Rabu, 08 Februari 2012

[syiar-islam] Digest Number 3298

There are 7 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. artikel gado-gado terkait Maulid Nabi Muhammad saw
From: nugon19

2. Kembalilah mengikuti apa yang disampaikan Imam Mazhab
From: ZonJonggol

3. Geliat Majelis Tarjih Muhammadiyah
From: Nugroho Laison

4. Artikel Kajian Wahabi atau Muwahhid dari Muhammadiyah dll
From: nugon19

5. Sekte-sekte korban hasutan dari kaum Zionis Yahudi
From: ZonJonggol

6. Fw: diskusi soal madzhab di Sunni, Politik, dan bermadzhab
From: Nugroho Laison

7. .::: FOLLOW @ALAZHARPEDULI :::.
From: al_azharpeduli


Messages
________________________________________________________________________
1. artikel gado-gado terkait Maulid Nabi Muhammad saw
Posted by: "nugon19" nugon19@yahoo.com nugon19
Date: Tue Feb 7, 2012 10:24 pm ((PST))

ane copaskan fatwa Majelis Tarjih terkait peringatan Maulid Nabi
Muhammad saw, analisa hukum peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, Kalam
Habib Munzir terkait peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, artikel ttg
beberapa nama Kitab Maulid Nabi Muhammad saw dari Abad 2 atau 3 H hingga
saat kini, juga beberapa artikel yg memotivas meningkatkan kecintaan thd
Nabi Muhamamd saw.
Walloohu a'lam bis-showab.Wassalam,


Nugon
-=-=-=-

http://blog.umy.ac.id/mfabdullah/files/2011/12/Fatwa_Tarjih_Muhammadiyah\
_Peringatan_Maulid_Nab_-saw-tarjihmuhammadiyah.blogspot.com_.doc

<http://blog.umy.ac.id/mfabdullah/files/2011/12/Fatwa_Tarjih_Muhammadiya\
h_Peringatan_Maulid_Nab_-saw-tarjihmuhammadiyah.blogspot.com_.doc
>

PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW Pertanyaan Dari:Untung Sutrisno, Jl.
Gn. Bentang 13 RT 05/13 Perum Panglayungan Tasikmalaya(disidangkan pada
hari Jum'at, 27 Syawal 1430 H / 16 Oktober 2009) Pertanyaan: Assalamu
'alaikum Wr. Wb.
Di kampung kami ada yang menyelenggarakan Maulid Nabi tapi ada sebagian
yang mengatakan tidak perlu diselenggarakan. Bagaimana menurut Majelis
Tarjih mengenai hal ini?
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb. Jawaban: Pertanyaan tentang penyelenggaraan
peringatan Maulid Nabi Muhammad saw seperti yang saudara sampaikan
pernah ditanyakan dan telah pula dijawab oleh Tim Fatwa Majelis Tarjih
Muhammadiyah. Untuk itu, kami sarankan saudara membaca kembali
jawaban-jawaban tersebut, yaitu terdapat dalam buku Tanya Jawab Agama
terbitan Suara Muhammadiyah Jilid IV, Cetakan Ketiga, halaman 271-274,
Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Tahun Ke-90 16-30 Juni 2005 dan juga
di Majalah Suara Muhammadiyah No. 1 Tahun Ke-93 1-15 Januari 2008. Namun
demikian, berikut ini akan kami sampaikan ringkasan dari dua jawaban
yang telah dimuat sebelumnya tersebut.
Pada prinsipnya, Tim Fatwa belum pernah menemukan dalil tentang perintah
menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw, sementara itu belum pernah
pula menemukan dalil yang melarang penyelenggaraannya. Oleh sebab itu,
perkara ini termasuk dalam perkara ijtihadiyah dan tidak ada kewajiban
sekaligus tidak ada larangan untuk melaksanakannya. Apabila di suatu
masyarakat Muslim memandang perlu menyelenggarakan peringatan Maulid
Nabi saw tersebut, yang perlu diperhatikan adalah agar jangan sampai
melakukan perbuatan yang dilarang serta harus atas dasar kemaslahatan.
Perbuatan yang dilarang di sini, misalnya adalah perbuatan-perbutan
bid'ah dan mengandung unsur syirik serta memuja-muja Nabi Muhammad saw
secara berlebihan, seperti membaca wirid-wirid atau bacaan-bacaan
sejenis yang tidak jelas sumber dan dalilnya. Nabi Muhammad saw sendiri
telah menyatakan dalam sebuah hadis:
عَنÙ' عُمَرَ يَقُوÙ'لُ
سَمِعÙ'تُ النَÙ`بِيَÙ`
صَلَÙ`Ù‰ اللهُ عَلَيÙ'هِ
وَسَلَÙ`Ù…ÙŽ يَقُوÙ'لُ لاَ
تُطÙ'رُوÙ'نِي كَمَا
Ø£ÙŽØ·Ù'رَتِ النَÙ`صَارَى
ابÙ'Ù†ÙŽ مَرÙ'ÙŠÙŽÙ…ÙŽ
فَإِنَÙ`مَا أَنَا
عَبÙ'دُهُ فَقُوÙ'لُوÙ'ا
عَبÙ'دُ اللهِ
وَرَسُوÙ'لُهُ. [رواه
البخاري ومسلم]
Artinya: "Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi
saw bersabda: Janganlah kamu memberi penghormatan (memuji/memuliakan)
kepada saya secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah
memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada Isa putra Maryam. Saya
hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan
Rasul-Nya." [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Adapun yang dimaksud dengan kemaslahatan di sini, adalah peringatan
Maulid Nabi Muhammad saw yang dipandang perlu diselenggarakan tersebut
harus mengandung manfaat untuk kepentingan dakwah Islam, meningkatkan
iman dan taqwa serta mencintai dan meneladani sifat, perilaku,
kepemimpinan dan perjuangan Nabi Muhammad saw. Hal ini dapat dilakukan
misalnya dengan cara menyelenggarakan pengajian atau acara lain yang
sejenis yang mengandung materi kisah-kisah keteladanan Nabi saw.
Allah SWT telah menegaskan dalam al-Qur'an, bahwa Rasulullah Muhammad
saw adalah sebaik-baiknya suri teladan bagi umat manusia. Allah
berfirman:

لَقَدÙ' كانَ لَكُمÙ'
في‏ رَسُولِ اللهِ
أُسÙ'ÙˆÙŽØ©ÙŒ حَسَنَةٌ لِمَنÙ'
كانَ يَرÙ'جُوا اللهَ ÙˆÙŽ
الÙ'ÙŠÙŽÙˆÙ'Ù…ÙŽ الÙ'آخِرَ ÙˆÙŽ
ذَكَرَ اللهَ كَثيراÙ&lsqauo;

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
[QS. al-Ahzab (33): 21] Wallahu a'lam bish-shawab. *amr)

http://moslemz.multiply.com/journal/item/198
<http://moslemz.multiply.com/journal/item/198>

[Blog Entri] Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW
<http://moslemz.multiply.com/journal/item/198/Hukum_Memperingati_Maulid_\
Nabi_SAW> Oct 16, '11 10:21 AM
untuk semuanyaBanyak orang masih belum memahami esensi peringatan maulid
sehingga keliru dalam menghukuminya. Berikut ini penjelasan mengenai hal
itu.Syaikh Prof Dr Wahbah Az Zuhaili, pengarang kitab al-Fiqh al-Islami
wa Adillatuhu menulis dalam kitabnya al-Bida' al-Munkaroh hal. 49 Dar
al-Maktabi sebagai berikut:9. Perayaan Maulid dan Hari-Hari TertentuJika
Maulid Nabi SAW terbatas hanya sekedar tilawatul Quran, mengingatkan
Sunnah Nabi SAW, sejarah Islam dan pengorbanan para Salaf Saleh, maka
hal itu tak mengapa, karena di dalamnya terhadap kebaikan dan motivasi
untuk mengikuti jalan kebaikan dan akhlak mulia Rasulullah SAW dan para
sahabatnya.Hal itu tidak dianggap sebagai sunnah yang mendatangkan
pahala, melainkan seperti halnya pengajian atau ceramah ilmiah.Adapun
jika maulid diadakan untuk bernasyid ria dengan menebah rebana dan
berlebih-lebihan dalam menyifati sifat manusia, maka hal itu tak ada
faedahnya.Dalam hal maulid ini para ulama memiliki dua pandangan.
Pertama, mengatakan bahwa maulid itu bid'ah yang tercela. Kedua,
mengatakan bahwa maulid mubah dan baik meskipun mereka mengakui bahwa di
zaman Nabi maupun setelahnya kegiatan maulid belum pernah diadakan. Hal
itu tak lain merupakan adat Fathimiyyin (Dinasti Fathimiyah).Dalil
kelompok pertama, yaitu bahwa maulid adalah perkara baru yang
diada-adakan (muhdats) dan belum pernah diadakan oleh Rasulullah SAW. Di
dalamnya juga terdapat ikhtilath antara laki-laki dengan perempuan, dan
juga menghambur-hamburkan harta, banyak kegaduhan, berlagu-lagu dengan
Quran dan sahut-sahutan suara para penyanyi, bergadang sampai malam, dan
melalaikan kewajiban.Adapun dalil kelompok kedua, meskipun mereka
mengakui bahwa maulid adalah acara yang dibuat-buat, akan tetapi di situ
terdapat kebaikan dan manfaat bimbingan, pembinaan wawasan dan
pendidikan akhlak. Sama halnya dengan disunnahkannya puasa hari Asyura
(10 Muharram) sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat
keselamatan yang telah diberikan kepada Nabi Musa AS dan kaumnya dari
tenggelam di laut.Demikian pula dengan puasa Senin berdasarkan sabda
Nabi SAW, "Di hari itu aku dilahirkan, diutus dan diturunkan kepadaku
(Quran)". (HR. Ahmad dan Muslim)Tampak jelas dari sini bahwa celaan dan
larangan terhadap maulid ditujukan kepada efek samping yang menyertai
acara maulid itu sendiri, yaitu segala sesuatu yang dilarang agama. Oleh
karena itu, ia menjadi acara bid'ah. Seorang muslim yang ikhlas dan
sadar akan mengatakan hal ini juga. Adapun istihsan yang dikatakan oleh
kelompok kedua, ditujukan kepada faedah-faedah yang diambil dari
diadakannya acara maulid, dengan syarat acara tersebut terbebas dari
hal-hal yang dilarang sebagaimana disebutkan di atas oleh kelompok
pertama. Sehingga acara ini menjadi diperbolehkan dalam rangka
mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan, mengingat-ingat budi pekerti
Rasulullah SAW berdasarkan firman Allah yang artinya, "Dang ingatkanlah
mereka tentang hari-hari Allah" (QS. Ibrahim: 5), yaitu
kejadian-kejadian dan nikmat-nikmat atau mengingat-ingat akhlak
Rasulullah SAW. Dalam keadaan seperti itu, maka acara peringatan maulid
tidak menjadi bid'ah, dan orang yang menghadiri atau melakukannya tidak
dikafirkan karenanya, dengan syarat acara maulid tersebut terbebas dari
pukulan rebana, kendang dan sebagainya, telebih di masjid-masjid. Hal
itu dilarang secara syar'i. Sama seperti halnya acara pekan Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab pada tahun 1399 H/1978 M yang diadakan di
Universitas Islam Muhammad bin Su'ud di Riyadh.Adapun
peringatan-peringatan lainnya seperti Hijrah (permulaan tahun Hijriyah),
Isra Mi'raj pada 27 Rajab, Lailatul Qadr pada 27 Ramadhan, Nisfu
Sya'ban, Ihyaul Lail (menghidupkan suasana malam) secara total, Ihya
Lailatil 'Ied, maka semua itu tidak lain adalah perkara baru yang
diada-adakan (mustahdatsah) yang tidak ada tuntunannya
(sunnahnya).Begitu juga dengan puasa yang dilakukan pada hari-hari
tersebut selain Ramadhan, termasuk mustahdastah juga, jika tidak
terdapat perintah atau anjurannya dalam sunnah.Pelarangan acara semacam
itu merupakan wewenang penguasa (pemerintah) dalam hal-hal yang
diperbolehkan (mubah) serta mengikuti adat-istiadat ('urf), supaya acara
semacam itu tidak sampai dianggap sebagai amalan yang mulia yang
mendatangkan pahala, atau bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lain
halnya dengan keutamaan dua Hari Raya yang disyariatkan dalam Islam,
yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.---selesai---Tambahan dari saya:Ada
beberapa hal yang ingin saya tambahkan dari apa yang ditulis oleh Syaikh
Wahbah di atas.Masalah pertama: Menganggap bahwa peringatan maulid
sebagai hari raya.Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa
tidak ada hari raya dalam Islam kecuali hanya 2 saja: Idul Fitri dan
Idul Adha. Dan ini yang perlu dipahamkan kepada umat. Jika ada yang
menganggap bahwa peringatan maulid sebagai hari raya tambahan dalam
Islam, maka menjadi kewajiban bagi kita untuk menerangkannya, dan sejauh
ini saya belum menemukan orang yang beranggapan bahwa maulid adalah hari
raya.Namun jika menganggap peringatan maulid hanya sebatas sebagai acara
biasa dalam rangka mengenang kembali jasa Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam, serta perjuangan beliau dalam menegakkan dien ini bersama para
sahabat, serta menceritakan kembali pengorbanan mereka hingga tegaknya
dien ini di muka bumi, dengan tujuan agar umat Islam dapat mengambil
hikmah dan ibroh dari kegiatan itu, maka tak ada salahnya. Acara
tersebut tak jauh beda dengan acara seminar, diskusi, simposium atau
pengajian-pengajian keagamaan yang diadakan di zaman sekarang dan tidak
dianggap sebagai bid'ah sebagaimana anggapan sebagian orang.Dalam
surat Al-Anbiya ayat 107, Allah SWT berfirman (artinya):"Dan tiadalah
Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam."Dalam surat At-Taubah ayat 61:Katakanlah: "Ia (Rasulullah)
mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah,
mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang
beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu,
bagi mereka azab yang pedih.Dalam surat Yunus ayat 28:Katakanlah:
"Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa
yang mereka kumpulkan".Tidakkah kita perhatikan dalam ayat-ayat tersebut
keterkaitan antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat
bagi seluruh alam dan perintah untuk bergembira terhadap rahmat itu?Maka
sudah sewajarnya jika umat Islam merasakan kegembiaraan yang tiada tara
dengan dilahirkannya seorang nabi pilihan yang menjadi petunjuk bagi
manusia hingga akhir zaman. Terlebih lagi di zaman ini sebagian umat
Islam sudah semakin jauh dengan agamanya sendiri. Jangankan mengingat
kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, melakukan hal-hal yang
wajib pun sering terlupakan. Oleh karena itu, acara peringatan maulid
setidaknya dapat menyegarkan kembali ingatan umat Islam tentang seorang
nabi agung yang jasanya takkan pernah terlupakan hingga hari
kiamat.Masalah kedua: Mengenai keterkaitan peringatan maulid dengan
pengkultusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.Jika yang dimaksud
pengkultusan di sini adalah sebagaimana yang dilakukan umat Nasrani
terhadap nabi mereka, maka jelas hal ini diharamkan. Namun jika
diadakannya peringatan maulid hanya sebatas mengingat kembali perjalanan
hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menceritakan siroh
beliau (dan itulah yang selama ini sering dilakukan dalam acara maulid),
maka hal itu adalah perbuatan yang terpuji."Dan ingatkanlah mereka
kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak
bersyukur." (QS. Ibrahim: 5)Perbedaan para ulama mengenai tanggal
kelahiran Rasulullah tidak ada sangkut-pautnya dengan hukum memperingati
maulid. Perbedaan tersebut tidak lantas menjadi pengharaman terhadap
peringatan maulid. Lagipula, sejauh ini peringatan maulid tidak
dikhususkan pada tanggal tertentu, melainkan diadakan pada bulan Rabiul
Awwal secara umum.Memang terjadi silang pendapat di antara sebagian
ulama mengenai hukum merayakan maulid. Namun sejauh pengamatan penulis,
perbedaan pendapat tersebut tidak menyangkut esensi peringatan itu
sendiri, melainkan efek sampingnya, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh
Wahbah. Wallahu a'lam.Artikel terkait: Majelis Rasulullah SAW
<http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&f\
unc=view&catid=8&id=13145&lang=id#13145
> Jeddah, 16 Oktober 2011

