui Resolusi Jihad memang harus berhadapan dengan "jalur diplomasi" yang dipilih beberapa pemimpin nasional saat itu. Bagaimanapun ini adalah suatu tanggapan yang cepat, tepat, dan tegas dari NU atas krisis kepercayaan dan kewibawaan sebagai bangsa yang baru menyatakan kemerdekaannya. 

Pada akhirnya, Resolusi Jihad tak lain merupakan bukti historis komitmen NU untuk membela dan mempertahankan Tanah Air. (Sumber: Ensiklopedi NU)        http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,26171-lang,id-c,fragmen-t,Spirit+Rakyat+dalam+Perang+10+November+1945-.phpx  RESOLUSI JIHADSpirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945Kamis, 11/11/2010 16:34    Jakarta, NU Online
Kedasyatan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad, Perintah Perang, yang dikeluarkan oleh Hadratush Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy'ari pada Tanggal 22 Oktober 1945. Pernyataan Perintah Perang itu disampaikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy'ari di depan Presiden Soekarno di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa hari sebelum pecah Perang 10 November 1945. 

Ihwal pertemuan bersejarah itu diungkapkan oleh Ki Setyo Oetomo Darmadi, adik pahlawan PETA Soepriyadi, di Blok A, Jakarta, Ahad, 7 November 2010.

Menurut mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang akrab dipanggil Ki Darmadi, Bung Karno menemui Kiai Haji Hasyim Asy'ari ditemani oleh Residen Jawa Timur Soedirman, ayah Kandung Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Soedirman. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda.

"Kiai, dipundi (despundi, bhs Jawa: bagaimana: RED.), bahasa Bung Karno, Inggris datangniku(itu: Jawa), gimana umat Islam menyikapinya? " tanya Presiden Soekarno kepada Rois Akbar NU, yang akrab dengan panggilan Mbah Hasyim. 

Mendapat pertanyaan atas sikapnya dengan kedatangan pasukan Sekutu, yang berdalih mengambil alih kekuasaan dari Jepang, lawan Perang Dunia Kedua yang sudah dikalahkan, yang berarti juga menafikan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Mbah Hasyim pun menjawab dengan tegas. 

"Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah: RED.) untuk NKRI, ini Perintah Perang !" kata Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratush Syaikh Kia Haji Hasyim Asy'ari, menjawab pertanyaan, sekaligus permintaan bantuan dari Presiden Soekarno dalam menghadapi ancaman pasukan Sekutu. 

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada Tanggal 29 September 1945 dibawa pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. AFNEI berkekuatan 3 divisi: Divisi ke-23 dibawa Komando Mayor Jenderal D.C Hawthorn, menguasai daerah Jawa Barat; Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, menguasai daerah Jawa Timur; dan Divisi ke-26 dibawah Komando Mayor Jenderal H.M. Chambers, menguasai daerah Sumatera. Adapun Brigade ke-49 dibawa pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang mendarat di Surabaya merupakan bagian Divisi ke-23 pimpinan Mayjen D.C Hawthorn. Ketiga divisi itu bertugas mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Jepang, yang berarti tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ki Darmadi, seruan jihad melawan pasukan sekutu yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asy'ari itulah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. "Lalu Kiai Hasyim Asy'ari meminta Bung Tomo supaya teriak Allahu Akbar untuk menggerakkan para pemuda. Jasa utama Bung Tomo itu karena diperintah Kiai Haji Hasyim Asy'ari jadi orator perang," ungkap Ki Darmadi terkait ihwal munculnya pekik Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo melaui radio-radio.

Terkait pertanyaan kenapa Bung Karno menemui Mbah Hasyim Asy'ari, adik Pahlawan Nasional Soepriyadi, yang lahir di Kediri pada 17 Maret 1930 silam ini menjawab, "Tujuannya supaya Kiai Hasyim Asy'ari yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam itu menggerakkan jihad. Lalu ada yang hendak mengenyampingkan, kenapa Bung Karno tidak ke BKR (TKR: RED)? Saya punya jawaban. Karena jauh sebelum itu, saat pasukan PETA terbentuk, semua komandan batalyonnya itu ulama. Dan yang punya pengaruh besar terhadap para ulama, dan santri itu kan Kiai Haji Hasyim Asy'ari," terang Ki Darmadi.