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&fu\
nc=view&catid=8&id=13145ã
€ˆ=id#13145
<http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&f\
unc=view&catid=8&id=13145&lang=id#13145
>


Forum Majelis Rasulullah
<http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34\
&func=listcat&catid=1
> [0] Forum Masalah Fiqih
<http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34\
&func=showcat&catid=8
> odie


tentang maulid nabi saw - 2008/03/27 04:54assalamualaikum Wr..Wb
sebelum bertanya ana mau sampaikan salam mulia dari teman2 kami cabang
pagujaten
untuk habibina, semoga limpahan rahmat selalu mengalir terus kepada
habibina dan keluarga serta kami para jamaah MR....aminnn..ya
robbal..alamin.
ana mau tanya bib, apakah maulid nabi saw wajib, sunah atau hanya
tradisi aja? apakah ada hadist dan sanadnya?...dan siapakah yang memulai
maulid nabi?...ana mohon maaf bib, pertanyaan ini amanat dari teman ana,
ana sudah coba menjelaskan dari buku habibina yaitu mengenal akidahmu.
tapi teman ana kurang yakin sebelum habibina yang jawab. sebelum dan
sesudahnya ana mohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga habibina bisa
memakluminya. sekali lagi ana doain semoga habibina diberikan kesehatan,
panjang umur serta ilmu yang melimpah agar bisa menjadikan jakarta
serambi mekkah dan menjadikan kami pemuda pemudi yang mengidolakan nabi
muhammad saw. aminnn..ya ..robbal ..alamin. [size=2][/size] | | Silahkan
login terlebih dahulu untuk bertanya
Warning: Wrong parameter count for trim() in
/home/content/77/3476277/html/components/com_simpleboard/view.php on
line 606
admin


Re:tentang maulid nabi saw - 2008/03/27 07:05walaikumsalam wr wb,
berikut jawaban Hb Munzir atas pertanyaan yg sudah ada:
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Keridhoan dan kelembutan Nya semoga selalu membuka jalan kemudahan pada
hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
mengenai hukum maulid telah saya jawab dengan gamblang, dan saya juga
telah menjawab banyak masalah masalah bid;ah, tawassul, tahlil dll pada
buku karangan saya : "Kenalilah Aqidahmu" yg bisa dipesan di web ini
melalui sekertariat kami,

mengenai maulid berikut saya lampirkan artikel saya yg di buku tsb :

PERINGATAN MAULID NABI SAW

ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat
bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok
muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara `Aqlan wa
syar'an, (logika dan syariah).

Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira,
apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka
merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang,
lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat
istiadat diseluruh dunia.

Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran
Rasul saw.

Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
• Firman Allah : "(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam
sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku
dibangkitkan" (QS Maryam 33)
• Firman Allah : "Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as)
dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan" (QS
Maryam 15)
• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala
shahihain hadits no.4177)
• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi
pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat
saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga
ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang
benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya
kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah
Ibn Hisyam)
• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw
saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga
pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari
Almasyhur juz 6 hal 583)
• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan
runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di
Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur
juz 6 hal 583)

Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian
kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt
telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini,
sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran
Nabi nabi sebelumnya.

Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw
menjawab : "Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku
dibangkitkan" (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini
sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal
dg puasa.

Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda
dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah
hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya :
"oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..", namun
beliau bersabda : "itu adalah hari kelahiranku", menunjukkan
bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari
hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir :
"bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?", maka
amir menjawab : "oh itu hari kelahiran saya". Nah.. bukankah
jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda
dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas
bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini
termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh
dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1
januari adalah hari kelahirannya,

dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan
kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban
beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh
diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah
hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan
maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman
terhadap ilmu bahasa.

Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?,
Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari
kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus
diperbolehkannya puasa dihari itu.
Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari
kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah
bangkitnya islam.

Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : "Izinkan aku memujimu wahai
Rasulullah.." maka Rasul saw menjawab: "silahkan..,maka Allah
akan membuat bibirmu terjaga", maka Abbas ra memuji dg syair yg
panjang, diantaranya : "… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari
kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan
langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu
dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur'an) kami terus
mendalaminya" (Mustadrak `ala shahihain hadits no.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam
mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : "bagaimana keadaanmu?",
abu lahab menjawab : "di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap
senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas
kelahiran Rasul saw" (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam
Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi'bul iman no.281, fathul baari
Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam
barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau
menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya
setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan
membebaskan budaknya.

Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum
syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan
lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka
tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam
imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita
bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak
mengingkarinya.

Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur
oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : "aku sudah baca syair nasyidah
disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi
saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata :
"bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah
bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata :
"betul" (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits
no.2485)

Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram,
sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di
masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa
pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan
Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan
didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak
riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar
khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk
melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058,
sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada
beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata
: "Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan
Rasulullah saw"(Musnad Abu Ya'la Juz 8 hal 337).


Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah mereka
yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum
matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000
hadits dengan sanad dan hukum matannya.

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi
saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura
(10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : "hari
ini hari ditenggelamkannya Fir'aun dan Allah menyelamatkan Musa,
maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda
Rasul saw : "kita lebih berhak atas Musa as dari kalian", maka
diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada
suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa
didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah,
membaca Alqur'an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi
ini?, telah berfirman Allah swt "SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN
ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI
MEREKA" (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw
ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi
(Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi
Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah
untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah
tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg
kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah
swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil'aalamiin
dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk
menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan
teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg
serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan
Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid
dengan nama : "Husnulmaqshad fii `amalilmaulid".

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid'ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan
yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak
bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal
itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw,
dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra' Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah
dalam kitabnya `Urif bitta'rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa
keadaanmu?, ia menjawab : "di neraka, tapi aku mendapat keringanan
setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah
demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah
menyusuinya (saw)" (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg
Alqur'an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia
gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat
Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku,
sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan
dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam
kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dg ucapan Imamul Qurra' Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu
menukil hadits Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
berkata "tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga,
tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di
seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam
sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap
mereka keberkahan yg sangat besar".

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : "ketahuilah salah satu
bid'ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi
saw"

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal "al aruus" juga beliau
berkata tentang pembacaan maulid, "Sesungguhnya membawa keselamatan
tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan
bagi siapa yg membacanya serta merayakannya".

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab
al islami berkata: "Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang
yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar".

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg
terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
dg karangan maulidnya yg bernama "Attanwir fi maulid basyir an
nadzir"

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
dg maulidnya "urfu at ta'rif bi maulid assyarif"

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : "maulid ibn
katsir"

13. Imam Al Hafidh Al 'Iraqy
dg maulidnya "maurid al hana fi maulid assana"

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami' al astar fi maulid nabi al
mukhtar 3 jilid, Al lafad arra'iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud
asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy
dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As
syaibaniy yg terkenal dg ibn diba'
dg maulidnya addiba'i

18. Imam ibn hajar al haitsami
dg maulidnya itmam anni'mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri
mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari'
dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja'far bin Hasan Al barzanji
dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
dg maulid Al yaman wal is'ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
dg maulid jawahir an nadmu al badi' fi maulid as syafi'

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
dg maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi"

27. Syihabuddin Al Halwani
dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
dg maulid Al Kaukab al azhar alal `iqdu al jauhar fi maulid nadi al
azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy
dg maulid nur as shofa' fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi
dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang
hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg
menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka
mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu,
dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam
menghancurkan Islam.

Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada
Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah
pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg
dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan
ketika sa'ad bin Mu'adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada
kaum anshar : "Berdirilah untuk tuan kalian" (shahih Bukhari
hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya
Thalhah ra untuk Ka'b bin Malik ra.

Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana
yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan
untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan
berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg
baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk
pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk
penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan
putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg
melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11
dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk
menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila
Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila
sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap
duduk dg santai..

Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam
membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan
itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas
dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan
pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa
disyarahkan dengan hukum dhohir,
semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri
penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk
memuliakan beliau saw.

Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau
saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita
adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam
pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah,
seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama
para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg
padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair
itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam
imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah
perbuatan mereka itu sebagai panutan,
dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid'ah
hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg
sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab
Bid'ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan
tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu
Bid'ah hasanah,

Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga
hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan
agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg
mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin
untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah
islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji
pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw,
dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua
maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam
ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya
karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan
muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin
aqlan wa syar'an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini
merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa
"Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib", semua yg menjadi
penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.

contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam
shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu
waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju
penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya
berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg
wajib .

contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju
hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak
dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong
baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita
menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg
hukumnya sunnah.

Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah,
dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam
kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula
perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau
saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi
saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara
Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta
silaturahmi.

Sebagaimana penulisan Alqur'an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman
nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena
sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur'an, dan menjadi
wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena
ditakutkan sirnanya Alqur'an dari ummat, walaupun Allah telah
menjelaskan bahwa Alqur'an telah dijaga oleh Allah.

Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para
khulafa'urrasyidin, sahabat radhiyallahu'anhum, Imam dan
Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun
hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk
menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan,
amiin.

Walillahittaufiq

mengenai kejelasan hukum Bid'ah dll telah saya jelaskan dg rinci pada
buku saya : "Kenalilah Akidahmu".

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam


http://sawanih.blogspot.com/2012/01/kitab-kitab-mawlid-nabi-saw-sepanjan\
g.html

<http://sawanih.blogspot.com/2012/01/kitab-kitab-mawlid-nabi-saw-sepanja\
ng.html
>

THURSDAY, JANUARY 26, 2012Kitab-kitab Mawlid Nabi SAW Sepanjang
ZamanEditor: Blog al-Faqir Ila Rabbih Ta'ala
<http://www.blogger.com/profile/08374322457903125061> - Date: 26.1.12
<http://sawanih.blogspot.com/2012/01/kitab-kitab-mawlid-nabi-saw-sepanja\
ng.html
> [13]
<http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=5281356769078497993&postID=5\
805211091927578898> [border-top-width: 0px;border-right-width:
0px;border-bottom-width: 0px;border-left-width: 0px;border-style:
initial;border-color: initial;border-top-style: none;border-right-style:
none;border-bottom-style: none;border-left-style: none;]
<http://1.bp.blogspot.com/-7p7xjALYhjU/TyEg9uCr8wI/AAAAAAAABYY/-pH_zpPHY\
QI/s1600/4741archaeology.JPG
>
Oleh: Mohd. Khafidz Soroni
Meneliti kembali sejarah, ditemukan ramai ulama yang begitu mengambil
berat berhubung topik mawlid Nabi SAW. Topik mawlid sebenarnya
sebahagian daripada ilmu sirah Nabi SAW. Namun, lama-kelamaan ia menjadi
satu disiplin penulisan yang mempunyai konsep sedikit berbeza dengan
kitab-kitab sirah. Di mana banyak kitab-kitab mawlid ini ditulis dengan
gubahan gayabahasa yang tinggi, puitis dan berima.Mawlid Nabi SAW
merupakan suatu topik yang dapat dianggap evergreendi sepanjang zaman.
Ini kerana ia datang pada setiap tahun pada bulan Rabiul Awwal. Soal
setuju atau tidak setuju menyambutnya menjadi isu yang masyhur di
kalangan ahli ilmu. Bagaimanapun, menceritakan keindahan peribadi dan
riwayat hidup Nabi SAW bagi orang yang cinta tidak akan mendatangkan
rasa jemu dan bosan. Apatah lagi seseorang itu akan bersama dengan orang
yang dikasihi dan dicintai di akhirat kelak.Berdasarkan kajian, didapati
amat banyak kitab-kitab yang telah dikarang oleh para alim ulama
berkaitan mawlid Nabi SAW. Berikut adalah sebahagian di antara
kitab-kitab berkenaan yang disusun menurut kronologi:Abad Ketiga
HijrahMenurut al-`Allamah Sayyid Ahmad al-Ghumari di dalam kitabnya
Ju'nah al-`Attar (hlm. 12-13):1- "Orang pertama yang aku
tahu telah menyusun mengenai mawlid ialah Muhammad bin `Umar
al-Waqidi, pengarang kitab al-Maghazi dan kitab al-Futuh, meninggal
dunia tahun 206 H, dan ada yang menyebut 209 H. Beliau mempunyai dua
buah kitab tentangnya, iaitu kitab al-Mawlid al-Nabawi dan kitab Intiqal
al-Nur al-Nabawi, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Suhaili di dalam
al-Rawdh sebahagian daripadanya.2- Demikian juga telah menyusun mengenai
mawlid dari kalangan ulama terdahulu; al-Hafiz Abu `Abdillah
Muhammad bin `A'id, pengarang al-Sirah yang masyhur, meninggal
dunia tahun 233 H.3- Dan al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi `Asim, pengarang
banyak kitab, meninggal dunia tahun 287 H" – tamat nukilan.Kitab
al-Hafiz Abu Bakr ibn Abi `Asim ini pernah diriwayatkan oleh Imam
al-Ghazali. Kata muridnya al-Hafiz `Abd al-Ghafir al-Farisi (w.
529H) mengenai gurunya itu: "Beliau telah mendengar berbagai-bagai
hadis secara formal bersama-sama para fuqaha'. Antara yang saya
temukan bukti sama`nya ialah apa yang beliau dengar daripada kitab
Mawlid al-Nabi SAW karangan Abu Bakr Ahmad bin `Amr ibn Abi
`Asim al-Syaybani, riwayat al-Imam Syeikh Abu Bakr Muhammad bin
al-Harith al-Asbahani, dari Abu Muhammad `Abdullah bin Muhammad bin
Ja`far ibn Hayyan, dari pengarangnya. Imam al-Ghazali telah
mendengarnya dari Syeikh Abu `Abd Allah Muhammad ibn Ahmad
al-Khawari - Khawar Tabaran - rahimahullah, bersama-sama dua orang
anaknya, Syeikh `Abd al-Jabbar dan Syeikh `Abd al-Hamid serta
sekumpulan para fuqaha'… Kitab tersebut di dalam dua juzuk yang
didengar oleh beliau". (Tabaqat al-Syafi`iyyah al-Kubra,
6/212-214)Abad Keempat dan Kelima HijrahKarya-karya mawlid di dalam abad
keempat dan abad kelima setakat ini belum lagi ditemukan oleh al-faqir
penulis. Jika ada, mohon diberitahu. Namun, penulisan mengenai mawlid
ini berterusan di kalangan ramai ulama pada abad-abad kemudiannya.Abad
Keenam Hijrah4- al-Durr al-Munazzam fi Mawlid al-Nabi al-A`zam oleh
al-`Allamah Abu al-`Abbas Ahmad bin Mu`id bin `Isa
al-Uqlisyi al-Andalusi (w. 550H).5- al-`Arus oleh al-Hafiz Abu
al-Faraj `Abd al-Rahman bin `Ali al-Hanbali, yang terkenal
dengan panggilan Ibnu al-Jawzi (w. 597H). Kitab ini telah disyarah oleh
Syeikh Muhammad Nawawi bin `Umar bin `Arabi al-Jawi (w. 1315H)
dengan judul: (بغية العوام في شرح
مولد سيد الأنام عليه
الصلاة والسلام المنسوبة
لابن الجوزي) atau (البلوغ
الفوزي لبيان ألفاظ مولد
ابن الجوزي).Abad Ketujuh Hijrah6- al-Tanwir min
Mawlid al-Siraj al-Munir oleh al-Hafiz Abu al-Khattab ibn Dihyah
al-Kalbi (w. 633 H). Beliau telah menghadiahkan kitab ini kepada
al-Malik al-Muzaffar, raja Arbil yang selalu menyambut malam mawlid Nabi
SAW dan siangnya dengan sambutan meriah yang tidak pernah didengar
seumpamanya. Baginda telah membalas beliau dengan ganjaran hadiah yang
banyak.7- (المولد النبوي) oleh al-Syeikh
al-Akbar Muhyi al-Din Muhammad bin `Ali ibn al-`Arabi al-Hatimi
(w. 638H).8- `Urfu al-Ta`rif bi al-Mawlid al-Syarif oleh Imam
al-Hafiz Abu al-Khair Syams al-Din Muhammad bin `Abd Allah al-Jazari
al-Syafi`i (w. 660H).9- (الدر النظيم في
مولد النبي الكريم) oleh Syeikh Abu
Ja`far `Umar bin Ayyub bin `Umar ibn Arsalan al-Turkamani
al-Dimasyqi al-Hanafi, yang dikenali dengan nama Ibn Taghru Bik (w.
670H).10- (ظل الغمامة في مولد
سيد تهامة) oleh Syeikh Ahmad bin `Ali bin Sa`id
al-Gharnati al-Maliki (w. 673H).11- (الدر المنظم
في مولد النبي المعظم) oleh
al-`Allamah Abu al-`Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Husain
al-`Azfi. Ia disempurnakan oleh anaknya, Abu al-Qasim Muhammad (w.
677H).Abad Kelapan Hijrah12- (المورد العذب
المعين/ الورد العذب المبين
في مولد سيد الخلق أجمعين)
oleh Syeikh Abu `Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad
al-`Attar al-Jaza'iri (w. 707H).13- (المنتقى
في مولد المصطفى) oleh Syeikh Sa`d
al-Din Muhammad bin Mas`ud al-Kazaruni (w. 758H). Ia di dalam bahasa
Parsi, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh anaknya, Syeikh
`Afif al-Din.14- (الدرة السنية في
مولد خير البرية) oleh al-Hafiz Salah al-Din
Khalil ibn Kaykaldi al-`Ala'i al-Dimasyqi (w. 761H).15- Mawlid
al-Nabi SAW oleh Imam al-Hafiz `Imad al-Din Isma`il bin
`Umar ibn Kathir (w. 774H). Ia telah ditahqiq oleh Dr. Solah al-Din
al-Munjid. Ia juga telah disyarahkan oleh al-Sayyid Muhammad bin Salim
bin Hafiz, mufti Tarim, dan diberi komentar oleh al-Sayyid Muhammad bin
`Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.16-
Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Sulayman bin `Awadh Basya al-Barusawi
al-Hanafi (w. sekitar 780H), imam dalam wilayah Sultan Bayazid
al-`Uthmani.17- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad ibn
`Abbad al-Randi al-Maliki (w. 792H), pengarang Syarah al-Hikam.Abad
Kesembilan Hijrah18- al-Mawrid al-Hani fi al-Mawlid al-Sani oleh
al-Hafiz `Abd al-Rahim bin Husain bin `Abd al-Rahman, yang
terkenal dengan nama al-Hafiz al-Iraqi (w. 808 H).19-
(النفحة العنبرية في مولد
خير البرية صلى الله عليه
وسلم) oleh al-`Allamah Majd al-Din Muhammad bin Ya`qub
al-Fairuz abadi (w. 817H).20- (جامع الآثار في
مولد المختار) oleh al-Hafiz Muhammad ibn Nasir
al-Din al-Dimasyqi (w. 842H). Ia di dalam 3 juzuk. Beliau juga telah
menulis dua buah kitab mawlid lain, iaitu: (المورد
الصادي في مولد الهادي) dan
(اللفظ الرائق في مولد خير
الخلائق).21- (تحفة الأخبار في
مولد المختار) oleh al-Hafiz Ahmad ibn Hajar
al-`Asqalani (w. 852H), dicetak di Dimasyq tahun 1283H.22- Mawlid
al-Nabi SAW oleh Syeikh `Afif al-Din Muhammad bin Muhammad bin
`Abd Allah al-Husayni al-Tibrizi (w. 855H).23- (الدر
المنظم في مولد النبي
المعظم) oleh Syeikh Syams al-Din Muhammad bin `Uthman
bin Ayyub al-Lu'lu'i al-Dimasyqi al-Hanbali (w. 867H). Ia di
dalam 2 jilid, dan kemudian telah diringkaskan dengan judul
(اللفظ الجميل بمولد النبي
الجليل).24- (درج الدرر في
ميلاد سيد البشر) oleh Syeikh Asil al-Din
`Abdullah bin `Abd al-Rahman bin `Abd al-Latif al-Husayni
al-Syirazi (w. 884H).25- (المنهل العذب
القرير في مولد الهادي
البشير النذير صلى الله
عليه وسلم) oleh al-`Allamah Abu al-Hasan
`Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardawi al-Maqdisi (w. 885H), syeikh
Hanabilah di Dimasyq.26- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid `Umar bin
`Abd al-Rahman bin Muhammad Ba`alawi al-Hadhrami (w. 889H).Abad
Kesepuluh Hijrah27- al-Fakhr al-`Alawi fi al-Mawlid al-Nabawi oleh
al-Hafiz Syams al-Din Muhammad bin `Abd al-Rahman yang terkenal
dengan nama al-Hafiz al-Sakhawi (w. 902H).28- (درر
البحار في مولد المختار) oleh
Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin `Abd al-Rahman bin `Abd al-Karim
al-Nabulusi, yang masyhur dengan nama Ibn Makkiyyah (w. 907H).29-
Al-Mawarid al-Haniyyah fi Mawlid Khair al-Bariyyah oleh al-`Allamah
al-Sayyid `Ali Zain al-`Abidin al-Samhudi al-Hasani (w.
911H).30- (المرود الأهنى في
المولد الأسنى) oleh Syeikhah `A'isyah
bint Yusuf al-Ba`uniyyah (w. 922H). Barangkali ini satu-satunya
kitab mawlid karya seorang syeikhah!31- (الكواكب
الدرية في مولد خير البرية)
oleh Syeikh Taqiy al-Din Abu Bakr bin Muhammad bin Abi Bakr al-Hubaisyi
al-Halabi al-Syafi`i (w. 930H).32- Mawlid al-Nabi SAW oleh Mulla
`Arab al-Wa`iz (w. 938H).33- Mawlid al-Nabi SAW atau Mawlid
al-Daiba`i oleh al-Muhaddith Syeikh `Abd al-Rahman bin `Ali
bin Muhammad bin 'Umar al-Daiba`i al-Syafi`i (w. 944H), murid
al-Hafiz al-Sakhawi. Mawlid al-Daiba`i ini antara kitab mawlid yang
banyak dibaca orang sehingga kini. Ia telah ditahqiq dan ditakhrij
hadisnya oleh al-`Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin `Alawi
al-Maliki.34- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh `Abd
al-Karim al-Adranahwi al-Khalwati (w. 965H).35- Itmam al-Ni`mah
`ala al-`Alam bi Mawlid Sayyid Walad Adam dan al-Ni`mah
al-Kubra `ala al-`Alam fi Mawlid Sayyid Walad Adam oleh Imam
al-`Allamah Ahmad ibn Hajar al-Haytami al-Makki al-Syafi`i (w.
974H). Ia telah disyarah oleh beberapa ulama, antaranya oleh:- Syeikh
Muhammad bin `Ubadah bin Barri al-`Adawi al-Maliki (w. 1193H)
(حاشية على مولد النبي
لابن حجر).- Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri
al-Syafi`i (w. 1277H), Syeikhul Azhar dengan kitabnya (تحفة
البشر على مولد ابن حجر).- Syeikh
Hijjazi bin `Abd al-Muttalib al-`Adawi al-Maliki (w. sesudah
1211H) (حاشية على مولد
الهيثمي).- Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Mansuri
al-Syafi`i al-Khayyat (اقتناص الشوارد
من موارد الموارد في شرح
مولد ابن حجر الهيتمي), selesai
tahun 1166H.Ibn Hajar al-Haytami juga telah mengarang kitab
(تحرير الكلام في القيام
عن ذكر مولد سيد الأنام)
tentang masalah bangun berdiri ketika bermawlid.36- Mawlid al-Nabi SAW
oleh al-`Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib al-Syirbini
al-Syafi`i (w. 977H).37- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-`Allamah
Syeikh Najm al-Din Muhammad bin Ahmad bin `Ali al-Ghiti
al-Syafi`i (w. 981H). Ia telah disyarahkan oleh Syeikh `Ali bin
`Abd al-Qadir al-Nabtini al-Hanafi (w. 1061H) (شرح على
مولد النجم الغيطي).Abad Kesebelas
Hijrah38- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Syams al-Din Ahmad bin Muhammad
bin `Arif al-Siwasi al-Hanafi (w. 1006H).39- al-Mawrid al-Rawi fi
al-Mawlid al-Nabawi oleh al-`Allamah Nur al-Din `Ali bin Sultan
al-Qari al-Harawi al-Hanafi (w. 1014H). Kitab ini telah ditahqiq oleh
al-`Allamah Dr. al-Sayyid Muhammad bin `Alawi al-Maliki.40-
(المنتخب المصفي في أخبار
مولد المصطفى) oleh al-`Allamah al-Sayyid
`Abd al-Qadir bin Syeikh bin `Abd Allah bin Syeikh
al-`Aidarusi (w. 1038H).41- (مورد الصفا في
مولد المصطفى صلى الله
عليه وسلم) oleh al-`Allamah Muhammad `Ali
bin Muhammad Ibn `Allan al-Bakri al-Siddiqi al-Makki al-Syafi`i
(w. 1057H).Abad Kedua Belas Hijrah42- (الجمع الزاهر
المنير في ذكر مولد
البشير النذير) oleh Syeikh Muhammad bin Nasuh
al-Askadari al-Khalwati, yang masyhur dengan nama Nasuhi al-Rumi (w.
1130H).43- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-`Allamah Muhammad bin Ahmad
bin Sa`id, yang masyhur dengan nama Ibn `Aqilah al-Makki (w.
1150H).44- Mawlid al-Nabi SAW nazam Turki oleh Syeikh Sulaiman bin
`Abd al-Rahman bin Solih al-Rumi (w. 1151H).45- (المورد
الروي في المولد النبوي) oleh
Syeikh Qutb al-Din Mustafa bin Kamal al-Din bin `Ali al-Siddiqi
al-Bakri al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1162H). Beliau turut menyusun kitab
(منح المبين القوي في ورد
ليلة مولد النبوي).46-
(الكلام السني المصفى في
مولد المصطفى) oleh Syeikh al-Qurra'
`Abdullah Hilmi bin Muhammad bin Yusuf al-Hanafi al-Muqri al-Rumi,
yang masyhur dengan nama Yusuf Zadah (w. 1167H).47- (رسالة
في المولد النبوي) oleh Syeikh Hasan bin
`Ali bin Ahmad al-Mudabighi al-Syafi`i (w. 1170H). Kitab ini
telah diberi hasyiah oleh:- Syeikh `Umar bin Ramadhan bin Abi Bakr
al-Thulathi (w. sesudah 1164H).- Syeikh `Abd al-Rahman bin Muhammad
al-Nahrawi al-Muqri (w. 1210H).48- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad
bin `Uthman al-Diyar bakri al-Amidi al-Hanafi (w. 1174H).49- Mawlid
al-Nabi SAW oleh Syeikh `Abdullah bin Muhammad Nida'i
al-Kasyghari al-Naqsyabandi al-Zahidi (w. 1174H).50- Mawlid al-Barzanji
atau (عقد الجوهر في مولد