Di antara para ulama yang memegang kendali komando terhadap pasukan PETA, salah satu cikal bakal BKR itu, adalah Panglima Divisi Suropati, Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe dengan Panglimanya Jatikusumo, wakilnya adalah Soedirman, ayah kandung Basofi Soedirman, mantan gubernur Jawa Timur. Termasuk di Jawa Barat, komandan resimennya seorang ulama yang berjuluk Singa Bekasi, Kiai Haji Noor Ali. 

"Jadi pilihan Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy'ari itu sudah tepat, karena yang bisa menggerakkan umat Islam ya, Kiai Haji Hasyim Asy'ari. Terbukti sebelum Inggris masuk seluruh komandan batalyon PETA itu ulama," tandas Ki Darmadi.

Presiden Soekarno memang datang ke orang yang tepat, lanjut Ki Darmadi, dampak perangnya pun luar biasa, seperti digambarkan dalam buku berjudul : Api Neraka di Surabaya. "Pertempuran di Surabaya itu bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang, itu karena perintah jihad tadi," terang Ki Darmadi.

Pelaku dan saksi sejarah lainnya, yaitu Tokoh dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Haji Muchit Muzadi beberapa tahun lalu mengatakan, Hari Pahlawan 10 November itu tak bisa dilepaskan dengan Resolusi Jihad NU, yang dicetuskan para ulama di Bubutan, Surabaya pada 22 Oktober 1945. 

"Proklamasi yang diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tantangan kepada tentara Sekutu yang saat itu berkuasa setelah Jepang menyerah," kata Kiai yang akrab dipanggil dengan Mbah Muchit ini. Pernyataan salah seorang santri Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy'ari ini kian menegaskan, bahwa Deklarasi Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan Bung Karno dengan Mbah Hasyim. 

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada Tanggal 28 Oktober 1945, pasukan sekutu dibawa Brigadir Jenderal Mallaby mengambil alih lapangan udara Morokrembangan, dan beberapa gedung penting kantora jawatan kereta api, pusat telepon dan telegraf, termasuk Rumah Sakit Darmo. 

Pertempuran besar tak terhindarkan antara 6 ribu pasukan Inggris dengan 120 ribu pemuda Indonesia yang terdiri dari para santri, dan tentara. Akibat kalah jumlah Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran. Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di Surabaya menghentikan pertempuran. Terjepit pasukan sekutu itu digambarkan dalam buku Donnison "The Fighting Cock" sebagai "Narrowly escape complete destraction" alias hampir musnah seluruhnya", kalau tidak dihentikan Soekarno – Hatta dan Amir Syarifuddin.

Jenderal Sekutu Tewas
Karena tidak mau belajar, dari kekalahan pertama, Brigjen Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang pecah pada Tanggal, 30 Oktober 1945. Panglima AFNEI Letjen Philip Sir Christison pun mengirim pasukan Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, jenderal yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Dunia II di Afrika saat melawan Jenderal Rommel, jenderal legendaris tentara Nazi Jerman. Mansergh membawa 15 ribu tentara, dibantu 6 ribu personel brigade45 The Fighting Cock dengan persenjataan serba canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitser, kapal Perang HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, dan 12 kapal terbang jenis Mosquito. 

Dengan mesin pembunuhnya itu, Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya, untuk bertekuk lutut alias menyerah, yang berarti mengakui Indonesia belum merdeka. 

"Ultimatum Sekutu itu pun tak digubris sehingga terjadilah pertempuran 10 November 1945 dengan korban yang tidak sedikit, bahkan para santri dari Kediri, Tuban, Pasuruan, Situbondo, dan sebagainya banyak yang menjadi mayat dengan dibawa gerbong KA," kata Mbah Muchit.

Kiai Kelahiran Tuban Jatim pada 1925 itu menambahkan, semangat dan tekad untuk merdeka itu merupakan semangat yang dipupuk melalui Resolusi Jihad NU yang digagas para ulama NU di Jalan Bubutan, Surabaya."Tapi, terus terang, semuanya itu tidak tercatat dalam sejarah, karena ulama NU itu memang tidak ingin menonjolkan diri, sebab mereka berbuat untuk bangsa dan negara demi ridlo dari Allah SWT, bukan untuk dicatat dalam sejarah," katanya.