النبي الأزهر) oleh al-Sayyid Ja`far bin Hasan
al-Barzanji (w. 1177H), mufti Syafi`iyyah di Madinah. Kitab ini
adalah antara kitab mawlid yang termasyhur. Saudara pengarangnya,
al-Sayyid `Ali bin Hasan al-Barzanji (w. 11xxH) telah menggubahnya
menjadi nazam. Ia juga telah diberi hasyiah oleh beberapa ulama,
antaranya:- Al-`Allamah Syeikh Muhammad bin Ahmad `Illisy (atau
`Ulaisy) al-Syazili al-Maliki (w. 1299H) dengan judul
(القول المنجي حاشية على
مولد البرزنجي).- al-Sayyid Ja`far bin
Isma`il al-Barzanji (w. 1317H), mufti Syafi`iyyah di Madinah
dengan judul (الكوكب الأنور على
عقد الجوهر في مولد النبي
الأزهر).- Syeikh Muhammad Nawawi bin `Umar bin `Arabi
al-Bantani al-Jawi (w. 1315H) dengan judul (مدارج
الصعود إلى اكتساء البرود) atau
(أساور العسجد على جوهر عقد
للبرزنجى) dan juga (ترغيب
المشتاقين لبيان منظومة
السيد البرزنجي في مولد
سيد الأولين والآخرين).- Syeikh
`Abd al-Hamid bin Muhammad `Ali Kudus yang diberi judul:Mawlid
al-Nabi SAW `ala Nasij al-Barzanji.- Syeikh Mustafa bin Muhammad
al-`Afifi al-Syafi`i yang diberi judul (فتح
اللطيف شرح نظم المولد
الشريف), dicetak di Mesir tahun 1293H.Kitab al-Barzanji ini
juga telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan berbagai bahasa lain.51-
Mawlid al-Nabi SAW oleh al-Sayyid Muhammad bin Husain al-Jufri al-Madani
al-`Alawi al-Hanafi (w. 1186H).52- (المولد
الشريف) oleh Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Maghribi
al-Tafilati al-Khalwati (w. 1191H), mufti Hanafiyyah di al-Quds.53-
Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh `Abd al-Rahman bin `Abd
al-Mun`im al-Khayyat (w. 1200H), mufti wilayah Sa`id, Mesir.54-
(الدر الثمين في مولد سيد
الاولين والآخرين) oleh Syeikh Muhammad bin
Hasan bin Muhammad al-Samannudi al-Syafi`i, yang masyhur dengan nama
al-Munayyir (w. 1199H).55- (الدر المنظم شرح
الكنز المطلسم في مولد
النبي المعظم) oleh Syeikh Abu Syakir
`Abdullah Syalabi, selesai tahun 1177H.Abad Ketiga Belas Hijrah56-
(المولد النبوي) oleh Imam Abu al-Barakat Ahmad
bin Muhammad al-`Adawi al-Dardir al-Maliki (w. 1201H). Kitab beliau
ini telah diberi hasyiaholeh:- al-`Allamah Muhammad al-Amir
al-Saghir bin Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki (w. sesudah 1253H)
(حاشية على مولد الدردير).-
al-`Allamah Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri
al-Syafi`i (w. 1277H).- Syeikh Yusuf bin `Abd al-Rahman
al-Maghribi (w. 1279H), bapa Muhaddith al-Syam Syeikh Badr al-Din
al-Hasani dengan judul (فتح القدير على
ألفاظ مولد الشهاب
الدردير).57- (تذكرة أهل الخير
في المولد النبوي) oleh al-Sayyid
Muhammad Syakir bin `Ali al-`Umari al-Fayyumi, yang masyhur
dengan nama al-`Aqqad al-Maliki (w. 1202H).58- Mawlid al-Nabi SAW
nazam Turki oleh Syeikh Najib al-Din `Abd al-Qadir bin `Izz
al-Din Ahmad al-Qadiri al-Hanafi yang masyhur dengan nama Asyraf Zadah
al-Barsawi (w. 1202H).59- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh `Ali bin
`Abd al-Barr al-Husaini al-Wana'i al-Syafi`i (w. 1212H),
murid al-Hafiz Murtadha al-Zabidi.60- (منظومة في
مولد النبي صلى الله
عليه وسلم) oleh Syeikh Mustafa Salami bin
Isma`il Syarhi al-Azmiri (w. 1228H).61- (الجواهر
السنية في مولد خير البرية
صلى الله عليه وسلم) oleh
al-`Allamah Syeikh Muhammad bin `Ali al-Syanawani al-Syafi`i
(w. 1233H).62- (مطالع الأنوار في
مولد النبي المختار صلى
الله عليه وسلم) oleh Syeikh `Abdullah
bin `Ali Suwaydan al-Damliji al-Syazili al-Syafi`i (w.
1234H).63- (تأنيس أرباب الصفا في
مولد المصطفى) oleh al-Sayyid `Ali bin
Ibrahim bin Muhammad bin Isma`il al-Amir al-San`ani al-Zaydi (w.
sekitar 1236H).64- (تنوير العقول في
أحاديث مولد الرسول) oleh Syeikh Muhammad
Ma`ruf bin Mustafa bin Ahmad al-Husaini al-Barzanji al-Qadiri
al-Syafi`i (w. 1254H).65- (مولد نبوي
نظم) oleh Syeikh Muhammad Abu al-Wafa bin Muhammad bin `Umar
al-Rifa`i al-Halabi (w. 1264H).66- (السر
الرباني في مولد النبي) oleh
Syeikh Muhammad `Uthman bin Muhammad al-Mirghani al-Makki al-Husaini
al-Hanafi (w. 1268H).67- (قصة المولد
النبوي) oleh Syeikh Muhammad bin `Abd Allah Talu
al-Dimasyqi al-Hanafi (w. 1282H).68- Al-Mawrid al-Latif fi al-Mawlid
al-Syarif oleh Syeikh `Abd al-Salam bin `Abd al-Rahman al-Syatti
al-Hanbali (w. 1295H). Ia berbentuk gubahan qasidah ringkas.69-
(مطالع الجمال في مولد
إنسان الكمال) oleh Syeikh Muhammad bin al-Mukhtar
al-Syanqiti al-Tijani (w. 1299H).70- (سمط جوهر في
المولد النبوي) oleh Syeikh Ahmad `Ali
Hamid al-Din al-Surati al-Hindi (w. 1300H). Beliau mengarang kitab ini
dalam sekitar 100 muka surat tanpa menggunakan huruf alif!71- Mawlid
al-Nabi SAW oleh Syeikh Ahmad bin Qasim al-Maliki al-Hariri. Kitab ini
telah disyarah oleh:- Syeikh Abu al-Fawz Ahmad bin Muhammad Ramadhan
al-Marzuqi al-Husayni al-Maliki (masih hidup tahun 1281H) dengan judul:
(بلوغ المرام لبيان ألفاظ
مولد سيد الأنام), cetakan Mesir tahun
1286H.- Syeikh Muhammad Nawawi bin `Umar bin `Arabi al-Bantani
al-Jawi (w. 1315H) dengan judul: (فتح الصمد
العالم على مولد الشيخ
أحمد بن قاسم), cetakan Mesir tahun 1292H.72-
Mawlid Nabi SAW oleh al-`Allamah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani
(w. 1263 @ 1297H), diselesaikan pada tahun 1230H. Beliau turut menyusun
sebuah lagi kitab mawlid yang hanya diberi tajuk al-Muswaddah,
diselesaikan pada tahun 1234H. (Wawasan Pemikiran Islam 4 - Hj. Wan
Mohd. Saghir, h. 132)73- Kanz al-'Ula [fi Mawlid al-Mustafa?] oleh
Syed Muhammad bin Syed Zainal Abidin al-`Aidarus yang terkenal
dengan nama Tokku Tuan Besar Terengganu (w. 1295H).Abad Keempat Belas
Hijrah74- Mawlid al-Nabi SAW oleh al-`Allamah al-Muhaddith al-Sufi
Abu al-Mahasin Muhammad bin Khalil al-Qawuqji al-Tarabulusi (w.
1305H).75- (سرور الأبرار في مولد
النبي المختار صلى الله
عليه وسلم) oleh Syeikh `Abd al-Fattah bin
`Abd al-Qadir al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi`i (w. 1305H).76-
(العلم الأحمدي في المولد
المحمدي) oleh Syeikh Syihab al-Din Ahmad bin Ahmad
Isma`il al-Hilwani al-Khaliji al-Syafi`i (w. 1308H).77-
(منظومة في مولد النبي
صلى الله عليه وسلم) oleh Syeikh
Ibrahim bin `Ali al-Ahdab al-Tarabulusi al-Hanafi (w. 1308H).78-
Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad Hibatullah bin `Abd al-Qadir
al-Khatib al-Dimasyqi al-Syafi`i (w. 1311H).79- (الإبريز
الداني في مولد سيدنا
محمد السيد العدناني صلى
الله عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad
Nawawi bin `Umar bin `Arabi al-Bantani al-Jawi (w. 1315H).
Beliau juga telah mengarang kitab:- (بغية العوام
في شرح مولد سيد الأنام
عليه الصلاة والسلام
المنسوبة لابن الجوزي),-
(مدارج الصعود إلى اكتساء
البرود) atau (أساور العسجد على
جوهر عقد للبرزنجى) dan juga-
(ترغيب المشتاقين لبيان
منظومة السيد البرزنجي في
مولد سيد الأولين
والآخرين).80- (تحفة العاشقين
وهدية المعشوقين في شرح
تحفة المؤمنين في مولد
النبي الأمين - صلى الله
عليه وسلم) oleh Syeikh Muhammad Rasim bin `Ali
Ridha al-Mullatiyah-wi al-Hanafi al-Mawlawi (w. 1316H).81-
(قدسية الأخبار في مولد
أحمد المختار) oleh Syeikh Muhammad Fawzi bin
`Abd Allah al-Rumi (w. 1318H), mufti Adrana. Beliau turut menyusun
(إثبات المحسنات في تلاوة
مولد سيد السادات).82- (حصول
الفرج وحلول الفرح في
مولد من أنزل عليه ألم
نشرح) oleh Syeikh Mahmud bin `Abd al-Muhsin al-Husaini
al-Qadiri al-Asy`ari al-Syafi`i al-Dimasyqi, yang masyhur dengan
nama Ibn al-Mawqi` (w. 1321H).83- Simt al-Durar fi Akhbar Mawlid
Khair al-Basyar min Akhlaq wa Awsaf wa Siyar atau Maulid al-Habsyi oleh
al-`Allamah al-Habib `Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (w.
1333H).84- (لسان الرتبة الأحدية) oleh
Syeikh Mahmud bin Muhyi al-Din Abu al-Syamat al-Dimasyqi al-Hanafi (w.
1341H). Ia sebuah kitab mawlid menurut lisan ahli sufi.85- al-Yumnu wa
al-Is`ad bi Mawlid Khair al-`Ibad oleh al-`Allamah
al-Muhaddith Syeikh Muhammad bin Ja`far bin Idris al-Kattani
al-Hasani (w. 1345H), cetakan Maghribi tahun 1345H.86- Jawahir al-Nazm
al-Badi` fi Mawlid al-Syafi` oleh al-`Allamah Syeikh Yusuf
bin Isma`il al-Nabhani (w. 1350H).87- (المولد
النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Sa`id
bin `Abd al-Rahman al-Bani al-Dimasyqi (w. 1351H).88- (شفاء
الأسقام بمولد خير الأنام
صلى الله عليه وسلم) oleh
al-`Allamah Syeikh Muhammad bin Muhammad al-Hajjuji al-Idrisi
al-Hasani al-Tijani (w. 1370H). Ia diringkaskan dengan judul
(بلوغ القصد والمرام في
قراءة مولد الأنام). Beliau turut menyusun
kitab (قصة المولد النبوي
الشريف).89- Mawlid al-Nabi SAW oleh Syeikh Muhammad
al-`Azb bin Muhammad al-Dimyati.90- Mawlid Syaraf al-Anam –
belum ditemukan pengarang asalnya.91- (المولد
النبوي الشريف) oleh Syeikh Muhammad Naja, mufti
Beirut.92- (الجمع الزاهر المنير
في ذكر مولد البشير
النذير) oleh Syeikh Zain al-`Abidin Muhammad
al-`Abbasi al-Khalifati.93- (الأنوار ومفتاح
السرور والأفكار في مولد
النبي المختار) olehAbu al-Hasan Ahmad bin
`Abd Allah al-Bakri.94- (عنوان إحراز
المزية في مولد النبي خير
البرية صلى الله عليه
وسلم) oleh Abu Hasyim Muhammad Syarif al-Nuri.95- (فتح
الله في مولد خير خلق
الله) oleh Syeikh Fathullah al-Bunani al-Syazili
al-Maghribi.96- (مولد المصطفى
العدناني) oleh Syeikh `Atiyyah bin Ibrahim
al-Syaybani, dicetak tahun 1311H.97- (المولد
النبوي) oleh Syeikh Hasyim al-Qadiri al-Hasani al-Fasi.98-
(خلاصة الكلام في مولد
المصطفى عليه الصلاة
والسلام) oleh Syeikh Ridhwan al-`Adl Baybars, dicetak
di Mesir tahun 1313H.99- (المنظر البهي في
مطلع مولد النبي) oleh Syeikh Muhammad
al-Hajrisi.100- (المولد الجليل حسن
الشكل الجميل) oleh Syeikh `Abdullah bin
Muhammad al-Munawi al-Ahmadi al-Syazili, dicetak di Mesir tahun
1300H.101- (المولد النبوي الشريف)
oleh Syeikh `Abd al-Qadir al-Himsi.102- (الفيض
الأحمدي في المولد
المحمدي) oleh Syeikh Ibrahim Anyas (w. 1975).103-
(شفاء الآلام بمولد سيد
الأنام) oleh al-`Allamah Syeikh Idris al-`Iraqi.104-
(شفاء السقيم بمولد النبي
الكريم) oleh Syeikh al-Hasan bin `Umar Mazur.105-
(تنسم النفس الرحماني في
مولد عين الكمال) oleh Syeikh Sa`id
bin `Abd al-Wahid Binnis al-Maghribi.106- al-Sirr al-Rabbani fi
Mawlid al-Nabiy al-`Adnani oleh Syeikh Muhammad al-Bunani
al-Tijani.107- al-Nawafih al-`Itriyyah fi Zikr Mawlid Khayr
al-Bariyyah oleh Syeikh Salah al-Din Hasan Muhammad al-Tijani.Abad
Kelima Belas Hijrah108- al-Rawa'ih al-Zakiyyah fi Mawlid Khayr
al-Bariyyah oleh al-`Allamah Syeikh `Abdullah al-Harari
al-Habsyi (w. 1429H).109- Mawlid al-Hadi SAW oleh Dr. Nuh `Ali
Salman al-Qudhah, mufti Jordan.110- al-Dhiya' al-Lami` bi Zikr
Mawlid al-Nabi al-Syafi` oleh al-`Allamah al-Habib `Umar bin
Hafiz al-Ba`alawi. Ia antara kitab mawlid yang mula luas tersebar,
serta pengarangnya masih hidup.
Imam Muhammad `Abd al-Hayy al-Kittani di dalam kitabnya
al-Ta'alif al-Mawlidiyyah telah menyenaraikan hampir 130 buah kitab
mawlid yang disusun menurut abjad. Manakala Dr. Salah al-Din al-Munjid
telah menyenaraikan sekitar 181 buah kitab mawlid di dalam kitabnya
(معجم ما أُلف عن النبي
محمد صلى الله عليه وسلم).
Namun, kedua-duanya belum dapat saya telaah ketika menulis entri ini.
Dijangkakan masih ada banyak lagi kita mawlid yang tidak disenaraikan.
Sepertimana yang dapat kita lihat, sebahagian besar alim ulama yang
disebutkan adalah tokoh-tokoh ulama tersohor di zaman mereka. Tidak
dinafikan juga bahawa ada setengah kitab mawlid tersebut yang
dipertikaikan nisbahnya kepada pengarangnya. Sekurang-kurangnya jumlah
karya-karya mawlid yang besar ini menunjukkan kepada kita bukti
keharusan memperingati mawlid Nabi SAW di kalangan ramai para alim
ulama.Juga tidak dinafikan bahawa sesetengah kitab-kitab mawlid ini
mengandungi perkara-perkara yang dianggap batil atau palsu oleh
sebahagian ahli ilmu. Namun sangka baik kita kepada
pengarang-pengarangnya, mereka tidak akan memuatkan di dalam kitab-kitab
tersebut perkara-perkara yang mereka yakin akan kepalsuan dan
kebatilannya. Maka, setidak-tidaknya mereka hanya mengandaikan
perkara-perkara tersebut hanya daif sahaja yang harus diguna pakai dalam
bab sirah dan hikayat, selain fadha'il, sepertimana yang masyhur di
dalam ilmu mustalah al-hadith. Setengahnya pula adalah masalah yang
menjadi khilaf di kalangan para ulama. Justeru, agak keterlaluan jika
ada yang melabelkan kebanyakan kitab-kitab tersebut sebagai sesat,
munkar dan bidaah secara keseluruhan dengan tujuan untuk menyesat dan
membidaahkan para pengarangnya. Sedangkan kritikan tersebut dapat dibuat
dengan cara yang lebih berhemah dan beradab. Semoga Allah SWT memberi
kita petunjuk.PenutupDemikian secara ringkas, alim ulama yang mengarang
kitab-kitab mawlid dari abad kedua hijrah hinggalah abad kelima belas
hijrah, iaitu dalam tempoh sekitar 1,200 tahun. Ini tidak termasuk
kitab-kitab berhubung isu dan hukum bermawlid, serta karya-karya madih
nabawi seperti Burdah al-Busiri yang jumlahnya juga cukup banyak untuk
dihitung. Penyusunan kitab-kitab mawlid mengandungi tujuan yang
sewajarnya disematkan dalam hati-hati para pembacanya, iaitu mengiktiraf
nikmat besar yang dibawa oleh Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW kepada
umatnya, di samping menanamkan kecintaan yang tidak berbelah bahagi
kepada baginda SAW. Hasil daripadanya ialah mengikut dan mengamalkan
sunnah-sunnah baginda SAW serta berpegang teguh dengannya di dalam
menjalani kehidupan duniawi.Wallahu a`lam.اللهمَÙ`
صلÙ` وسلÙ`Ù… وبارك على
سيÙ`دنا محمÙ`د وعلى آله


nukilan dari
http://al-fanshuri.blogspot.com/2012/01/mari-kita-meperbaharui-baiah.htm\
l
<http://al-fanshuri.blogspot.com/2012/01/mari-kita-meperbaharui-baiah.ht\
ml>
Nah saudara-saudaraku, para pembela Rasulullah صلى
الله عليه وآله وسلم jadikan 12
Rabiulawwal adalah sumpah setiamu pada Nabimu Muhammad صلى
الله عليه وآله وسلم, Sumpah
Cintamu pada Rasulullah صلى الله عليه
وآله وسلم, dan Sumpah Pembelaanmu pada Habibullah
Muhammad صلى الله عليه وآله
وسلم. – Sumber: MajelisRasulullah
<http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view\
&id=90&Itemid=1
> صلى الله عليه
وآله وسلم
<http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view\
&id=90&Itemid=1
>

Akhirkata al-Fagir meminjam kata-kata al-Fadhil Ustaz Abu Muhammad,
Shohib Blog BahrusShofa <http://bahrusshofa.blogspot.com/> :
Oleh itu, marilah kita wahai ikhwani
Dalam bulan Mawlid ini
Kita baharui bai`ah kita dengan Junjungan Nabi صلى
الله عليه وآله وسلم
Bersumpah setia kita berjanji
Atas ajaran Junjungan Nabi صلى الله عليه
وآله وسلم sentiasa dijalani dipegangi
Ajaran yang kita telah kita warisi
Zaman berzaman daripada para ulama yang dihormati
Sambung menyambung generasi ke generasi
Dari zaman ini hingga zaman sahabi
Lalu terus bersambung kepada Junjungan Nabi صلى الله
عليه وآله وسلم
Ingatlah tatkala mahalul qiyam kita berdiri
Marhaban, sholawat serta salam dilantuni
Jangan lupa satu bait yang kita lazimi
Bait berbunyi:-
ايها المبعوث فينا * جئت
بالأمر المطاع
Wahai Junjungan Nabi صلى الله عليه
وآله وسلم yang dibangkitkan kepada kami
Datangmu membawa perintah urusan agama yang mesti ditaati
Jadikan bait ini sumpah janji setia mu wahai ikhwani
Bai`ahmu agar segala titah perintah Junjungan Nabi صلى
الله عليه وآله وسلم ditaati
Tiap saat tiap ketika tiap waktu silih berganti
Saat malam dan siang hari
Bangun tidur berjalan duduk sentiasa diingati
Segala panduan ajaran Junjungan Nabi صلى الله
عليه وآله وسلم
Biar hidup kita diberkati
Pabila mati syafaat Baginda صلى الله عليه
وآله وسلم diperolehi


اللهم صل و سلم على سيد
المرسلين سيدنا محمد و
على اله و صحبه اجمعين


sekian dari,
al-fagir ila `afwi rabbih, abu zahrah `abdullah thahir al-Qadahi
taman seri gombak

http://bahrusshofa.blogspot.com/2012/01/kanjeng-nabi-pastikan-kenal.html
<http://bahrusshofa.blogspot.com/2012/01/kanjeng-nabi-pastikan-kenal.htm\
l>

AHAD, JANUARI 29Kanjeng Nabi Pastikan Kenal
<http://bahrusshofa.blogspot.com/2012/01/kanjeng-nabi-pastikan-kenal.htm\
l> [0]
<http://3.bp.blogspot.com/-p5K2dzOv0B8/TeTgXvyaURI/AAAAAAAACyw/FjIKBtHZA\
go/s1600/21%2B036.jpg
> Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya
meriwayatkan sebuah hadits daripada Sayyidina Jabir bin
SamurahradhiyaAllahu `anhu yang Junjungan Rasulullah shallaAllahu
`alaihi wa sallam bersabda:

اني لأعرف حجرا بمكة كان
يسلم علي قبل ان ابعث اني
لأعرفه الآن
"Sesungguhnya aku kenal benar dengan seketul batu di Makkah yang pernah
mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutuskan menjadi rasul;
Sesungguhnya sekarang pun aku masih benar-benar mengenalinya."
Allahu ... Allah, lihatlah wahai ikhwah, Kanjeng Nabi shallaAllahu
`alaihi wa sallam ingat dan kenal dengan makhluk yang memberikan ucapan
salam kepada baginda shallaAllahu `alaihi wa sallam, meskipun makhluk
tadi hanyalah makhluk jamadat yang berupa seketul batu. Makanya,
ambillah iktibar dan pengajaran, jika sahaja seketul batu pun masih
mendapat perhatian Junjungan shallaAllahu `alaihi wa sallam dan tidak
baginda lupa padanya, maka betapa pula jika yang mengucapkan salam
kepada baginda itu umat baginda shallaAllahu `alaihi wa sallam. Tapi
mestilah ucapan salam tersebut dilakukan dengan rasa mahabbah cinta
kasih asyiq ma`syuq kepada bagindashallaAllahu `alaihi wa sallam. Itulah
salam yang akan disambut juga dengan seumpamanya oleh Kanjeng Nabi
shallaAllahu `alaihi wa sallam. Oleh itu, perbanyakkanlah shalawat dan
salam ke atas Junjungan shallaAllahu `alaihi wa sallam dan belajarlah
untuk melakukannya dengan rasa penuh mahabbah kepada bagindashallaAllahu
`alaihi wa sallam, Sang Penyelamat kita di dunia dan di akhirat,
shallaAllahu `alaihi wa sallam. Pasti Kanjeng NabishallaAllahu `alaihi
wa sallam akan kenal dan ingat pada kalian yang beruluk salam kepada
baginda shallaAllahu `alaihi wa sallam, batu sahaja mengucap salam
sebelum bi'tsah pun dikenali dan diingati oleh baginda hatta setelah
Fathu Makkah... Allahu .. Allah. Moga-moga Junjungan shallaAllahu
`alaihi wa sallammengenali kita sebagai umat baginda dan dengan itu kita
beroleh kejayaan dengan memperolehi syafaat daripada bagindashallaAllahu
`alaihi wa sallam.

As-Salamu `Alaika Ayyuhan Nabiyu
Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh,As-Salamu `Alaika, Ya Najmal HudaLisy
Syafa`ah, Ya RasulAllah, Lisy Syafa`ah.
*************************************Ya Ayyuhal Mukhtar - Syaikh Thaha
al-Fashni
Dicatat oleh Abu Muhammad di 1:30 AM
<http://bahrusshofa.blogspot.com/2012/01/kanjeng-nabi-pastikan-kenal.htm\
l>
<http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=14738265&postID=691845158183\
789047>

[Non-text portions of this message have been removed]


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Kembalilah mengikuti apa yang disampaikan Imam Mazhab
Posted by: "ZonJonggol" zonatjonggol@yahoo.com zonatjonggol
Date: Tue Feb 7, 2012 10:26 pm ((PST))

Kembalilah mengikuti apa yang disampaikan Imam Mazhab

Sukar juga menyadarkan mereka dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi

Keinginan mereka baik yakni ingin mengikuti Rasulullah (ittiba' li Rasulihi) melalui penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh

Namun amat disayangkan mereka mendapatkan pengetahuan penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh dari para ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.

Marilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur'an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla

Jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang telah sepakat bahwa Imam Mazhab yang empat adalah pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)

Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.

Berhati-hatilah sebaiknya jangan serampangan dalam mengikuti pemahaman ulama agar tidak menjadi penyesalan di akhirat kelak

Firman Allah ta'ala yang artinya,
"(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali." (QS al Baqarah [2]: 166)

"Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka." (QS Al Baqarah [2]: 167)

Contohnya, sebaiknya janganlah mengikuti cara sholat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari apa yang disampaikan oleh seorang ulama yang menuliskan kitab Sifat Sholat Nabi namun kita ketahui beliau tidak melihat langsung cara sholat Nabi melalui apa yang dicontohkan atau dilakukan oleh Salafush Sholeh. Beliau menyampaikan berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola'ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).

Pendapat para ulama tentang beliau yang menuliskan kitab Sifat Sholat Nabi telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/

Bahkan seorang ulama keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran tentang sholat langsung dari orang tua – orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam tulisannya pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9 bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat"

Tokoh-tokoh Alawiyin (keturunan cucu Rasuullah) yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah ada­lah Imam-Imam mujtahid (dalam arti tidak mengikuti atau terikat dengan salah satu mazhab) seperti diriwayatkan oleh beberapa ulama, yang masing-masing tokoh terkenal dengan gelar "Imam" seperti Imam Al Muhajir, Imam Alawi bin Ubaidillah dan lain-lain.

Namun, ijtihad mereka seringkali bersesuaian dengan Imam Assyafi'i

Silahkan baca uraian pada http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm

Sekelumit perjalanan dakwah keturunan cucu Rasulullah dari mulai tulisan pada

http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page2.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page3.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page5.htm http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page6.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page7.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page8.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page9.htm
http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page10.htm

Begitupula Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan "Panji Masyarakat" No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka

***** awal kutipan ****

"Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, `kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga'. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

Kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib."

****** akhir kutipan ******

Dari dahulu ulama-ulama kita bermazhab Imam Syafi'i. KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Azhari pendiri NU memiliki guru yang sama yakni KH Sholeh Darat. Di Saudi, mereka juga memiliki guru yang sama, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi – ulama kelahiran Padang yang di masa itu dapat menduduki posisi Imam di Mekah karena ketinggian ilmunya. Syekh Ahmad Khatib adalah ulama bermazhab Syafi'i.

Oleh karenanya untuk menegakkan Ukhuwah Islamiyah , khususnya di Indonesia, marilah kita kembali bersatu padu kembali mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Syafi'i ~ rahimahullah.

Begitupula kita jangan terhasut oleh kaum Zionis Yahudi hingga kita tidak mencintai Ahlul Bait, keturunan cucu Rasulullah.

Imam Syafi'i ~rahimahullah bersyair, "Wahai Ahlul-Bait Rasulallah, mencintai kalian adalah Kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian."

Syair Beliau yang lain "Jika sekiranya disebabkan kecintaan kepada keluarga Rasulallah shallallahu alaihi wasallam maka aku dituduh Rafidhi (Syi'ah). Maka saksikanlah jin dan manusia, bahwa sesungguhnya aku adalah Rafidhi."

Maksud perkataan Imam Syafi'i ~rahimahullah , jika mencintai keturunan cucu Rasulullah disebut Rafidhi maka beliau rela disebut Rafidhi walaupun kita paham bahwa pemahaman syiah rafidhi telah menyelisihi pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
3. Geliat Majelis Tarjih Muhammadiyah
Posted by: "Nugroho Laison" nugon19@yahoo.com nugon19
Date: Tue Feb 7, 2012 10:26 pm ((PST))

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-737-detail-din-kaderisasi-ulama-tarjih-harus-sampai-tingkat-akar-rumput.html


Din: Kaderisasi Ulama Tarjih Harus Sampai Tingkat Akar RumputMinggu, 22-01-2012
Dibaca: 320

 
Magelang- Din Syamsudin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberikan apresiasi positif dan mendukung sepenuhnya proses kaderisasi ulama di lingkungan Muhammadiyah. Pelatihan kader ulama Tarjih harus dapat dilaksanakan sampai tingkat bawah, baik di Wilayah-wilayah maupun Daerah-daerah. Bahkan Din berjanji akan menghadiri Wilayah atau Daerah yang dalam waktu dekat dapat menyelenggarakan Pelatihan Kader Tarjih di tingkat masing-masing. Dalam satu tahun ini Din berharap Wilayah dan Daerah telah menyelenggarakannya.
 
Demikian disampaikan Prof. Dr. Din Syamsudin, dalam Ceramah Iftitah Pelatihan Kader Tarjih tingkat Nasional, di UM Magelang Jawa Tengah, Jum’at, (20/01/2012). Din menambahkan, Muhammadiyah harus terus menerus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi umat, khususnya dalam persoalan keagamaan. Terlebih di tengah kehidupan modern sekarang ini. Gerakan Muhammadiyah bukan hanya harus menjadi gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar saja, tetapi juga menjadi gerakan tajdid dan gerakan ilmu.
 
Sementara itu, Prof. Dr. Ahmadi, Rektor UM Magelang dalam sambutan sebagai tuan rumah mengatakan, UM Magelang sangat bangga dapat menjadi tuan rumah bagi sebuah kegiatan yang sangat penting bagi Muhammadiyah. Menurut Ahmadi, ruh Muhammadiyah ada di Majelis Tarjih, sehingga Pelatihan Kader Tarjih yang dilaksanakan di Kampus yang ia pimpin tersebut akan didukung sepenuhnya oleh pihak UM Magelang. Di samping itu, Ahmadi berharap UM Magelang juga dapat mengambil manfaat dan barakah yang sebesar-besarnya dari kegiatan ini.
 
Adapun Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam sambutannya menyampaikan, kaderisasi ulama Tarjih harus dapat dilaksanakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Wilayah dan Daerah di tingkat masing-masing. Namun kalau bisa tidak hanya pelatihan singkat yang bersifat penyegaran, tetapi dalam bentuk pelatihan atau kursus berkala bahkan membuka sekolah Kader Tarjih. Hal ini, selain penting sebagai sarana sosialisasi produk-produk Tarjih Muhammadiyah juga sekaligus menjamin ketersediaan ulama Tarjih yang kompeten.
 