Dampak perlawanan itu sepertinya tidak pernah terpikir oleh pasukan Sekutu, yang mengultimatum, agar seluruh pemuda, dan pasukan bersenjata bertekuk lutut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

"Kenapa bisa begitu? Karena sebenarnya yang fanatik melbu suwargo (Bhs Jawa: masuk surga: RED.) itu kan Islam, jadi sudah tidak mikir apa-apa lagi. Mana ada Jenderal Sekutu tewas dalam Perang Dunia Kedua, itu kan hanya terjadi di Surabaya, di Indonesia, dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby," kata Ki Darmadi menandaskan.

David Welch menggambarkan dasyatnya pertempuran itu dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66),"Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan selokan. Gelas - gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong. Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang"

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Namun semangat perlawanan oleh para pejuang Indonesia yang masih hidup tak bisa dipadamkan. Para santri, dan tentara mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur. Beberapa versi menyebut, korban dari pihak Republik Indonesia mencapai 20 ribu, bahkan ada yang menyebut 30 ribu jiwa.

Pelaku dan Saksi Sejarah
Pertanyaan, kemudian muncul, bagaimana membuktikan bahwa peristiwa Pertemuan Bung Karno dengan Rais Akbar Kiai Haji Hasyim Asy'ari itu benar? Mendapat pertanyaan ini Ki Setyo Oetomo Darmadi, menjelaskan posisinya. Menurutnya, Inggris datang ke Surabaya itu jauh sebelum meletus Perang 10 November 1945. 

"Setelah meletus Pemberontakan PETA yang dipimpin Soepriyadi, saya dan ayah saya sekeluarga ditahan oleh penjajah Jepang, setelah Proklamasi Kemerdekaan, yaitu pada Tanggal 25 Agustus kami sekelurga dibebaskan. Usia saya saat itu 15 tahun, lalu masuk BKR. Karena saya Adiknya Soepriyadi, saya bisa kenal sama kiai-kiai, di antaranya Pak ud (KH Jusuf Hasyim), Pak Baidlowi, lalu bapaknya Pak Rozi Munir, yaitu Pak Munasir. Dan kebetulan saya masih familinya Bung Karno, jadi saya tahu ada pertemuan Bung Karno dengan Kiai Haji Hasyim Asy'ari. Hasil pertemuan itu juga disampaikan oleh Bung Karno kepada para anggota BKR," ungkap Ki Darmadi menjawab, asal sumber kesaksian.

Seruan Resolusi Jihad yang disampaikan di depan Presiden Soekarno oleh Rois Akbar Kiai Haji Hasyim Asy'ari merupakan peristiwa sejarah yang terpendam, dan hanya menjadi sejarah lisan. Namun, peristiwa tersebut bukan isapan jempol. Saat penulis meneliti sejumlah arsip Kabinet Presiden di Arsip Nasional, Cilandak, Jakarta Tahun 2001, penulis menemukan indeks tentang Resolusi Jihad. Namun saat saya pesan untuk saya baca, ternyata bagian pelayanan arsip tersebut menyatakan arsip sudah kosong, alias hilang.(Abdullah Taruna)              
Disclaimer :This email and any files transmitted with it are confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom they are addressed. If you have received this email in error please notify the system manager. Please note that any views or opinions presented in this email are solely those of the author and do not necessarily represent those of the company. Finally, the recipient should check this email and any attachments for the presence of viruses. The company accepts no liability for any damage caused by any virus transmitted by this email.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Nugroho Laison <nugon19@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
===


Untuk berlangganan milis Syiar Islam, kirim email ke:
syiar-islam-subscribe@yahoogroups.com
Layanan pembuatan website mulai 1 Dinar: http://media-islam.or.id/2010/07/22/pembuatan-website-seharga-3-dinar

Pusat Grosir Mukena di Solo http://www.grosirsolomukena.com

.

__,_._,___

0 komentar:

Poskan Komentar