Pelatihan Kader Tarjih tingkat Nasional diadakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Magelang. Kegiatan berlangsung Jum’at-Senin, 20-23 Januari 2012, dengan mengusung tema: “Membangun Kompetensi Kader Ulama Tarjih dalam rangka Menguatkan Identitas Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid”. *amr)
-=-=-=-

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-739-detail-perdalam-materi-mahasiswa-pendidikan-ulama-tarjih-um-makassar-belajar-kitab-gundul.html

Perdalam Materi, Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih UM Makassar Belajar Kitab GundulRabu, 25-01-2012
Dibaca: 136

Makassar- Sebanyak sebelas orang mahasiswa pendidikan Ulama Tarjih Universitas Muhammadiyah Makassar semakin mantap mempelajari kitab -kitab gundul di bawah bimbingan ulama besar Muhammadiyah masing-masing KH.Djamaluddin Amien,Drs.KH.Jayatun,MA,Drs.KH.Jalaluddin Sanusi, Drs.KH.Baharuddin Pagim, serta sejumlah Intelektual Muhammadiyah Dr.H.Kasyim,SH,M.T.Hi, Drs.H.Mawardi Pewangi,M.Pd.I, Drs.Muh.Nur Abduh,MA, Drs.H. Ahmad Said,LC, Drs.H.Lukman,LC,MA, dan Drs.HM.Husni Yunus,M.Pd, bertempat di kampus Rusunawa C,Jl. Tala 'Salapang, demikian ungkap Rektor Unismuh,Dr.H.Irwan Akib,M.Pd Rabu ( 25/01/2012).

Dr.Irwan Akib.M.Pd, Mengatakan bahwa Pendidikan Ulama Tarjih, ini merupakan Ruh gerakan Persyarikatan Muhammadiyah, yang nantinya di harapkan mampu untuk membangun peradaban kehidupan masyarakat Islam yang sebenar-banarnya di Sulawesi selatan yang merupakan masyarat yang Islami. selain itu juga di harapkan kader Ulama Tarjih Muhammadiyah ini mampu untuk peningkatkan kualitas pembinaan nilai-nilai Keislaman di persyariktan Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat Islam di Sulsel.

Saat ini Muhammadiyah Sulsel, sangat merasakan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah yang ada di Sulsel, belum mampu melahirkan Ulama yang betul menguasai kitab- kitab gundul, dengan melalui pendidikan ulama ini yang di bina langsung oleh ulama besar Muhammadiyah, di harapkan lahir ulama yang profesional di manajmen duet ketua Majlis Tarjih Muhammadiyah Sulsel, Drs.KH.Jayatun,MA dan Drs.HM.Husni Yunus,M.Pd ( Ketua Majlis Pemberdayaan Masyarakat Sulsel)

-=-=-=-=-


http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-730-detail-70-kader-ulama-siap-ikuti-pelatihan-kader-tarjih-tingkat-nasional.html

70 Kader Ulama Siap Ikuti Pelatihan Kader Tarjih Tingkat NasionalRabu, 18-01-2012
Dibaca: 314

 
Yogyakarta- Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan menyelenggarakan Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Nasional, besok pada hari Jum’at s.d. Senin, 20 s.d. 23 Januari 2012. Pelatihan akan diadakan di Universitas Muhammadiyah Magelang, Jalan Bambang Soegeng Mertoyudan Magelang Jawa Tengah.
Drs. Muhammad Mas’udi, M.Ag., selaku Ketua Panitia, menyampaikan bahwa menurut rencana sekitar 60 sampai 75 kader ulama akan ambil bagian menjadi peserta dalam Pelatihan ini, berasal dari unsur Majelis Tarjih dan Tajdid PWM se-Indonesia, beberapa organisasi otonom tingkat Pusat dan tuan rumah UM Magelang serta Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kabupaten dan Kota Magelang. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, lanjut Mas’udi, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada UM Magelang yang telah berkenan bekerjasama dan menjadi tuan rumah. Diharapkan nantinya PTM yang lain dapat bekerjasama dengan Majelis Tarjih di tingkat Wilayah untuk menyelenggarakan kegiatan yang sama.
Menegaskan apa yang disampaikan Muhammad Mas’udi, secara terpisah, Ghoffar Ismail, S.Ag. M.A., Ketua Divisi Kaderisasi dan Organisasi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, mengatakan bahwa Pelatihan yang digelar nanti merupakan pilot project, diharapkan di setiap Wilayah dapat melaksanakan kegiatan serupa dengan sasaran kader ulama di tempat masing-masing. Jika itu dapat dilaksanakan dengan baik, Muhammadiyah tidak perlu kuatir akan terjadinya kelangkaan ulama. Bahkan, dalam kesempatan lain Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. menegaskan, perlu juga dilakukan pelatihan kader yang bersifat kursus regular, bukan hanya pelatihan singkat, sehingga materi yang disampaikan bisa lebih mendalam. Hal ini dapat menunjang kompetensi ulama Tarjih yang sangat diperlukan bagi Muhammadiyah sebagai Persyarikatan yang bergerak di bidang amar makruf nahi munkar dan tajdid.
Pelatihan yang mengangkat tema Membangun Kompetensi Kader Ulama Tarjih dalam Upaya Penguatan Identitas Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. H. M. Din Syamsudin, M.A. pada hari Jum’at, 20 Januari 2012 pukul 13.30 di Kampus 2 UM Magelang. *amr)

-=-=-=-=-

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-756-detail-majlis-tarjih-muhammadiyah-jatim-rumuskan-asketisme-islam.html


Majlis Tarjih Muhammadiyah Jatim Rumuskan Asketisme IslamSenin, 30-01-2012
Dibaca: 47

 
Malang- Kajian Majlis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (29/1), berlangsung hangat. Tak kurang 200 peserta yang terdiri dari para ulama tarjih, tokoh muda Muhammadiyah, kader tarjih dan akademisi mengikuti acara sehari bertajuk “Asketisme Islam untuk Keteladanan Bangsa” ini.
 
Ketua MTT, Dr. Syamsuddin, MA, mengatakan nilai-nilai kezuhudan (asketisme) bisa menjadi pedoman bagi kader-kader Muhammadiyah. Pengejewantahan sikap juhud  itu dapat dilakukan dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan nasional. Seorang pemimpin harus menunjukkan sikap juhud agar menjadi teladan bagi rakyatnya. “Dalam kajian tarjih inilah kita akan merumuskan juhud untuk membangun keteladanan pemimpin,” ungkapnya.
 
Rektor UMM, Muhadjir Effendy, mendukung agar Majlis Tarjih lebih sering lagi melakukan kajian. Sebagai gerakan tajdid (pembaruan), tarjih merupakan ruh bagi Muhammadiyah. “Membahas tarjih adalah menghidupkan ruh Muhammadiyah, jadi jangan hanya mengurusi yang jasad saja di Muhammadiyah. Tarjih ini lebih bersifat substansial,” kata rektor. Oleh karena tarjih tidak bisa menghasilkan sumberdana, maka idealnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) secara bergilir menyelenggarakan secara rutin.
 
Menurut Muhadjir, Muhammadiyah sesungguhnya memiliki cukup banyak ulama yang dapat membimbing umat melalui kajian-kajian tarjih itu. Hanya saja kyai di kalangan Muhammadiyah kurang dikenal walau selalu didengar dan diikuti pendapatnya. “Produk ke-Kyai-an itu harus kita ciptakan, agar kita juga bisa memiliki tarjih dan menjadikan kekuatan dalam ber-istinbath terhadap hukum-hukum Islam”, terangnya.  
 
Acara dibuka Ketua PWM Jatim, Prof. Dr. Thohir Luth. Dia menuturkan kebutuhan kontemporer dan mujdid sangat berkembang pada masa ini, sehingga sangat membutuhkan pembaharuan dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini harus dimulai dengan fatwa-fatwa baru untuk membahas permasalahan kontemporer yang dimulai oleh penggerak-penggerak Muhammadiyah.
 
“Dalam masalah asketisme, ulama-ulama Muhammadiyah harus tampil dengan simpati dan gagah sehingga fatwa maupun asketisme kontemporer dimaknai dengan kegagahan untuk ibadah kepada Allah,” ujar Thohir.
 
Dalam makalahnya,Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mugni, MA yang dipanel dengan Dr. H. M. Saad Ibrahim, MA ini memprihatinkan asketisme yang redup di kalangan pempmpin. Redupnya ke-zuhudan itu memancing sikap menyimpang. Dia setuju bahwa zuhud bisa dimaknai meninggalkan hal-hal yang haram. “Al-Qusyairi berpendapat bahwa juhud itu meninggalkan secara mutlak hal-hal yang haram dan meninggalakn atas keinginannya sendiri hal-hal yang mubah,” terangnya.
 
Namun dewasa ini, kata Syafiq, kehidupan zuhud tertransformasikan menjadi tasawwuf dan ditransformasikan menjadi tarekat. “Yang pada awalnya tarekat ini baik, namun pada akhirnya banyak orang yang nyeleneh dengan tarekat ini. Untuk itu melihat kondisi masyarakat rumusan konsep dan perilaku zuhud atau asketisme sangat diperlukan,” lanjutnya.
 
Menariknya, Syafiq menolak pendapat bahwa zuhud itu miskin. Sebaliknya, untuk menjadi zuhd perlu kaya, karena jika miskin namanya terpaksa zuhd. “Yang paling baik adalah orang kaya dan pekerja keras namun sederhana dalam kehidupan dan mempergunakan hartanya untuk agama,” simpul mantan Ketua PWM Jatim ini.
 
Untuk mencapai hidup zuhud itu, Saad Ibrahim memiliki usulan menarik. Kekayaan harus diraih untuk dapat melaksanakan perintah zakat, berinfaq, bersedekah, meninggalkan ahli waris dalam keadaan cukup secara material. “Jangan terpedaya ole kehidupan duniawi. Himpun kekayaan tetapi jangan jiwamu terbelenggu olehnya,” tegasnya.

[Non-text portions of this message have been removed]


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
4. Artikel Kajian Wahabi atau Muwahhid dari Muhammadiyah dll
Posted by: "nugon19" nugon19@yahoo.com nugon19
Date: Tue Feb 7, 2012 10:27 pm ((PST))

sila simak 2 artikel berikut dari ulama Muhammadiyah terkait
Wahabi/Muwahhid dan hub nya dgn Muhammadiyah.
juga ada kritikan dari komunitas Non Salafi, terkait membid'ahkan
Maulid, namun menyimpan peninggalan salah seorang ulama pemuka Salafi pd
abad ini, bahkan juga melakukan acara peringatan salah seorang ulama
Salafi pd abad ini tsb. Juga adanya pekan Syeikh Muhammad bin Abdul
Wahhab yg memang kalau mau jujur, mirip dgn awal/cikal-bakal munculnya
peringatan Maulid Nabi Muhammad saw (yg ane copas adalah bantahan bahwa
Pekan tsb sama dgn Maulid). intinya kritikan inkonsistensi sikap
ta'dzhim antara kpd pemuka Salafi dan Non-Salafi.
juga ada analisa bahasa utk laqob wahabi, yg kendati konotasinya
negatif, ternyata menurut beberapa tokoh, secara bahasa (kaidah tata
bahasa arab), konotasinya netral.
dan artikel lainnya yg menarik utk disimak dan dievaluasi....seperti
profil singkat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari Ustadz Sarwat,
serta nukilan surat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab yg disertakan dlm
buku "Mafahim Yajibu an Tushohhah" karya Syeikh Muhammad Alwi Al-Maliki
Al-Hasani (yg terjemahan bukunya bisa dibaca di
http://alfathimiyyah.net/category/kitab-buku/
<http://alfathimiyyah.net/category/kitab-buku/> ).
dari ane pribadi....ane mengikuti sikap yg menjadi tradisi Muhammadiyah
utk masalah Salafi/Wahabi ini....ambil pemikiran yg baik, buang yg
buruk.kebetulan sikap yg sama dilakukan oleh alm. Sayyid Muhammad Alwi
al-Maliki al-Hasani, Syeikh Yusuf al-Qorodhowi....dan mayoritas ulama di
Al-Azhar Kairo, yg jadi salah satu kiblat dari banyak ulama di dunia,
termasuk Indonesia, tercakup juga di dalamnya Muhammadiyah dan NU, serta
Ikhwanul Muslimin.
Last, mereka tetap saudara kita.bisa jadi mereka benar, seperti bisa
jadi mereka salah.bisa jadi kita benar, bisa jadi kita salah.maka harus
sering-sering evaluasi, dan ambil yg baik, buang yg buruk.Walloohu a'lam
bis-showab.
Wassalam,


Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!
http://nugon19.multiply.com/journal
<http://nugon19.multiply.com/journal>

-=-=-=-=-

http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-"wahhabi"-atau-"muwa\
hhid"--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidupan-dunia-detail-\
95.html
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html
>


"Wahhabi" atau "Muwahhid" Strategi Dakwah dan
Pengaruhnya dalam Kehidupan Dunia.: Home
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/home.html> > Artikel
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/index-artikel.html> > PWM
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-lkat-pwm.html> 28 Desember 2011
15:41 WIB
Dibaca: 432
Penulis :
Pendahuluan.
Terdapat beberapa pandangan orang tentang peran dan fungsi al-Islam
sebagai agama bagi kehidupan umat manusia ini.
Orang ateis melihat agama Islam disejajarkan dengan agama-agama lain,
sebagai candu masyarakat, dan pelipur lara ketika manusia sudah tidak
berdaya berhadapan dengan berbagai masalah yang dihadapinya.[1]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn1
>
Orang kapitalis dan matrialis melihat Islam merupakan penomena yang ada
di dalam kehidupan sebagian umat manusia yang bisa dijadikan alat bagi
diperolehnya berbagai prestasi penguasaan matrial melalui pengendalian
terhadap para pengikutnya. Sebagaimana kondisi sekarang ini, tidak ada
negara muslim atau yang berpenduduk muslim yang memiliki SDA dan SDM,
hanya dimanfaatkan untuk kepentingan mereka secara ekonomi, melalui
kekuatan senjata.[2]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn2
>
Orang sekuler melihat agama Islam itu urusan pribadi yang tidak ada
hubungannya dengan wilayah-wilyah publik dalam kehidupan di dunia ini.
Di samping itu pandangan orang tentang Islam sekarang ini, berdasarkan
struktur keilmuan yang dimiliki masing-masing serba parsial, termasuk
juga parsialitas karena pandangan sebatas global dan filosofis saja.
Pemahaman terhadap agama Islam, diperlukan secara kaffah; filosofis juga
bersamaan dengan bagian teknisnya. Bagian filosofis karena menyangkut
tata kehidupan adalah sarat dengan moral universal, seperti ukhuwah,
tasamuh dan ta'awun, dll.; sedangkan bagian teknisnya yang dikatakan
furu'iyah dan penomenologis adalah menyangkut berbagai aktivitas
keagaman harian dan individual.
Jika bangunan keilmuan sekarang ini, tidak mengalami perubahan kearah
terintegrasi ( unity of knowledge ), maka akan berimplikasi pada aspek
filosofis dan praktisnya saling berjauhan, seperti kehidupan sekarang
ini. Dengan demikian, maka agama Islam sampai kapanpun bila dengan
keilmuannya serba parsialitas, akan tetap samar sebagai agama bagi
kehidupan kolektifnya.
Bagi orang yang melihat Islam dari segi furu'iyah dan fenomenologis
ini, menyatakan bahwa agama Islam itu sumber konplik; sedangkan orang
yang melihat Islam secara global dan filosofis akan melihat agama Islam
sebagai sumber integrasi sosial.
Pandangan berbeda-beda tentang agama Islam itu, karena masing-masing
mereka dengan keterbatasannya, melihat agama Islam sebagai agama dari
kaca matanya sendiri. Ini berarti agama Islam dijadikan sebagai objek
penglihatannya, bukan Islam dilihat dari sudut pemiliknya, yaitu Allah
SWT.
Sebaliknya, seorang muslim yang taat, muttaqin, muhsinin dan muhlishin
yang menjunjung tinggi akhlak al-karimah , melihat agama Islam ini
sebagai titik tolak mereka dalam setiap gerak kehidupan; proses dalam
menjalani gerak kehidupan itu; dan juga akhir dari setiap cita-cita dan
harapan dari kehidupan tersebut.
Karena itu, mereka yang berpandangan terakhir ini, melihat agama Islam
secara menyeluruh (kaffah ). Agama Islam yang kaffah ini, dapat dilihat
dari ciri-cirinya, yaitu: 1) Islam sebagai agama wahyu; 2) ajarannya
konprehenshif; 3) berlaku dalam setiap waktu dan tempat; 4) seirama
dengan fitrah manusia, baik fitrah tsubut, yaitu tauhid ( Q.S
al-A'raf: 172) maupun fitrah taghayyur (Q.S al-Syam,7- 8); 5)
menghargai akal sehat beserta produk-produknya; 6) sasaran utama
kehidupan rahmat sekalian alam; 7) berorientasi masa depan sampai di
luar kehidupan dunia ini; 8) menjanjikan kehidupan sorgawi bagi yang
mentaatinya dan neraka bagi yang mendurhakainya; 9) disampaikan oleh
para utusan yang suci taat, tulus dan memiliki sifat amanah, shidiq,
fathanah serta tabligh; dan 10) tegak di atas dua hukum sunnatullah
perpasang-pasangan ( azwaj ) dan keseimbangan ( tawazun ).[3]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn3
>
Bagian ini yang disebut Agama Islam sebagai agama penuntun, pengendali
dan pengarah kehidupan yang dengan ungkapan spesipik, dinyatakan Q.S
al-Baqarah: 185;هُدÙ&lsqauo;Ù‰ لِلنَÙ`اسِ
وَبَيِÙ`نَاتٍ مِنَ
الÙ'هُدَى وَالÙ'فُرÙ'قَان
(petunjuk bagi kehidupan manusia, penjelas dari petunjuk itu dan pembeda
–- di antara hak dan batil, baik buruk dan hukum-hukum Allah dan
bukan hukum-hukum Allah).[4]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn4
>
Agama Islam yang berfungsi seperti itu, membutuhkan para penyeru (
dâ'iyyun )-nya yang memiliki pengetahuan konprehenshif, sikap yang
tulus, semangat bekerja yang saleh dan komitmen kuat untuk mewujudkannya
dalam kehidupan, baik pribadi, keluarga dan masyarakat luas.
Pekerjaan yang dilakukan para penyeru agama Islam itu, disebut dakwah
atau berdakwah. Adapun sasaran atau objek al-dakwa al-Islamiyah,
meliputi : 1) internal umat Islam guna menjalankan taushiyah kebenaran
dan kesabaran selama menjalankannya; 2) ekternal umat Islam agar mereka
bisa bersama kaum muslimin berada dalam naungan keselamatan dan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sedangkan arah yang diperjuangkannya, meliputi: (a) peningkatan
kecerdasan dan pencerahan pemikiran guna kemajuan masa depan yang lebih
baik; (b) penegakkan risalah Islamiyah dalam berbagai kehidupan secara
nyata; (c) mempertahankan identitas dan martabat kemanusiaan universal
agar tidak terjebak pada prilaku-prilaku rendah; dan d) menyiapkan
kualitas kepemimpinan yang mampu membela dan menegakkan keadilan.[5]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn5
>
Dalam rangka tujuan berdakwah tentang agama Islam ini dibutuhkan
perencanaan yang matang dari berbagai aspeknya, disertai kerja
propesional, apalagi berhadapan dengan berbagai tantangan yang dihadapi
setiap saatnya.
Sekarang ini, terdapat juru da'i tidak lagi perorangan tetapi
bersifat kolektif berupa gerakan ideologis dalam wujud kebijakan
kelembagaan negara,[6]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn6
> yaitu Kerajaan Saudi Arabiya yang
beridentitas al-Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa'udiyyah li Dakwah
wa al-Da'at.
Akhir-akhir ini, pengaruh gerakan dakwah melalui kebijakan kerajaan
dalam kehidupan dunia internasional terasa sekali, sekalipun berbagai
tantangan harus dihadapinya.
Untuk tujuan bagian yang terakhir ini, makalah ini ditulis guna
memperjelas bagaimana awal penyusunan fondasi gerakan dan strategi
dakwahnya, pigur atau tokoh penggeraknya, pasang surut dan tantangan
yang dihadapi, serta proses berjalannya gerakan ini sampai sekarang.
Untuk menjaga dan memelihara posisi, peran dan fungsi umat Islam sebagai
penyeru kebanaran secara kaffah di atas, diperlukan dukungan bangunan
keilmuan yang konprehenshif.
Untuk masalah ini, buya A. Syafi'i Ma'arif mengusulkan pada
Muhammadiyah untuk memunculkan konsep unity of knowledge dalam sistem
pengajarannya di sekolah-sekolah; dan al-hamdulillah produk muktamar
Muhammadiyah satu abad pada tahun yang lalu, pendidikan holistik
transformatif, menjadi bagian yang harus serius dipikirkan, karena telah
masuk pada bagian dari program untuk dijalankan.
Namun, tentu team khusus perlu disiapkan dengan betul-betul untuk
mengkonsepkan bagaimana bangunan filsafat pendidikannya, materi sebagai
bahan ajar, kurikulum yang ditawarkan serta tenaga pengajar yang harus
tersedia, juga sarana dan prasarana penunjang yang perlu disiapkan.
Semuanya itu dimaksudkan untuk mendukung kesuksesan dakwah Islamiyah di
masa depan.
Prinsip Dakwah Islami sebagai Alat Ukur.
Prinsip dasar dakwah dikemukakan di sini, dimaksudkan untuk memberikan
landasan gerak dan proses selama dakwah berjalan, serta memberikan
standar evaluasi dari segi capaiannya setelah dakwah ini dilakukan dalam
rentang waktu dan wilayah tertentu.
Adapun prinsip tersebut sbb.: 1) Tauhidullah sebagai titik tolak
berangkat dan fondasi pemikiran, keilmuan dan amaliah keislaman; di
samping juga sebagai objek dakwah dari segi penyampaian ajaran bidang
akidah islamiyah, kemudian bidang-bidang lainnya seperti ibadah, akhlak
dan mu'amalah dunyawiyah, maka tauhidullah yang paling awal untuk
diketahui dan diyakini setiap para pemeluknya.[7]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn7
>
2) Lurus, terbuka, sehat dan mengarah kebaikan dan keselamatan.[8]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn8
> Lurus, memiliki pengertian bahwa Islam
itu sebagai agama yang disebut shirath al- mustaqim ( jalan yang
meluruskan); terbuka, bermakna agama Islam itu bisa dipelajari dan
dilaksanakan ajaran-ajarannya oleh setiap orang dalam berbagai lapisan
dan tingkatannya; bahkan secara tegas berbagai seruan (….
ياايها الذين ) yang banyak diungkap dalam
Alqur'an. Seruan-seruan itu, tidak hanya kepada orang-orang beriman,
tetapi juga kepada seluruh umat manusia, termasuk seruan terhadap
orang-orang kafir. Sehat, berhubungan dengan atsar dari pelaksanaan
ajaran Islam akan menyehatkan para pemeluknya dari berbagai pikiran,
kecenderungan dan prilaku buruk; kebaikan, sasaran yang dicapai hanya
berbagai kebaikan ( al- bir ) yang dapat mengantarkan keselamatan hidup
dunia dan akhirat para pelakunya.
3) Berkeseimbangan di antara titik awal pemikiran (niyyat), proses
(syari'at) dan akhir yang dicapai (maqashid).[9]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn9
>
4) Kaidah keilmuan merupakan paduan bagi amaliah dan standar
penilaian.[10]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn10
> Dalam agama Islam, terlarang seseorang
melaksanakan ajaran agama yang hanya didasarkan pada perkiraan tanpa
acuan ilmu pengetahuan, sesuai dengan Q.S. al-Isra, 36. Larangan ini
karena berkaitan dengan pertanggungjawaban di akhir kelak atas setiap
yang didengar, dilihat, dikatakan dan dilakukan.
5) Moral / etika merupakan klimak dari setiap produk pemikiran dan
amaliah, baik individu atau kolektif.Salah satu identitas kualitas
keagamaan seseorang yang bisa membedakan dari orang lainnya, satu
kelompok dari kelompok lainnya -- di samping wujud ketaatansecara
formal, adalah akhlak baik ini.[11]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn11
>
6) Q.S. Al-Fatihah: 6-7 sebagai landasan bagi pembentukan karakter
da'i. Dalam ayat itu, disebutkan tiga karakteristik keagamaan
seseorang. Pertama, karakteristik yang diklasifikasikan an'amta
`alaihim (mereka yang telah diberi nikmat) yaitu mereka yang
memiliki sifat-sifat nubuwah, shiddieqin, syuhada dan shalihin.
Karakteristik ini yang dapat diterima sebagai da'i (penyeru) agama
Islam; kedua, karakteristik yang diklasifikasikan al-maghdhub
(dibenci);dan ketiga, mereka yang diklasifikasikan al-dhâllin
(tersesat). Mereka ini, bersama-sama beragama Islam, hanya sikap
keagamaannya berbeda; bahkan perbedaannya sangat berjauhan. Hanya satu
karakter yang dikehendaki dan diharapkan yaitu yang diklasifilasikan
an'amta `alaihim; dan dua karakter selainnya tidak
diinginkannya, al-maghdhûb dan al- dhâllin. Kedua karekter
terakhir ini di tolak, karena akan mengeluarkan tampilan keagamaan
Islam yang buruk, bahkan akan menjauhkannya dari cita-cita keberagamaan
itu sendiri yang menawarkan rahmatan li al-`alamin.
Dengan keenam standar di atas, maka keberhasilan dakwah terutama dari
segi kualitatifnya akan bisa dilihatsebagai agama lâ ikrâha fi
al-dîn.
Demikian pula apa yang terjadi dalam gerakan dakwah al- Syaikh Abd Wahab
selama perjalan sejarahnya sampai sekarang akan dikembalikan pada ke
enam standar di atas.
Bagian mana dari perjalannya yang masih mengaci pada standar di atas,
atau bagian mana yang telah bergeser jauh dari apa yang
dicita-citakannya sejak pertama kali; dan bagian mana pula jika
perubahan itu terjadi apakah masihdalam batas toleransi sebagai tuntutan
perkembangan jaman; dan bagian mana yang masih utuh untuk tetap terus
dipertahankan sampai kapanpun oleh setiap generasi ke depannya. Karena
itu selektivitas dan pengendalian diri dalam setiap saat pelaksanaan
gerakandakwah atas nama agama Islam harus tetap dijaga.
Latarbelakang Penamaan"Wahhabi", "Salafi "
atau"Muwahhid"
Sebutan wahabi / wahhabiyah/ wahhabiyyun, sudah disepakati tidak datang
dari internal para pengikut syaikh Muhammad Ibn Abd al- Wahab, bahkan
mereka sampai sekarang ini, belum bersedia menerimanya. Mereka lebih
bisa menerima sebutan untuk gerakannya adalah kaum salafiyyun. Istilah
ini diambil dari konsep dasar gerakan al- ruju ila al-Qur'an dan al-
Sunnah al-nabawiyah, yaitu salaf al- shâlih[12]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn12
> .
Jika menelusuri berbagai literature, maka istilah wahabi itu banyak
ditemukan dalam literatur para orientalis. Sekalipun demikian, di antara
mereka juga ada yang tidak setuju dengan sebutan tersebut ditujukan
kepada gerakan syaikh Abdu al- Wahhab. Di antara mereka adalah Quintan
Wiktorowicz, seorang ahli ilmu sosial dalam catatan kaki laporan
penelitianya memakai kata salafi, untukwahabi, dlm : Anatomi of the
Salafi movement" (Wikipedia Proyect 2 Desember 2011). Pengarang
orientalis lainnya yang menggunakan ungkapan wahhabi bagi gerakan
al-Syaikh Muhammad Ibn Abd Wahab—selanjutnya di sebut al- Syaikh,
a.l.: DS Morgoliouth ( 1933-1963 ) memakai istilah wahaby dlm First
Encyclopedia of Islam; Thomas Patrick Hughes, dlm The Dictionary of
Islam, menyebutwahaby sebagai firqah ishlâhiyah al-tajdîdiyah; dan
George Reter menegaskan bahwa ungkapanwahabi itu dimaksudkan adalah para
pengikut syeich Muhammad Ibn Abd al- Wahhab ( 1703-1792); juga para
orientalis lainnya. Sebutan istilah wahabiyah tersebut sudah tersebar di
kalangan para orientalis Barat, dalam sebagian karya mereka juga
dijelaskan bahwa penyebutan itu, karena untuk membedakan secara ideologi
dari ideologi ahli Sunnah wa al-Jama'h yang sudah lama ada (Nashir
Ibn Ibrahim, al-Syaikh Muhammad Ibn Abd al-Wahhab Hayatuhu wa
Da'watuhu fi al-Ru'yah al-Istisyrâqiyyah: Juz I,87-89 ).
Sedangkan para pengikut al-Syaikh menyebut dirinya Salafiyyun atau
al-muwahhidun. Penyebutan "wahhabi" ini diprediksi sebagian ahli
hanya karenaistilah lainnyakurang familier saja dalam lidah kalangan
Barat.Namun demikian, kritik atas penamaan "wahhabi"itu, muncul
dari kalangan parapelanjut gerakan al-Syaikh, sbb.: Panamaan itu, lebih
untuk pelecehan dan penghinaan terhadap gerakan al-Syaikh ibn Abdul
Wahhab.
Hal ini telah terjadi juga pada masa Rasul SAW,sebagaimana pada saat
turun Q.S.al- Baqarah : 104;
يَا أَيُÙ`هَا الَÙ`ذِينَ
آَمَنُوا لَا تَقُولُوا
رَاعِنَا وَقُولُوا
انÙ'ظُرÙ'نَا وَاسÙ'مَعُوا
وَلِلÙ'كَافِرِينَ عَذَابٌ
أَلِيم
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian mengatakan
ra'ina ( pengembala kami) kepada rasulullah SAW, tetapi katakan oleh
kamu sekalian unzhurna ( pemerhati kami ), dan hendaklah kamu sekalian
mendengar (nya); dan bagi orang-orang kafir itu adalah siksa yang sangat
pedih karena mereka tidak mentaati dan tidak mendengar.
Terhadap ayat itu, ada sebuah hadits dalam riwayat Ibn Abbasyang
menjelaskanbahwa seorang Yahudi bernama MalikIbn al- Shaif dan
Rifa"ah ibn Zaid bermaksud menghina dengan perkataan yang buruk
terhadap Nabi SAW pada setiap kali keduanya bertemu dengan sapaan
ra'ina. Sebelum turun ayat itu, kaum muslimin memperkirakan bahwa
perkataan itu, dimaksudkan untuk memulyakan Nabi SAW, dan sebagian
mereka mengikutinya; maka Allah SWT memberitahukan tujuan orang Yahudi
tersebut dengan menurunkan ayat itu dan melarang ungkapan itu digunakan
oleh kaum muslimin; dan kaum muslimin diperintahkan untuk berkata :
unzhur na( al- Sayuthiy,Asbab al-Nuzul li al-, dlm Tafsir al-Qur'an
wa bayan, 20-24 ). Al-Syaikh al- Sa'adi mengomentari dengan ayat itu
secara tegas dan jelas ditujukan untuk menjauhkan umat dari penggunaan
istilah wahabiyah, karena orang-orang pada saat itu sudah saling
membicarakannya dengan rasa tidak menyenanginya ( Nashir Ibn Ibrahim,
Loc.Cit.). Demikian pula dalam Sulaiman Salman ( Da'wah al-Syaikh
Abd Wahhab, I/ 51) dinyatakan secara tegas apa yang dituduhkan para
orientalis Barat itu, merupakan kejahatan pidana (jinayah) dan kejahatan
pula dalam sejarah tentang pribadi al-Syaikh dan gerakannya, karena
informasi itu dijadikan informasi sejarah dikemudian hari. Padahal apa
yang dilakukan al-Syaikh adalah gerakan dakwah dengan cara damai yang
diberkati ( al- harakah al- da'wah al- ishlahiyah al-mubârakah).
Maka untuk meluruskan berbagai tuduhan sumbang terhadap pribadi
al-Syaikh dan gerakannya itu, kembali kepada teori ilmu sosial yang
dalam penelitian kualitatif ditemukan pendekatan grounded research bahwa
informasi yang paling benar dari hasil penelitian adalah informasi yang
bisa diterima dan dibenarkan oleh objek yang diteliti. Sebutan wahabi
adalah sebutan yang masih ditolak para pelanjut gerakan al-Syaikh
sampai sekarang ini. Karena itu, tidak selayaknya pelabelan
`wahabi' yang karakter gerakannya sebagaimana dituduhkan
teroris, pemecah belah, pelaku bid'ah dimaksudkan bagi gerakan
al-Syaikh yang sasaran gerakan dakwahnya adalah ishlahiyah (perbaikan),
wahdaniyah (persatuan), tajdidiyah (pembaharuan) dan dzu `aql (
pencerahan ).
Pokok Pandangan Abd al-Wahab tentang Dakwah Islamnya.
Al-Syaikh dalam pelaksanaan dakwah islamiahnya, berangkat dari beberapa
pandangannya yang perlu diaktualisasikan dalam kehidupan setiap umat
Islam, meliputi : 1) Alqur'an dan Hadits, keduanya merupakan
satu-satunya teks fundamental dalam keberagamaan. Keduanya tidak bisa
dipisahkan. Alqur'an sebagai pokok ajaran yang bersifat mujmal;
sedangkan al-Hadits sebagai pokok ajaran yang bersifat bayany. Kemudian
standar interpretasi yang menjadi acuan adalah interpretasi para ahli
pada komunitas awal, terutama keempat khalifah awal yang sudah diakui
petunjuk-petunjuknya. Pola interpretasi mereka digunakan untuk mendukung
pemahaman terhadap teks yang memiliki persambungan dengan pada masa
rasulullah SAW. Sekalipun demikian produk penafsiran mereka tentang
kedua teks suci itu, tidak dipadang sebagai otoritatif mutlak. Namun,
diposisikan sebagai sandaran metodologi penafsiran melalui analogi yang
memiliki tingkat relevansi dengan perkembangan pada saat itu.[13]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn13
>
2) Akidah, Ibadat dan do'a mengacu pada teks kedua sumber itu.
Karena itu, minta bantuan dan pertolongan hanya dari Allah, bukan dari
yang lainnya karena termasuk syirkyang diposisikan pelakunya sebagai
pembuat dosa besar. Demikian juga dalam beribadat dan berdo'a, tidak
lain kecuali berdasar tuntunan yang Allah SWT sampaikan melalui para
Rasul-Nya. Ketidak mungkinan manusia secara langsung bisa menerima
segala yang datang dari Allah SWT, kecuali Allah telah menyiapkan
alat-alat untuk bisa menangkapnya secara baik. Komponen aqidah
tauhidullah, keyakinan ada dalam nurani ( al-lubb ); komponen ibadat dan
pemahaman tentangnya ada dalam hati ( niyat ); dan komponen amaliah
ibadat ada dalam anggota badan / indra ( hawas ). Setiap peribadatan
yang dilakukan seseorang tiada lain adalah integrasi kesatuan diantara
keyakinan, pengetahuan dan aktivitas yang ber-atsar-kan berbagai
kebaikan yang banyak ( hikmah ).
3) Nabi SAW diutus untuk tugas dakwah / tabligh menyampaikan apa yang
telah diterimanya dari Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan kepadanya
tanpa dilebih-lebihkan dan dikurang-kurangkan.[14]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn14
> Demikian juga kita sebagai generasi
setelah mereka, ditugaskan untuk melanjutkan missi dakwah / tabligh
tersebut.[15]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn15
> Namun, oleh karena suasana dan kondisi
di antara ketika teks nash ( ayat atau hadits ) itu turun dengan suasana
dan kondisi kita sekarang ini sangat berbeda, maka kelengkapan ilmu
pengetahuan itu guna interpretasi teks nash itu sangat diperlukan untuk
di kuasai, sesuai dengan kaaidah : ما اريد او
ما فهم عن رسول الله صلى
الله عليه وسلم مراده من
غير غلو ولا تقصير ( apa yang dapat
dipahami atau dikehendaki dari Rasulullah SAW adalah maksudnya dengan
tidak dilebih-lebihkan dan dikurang-kurangkan ).
4)Pandangan fiqh mengikuti Ahmad Ibn Hanbal sebagai acuan ilmiah;
sedangkan teologinya mengikuti pandangan Ibn Taimiyah dan muridnya Ibn
al-Qayyim al-Jawziyah.[16]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn16
> Sekalipun syaikh Abd Wahab bermadzhab
Hanbali, tetapi ia tidak mengingkari setiap mereka yang mengikuti
madzhab lainnya, seperti madzhab yang empat selama pandangan mereka itu
ditunjuki oleh dalil dari Alqur'an dan al-Sunnah. Dalam bagian ushul
al-din yang tidak ada wilayah ijtihad, al-Syaikh mengikuti pandangan
Ahli Sunnah wa al-Jama'ah ( Sulaiman Salman, Da'wah al- Syaikh:
I / 60).
5) Mengutuk taqlid/ kepatuhan buta, dan seruan untuk berijtihad kepada
para pengikutnya. Taqlid diperangi karena akan memburamkan akal kaum
muslimin dalam melihat kebenaran, dan memalingkan mereka dari rujukan
terhadap Alqur'an dan al-Sunnah yang sudah jelas kebenarannya dan
dari mempertimbangkan pandangan-pandangan salaf al-shalih. Mereka yang
bertaqlid buta terhadap pandangan para pimpinannya dan berhenti padanya,
akan membuat dirinya bagaikan mayit ditangan seorang yang memandikannya.
Karena itu, al-syaikh menyerukan untuk berijtihad karena kebenaran itu
akan nampak di hadapan semua imam dan tidak dibeda-bedakan. Pandangan
al- syaikh tentang taqlid itu, terbagi pada dua bagian : Pertama,
terlarang bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk menemukan dalil
yang tafsiliyah / rinci serta mengeluarkan hukum darinya; dan kedua,
dibolehkan dan diidzinkan bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan
berbagai hal menyangkut ijtihad ( Sulaiman, Ibid. : I/ 118-120).
6) Metode penafsiran baru terhadap teks yang dikemukakan al-Syaikh
ketika itu, masih dipandang umum menyalahi tradisi dan otoritas para
ulama di zamannya.
Diantara metode tersebut, yaitu pemanfaatan referensi dari berbagai
kitab rujukan yang dipakai oleh para imam madzhab, terutama imam yang
empat yang memiliki landasan dalil qath'iy. Beliau mengajarkan agama
kepada murid-muridnya tidak ta'ashub madzhabiah, sekalipun secara
formal dalam bidang furu'iah, al-Syaikh dan para pengikutnya
bermadzhab Hanabilah ( Ibid. : I/ 121 ).
Metoda penafsiran muqaranah madzahib ini, dengan mengambil argumen mana
yang paling kuat dari berbagai madzhab itu, maka itulah yang menjadi
pandangannya. Dalam ilmu istinbath ahkam atau ilmu seleksi riwayat
hadits cara pemahaman seperti itu dinamakan metode al-tarjih.
Methoda tersebut dikatakan metoda menyimpang oleh pandangan umum, karena
pada saat itu, sebagian besar para ulama memandangnya talfiq yang
diharamkan. Talfiq ini, tidak dikenal pada masa awal umat Islam. Istilah
talfiq itu baru dikenali pada saat umat dilanda taqlid buta madzhabiyah.
Jika dengan talfiq dipahami berusaha mencari yang ringan-ringan, padahal
pola mencari yang ringan itu termasuk sesuatu yang maklum dalam agama,
dalam Alqur'an disebutkan bahwa agama itu tidak dijadikan bagi
pengikutnya kesulitan ( haraj ), beban ( taklif ) dan turun sekaligus (
jumlah wahidah ) tetapi diturunkan secara bertahap ( tadarruj ) ( cf.
EHI, entri Talfiq , vol.V. hal. 1796 ).
Pertemuan Imam Muhammad Ibn Saud dan Syaikh Abd al-Wahab
Imam Muhammad Ibn Sa'ud adalah seorang kepala pemerintahan daerah /
amir yang berakhlak mulya, terkenal, pemberani, bersemangat jihad, kaya
raya, dermawan. Ia berasal dari daerah Dar'iyah. Ia bertemu dengan
seorang ulama yang memiliki gagasan purifikasi ( al-tajrid ) dan
pembaharuan (al-tajdid ), seorang orator, ahli debat yang berasal dari
wilayah `Uyainah. Dukungan keluarga keduanya dalam menegakkan amar
makruf nahyi munkar sangat mendukungnya.
Dukungan ini ditunjukkan ketika, syaikh Abd Wahhab keluar dari
`Uyainah menuju daerah Dar'iyah, maka istri Muhammad Ibn Saud
yang bernama Mawdhiy ibnt Wahthn ( seorang yang cerdik dan
berpengetahuan ) mendesak suaminya, Muhammad Ibn Saud untuk segera
menjemput dan menerima kedatangan ulama yang shaleh, padahal suasana
politik di antara dua keamiran ketika itu, sekalipun masih berada dalam
wilayah provinsi Najd tidak menguntungkan, karena saling konplik di
antara keluarga.[17]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn17
>
Seluruh keamiran ketika itu, berada dalam kekuasaan Daulah Ottoman, dan
pemerintah pusat tidak bisa menyelesaikannya. Konplik diantara keluarga
mereka itu, kurang diperhatikannya, karena dari segi potensi daerah
tidak menarik bila dibandingkan dengan daerah-daerah yang ada dipinggir
pantai laut Arab, seperti Yaman yang berada di sebelah selatan laut
Merah; Hijaj karena untuk penjagaan dua kota suci umat Islam, dan
al-Ahsa sebagai kota yang terpenting, dll. Kehidupan sosial penuh
persaingan, pertentangan, saling membiarkan, berbagai kemaksiatan,
perjudian dan mabuk-mabukan serta perzinahan, merupakan peristiwa harian
di daerah itu.
Ketika kedua tokoh itu bertemu dan saling tukar pikiran, Syaikh
Muhammad Ibn Abd al-Wahhab berkata : Rasul SAW telah menyerukan untuk
menegakkan amar makruf dan nahyi munkar, dan bagaimana Allah SWT
memulyakan mereka dengan berjihad melalui penegakkan hukum Allah dan
Rasul-Nya, menjauhi bid'ah, syirk, zhalim dan perpecahan.
Maka Amir Muhammad Ibn Sa'ud memahaminya bahwa seruan itu adalah
seruan tauhidullah yang bisa memperbaiki kehidupan agama dan dunia; dan
ia berkata : Inilah agama Allah dan Rasul-Nya yang tidak diragukan
lagi, aku akan berbai'ah atas nama agama Allah dan Rasul-Nya dan
berjihad di jalan-Nya.
Namun, dia bertanya : Ya syaikh ! dua hal yang mengkhawatirkan ku, jika
memenuhi seruan mu : 1) khawatir kamu menjauh dari kami dan diganti
dengan yang lain setelah seruan itu diterima dan berjalan dilaksanakan;
dan 2) Ketika UU negeri kami dibuat, kamu membiarkannya dan
meninggalkannya.
Maka di antara keduanya saling berbai'ah dan Syaikh Muhammad Ibn Abd
Wahhab berkata sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan negeri ini,
menolong anda, berjihad bersama anda di jalan Allah sampai agama Allah
menang. Jika anda berkata seperti itu : 1) kedepankan kedua tangan ada,
kami bersumpah untuk tidak saling menghianati sekalipun utang darah
harus dibayar dengan darah lagi; dan 2) mudah-mudahan Allah membukakan
kemenangan, dan menggantinya dengan kekayaan yang banyak serta sesuatu
yang lebih baik lagi. Selesailah bai'ah di antara kedua tokoh itu
(Cf. Imam Muhammad Ibn Abd al- Wahhab Da'watuhu wa Siratuhu : I /
31 ).
Abdullah `Utsaimin memahami dan mengomentari bagian jawaban
keduanya, yaitu bahwa hal itu merupakan pernyataan yang betul-betul
berpengharapan kepada Allah agar pengorbanan Amir Muhammad Ibn
Sa'ud diganti dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Ia meyakini
bahwa penegakan kemaslahatan umum melalui berdakwah, bersamaan dengan
penyelesaian masalah yang bersifat juziyahnya. Langkah seperti itu,
dipercayai sebagai jalan keluar dengan jalan yang ringan dan mudah (
Cf. Muhammad Ibn Sa'ud: I / 35 ).
Penetapan Strategi Berdakwah.
Beberapa langkah sebagai strategi dakwah yang dilakukan Al-Syaikh
Muhammad Ibn Abd Wahhab, mulai membangun ideologi gerakan sampai pada
pelaksanaan dalam wilayah kepublikan,sbb.:
Pertama, seruan penegakkan tauhidullah merupakan missi kerasulan. Bagian
ini ditanamkan paling awal, melawan kemusyrikan, khurafat dan
bid'ah. Masyarakat ketika itu, mengetahui tauhidullah sebatas yang
bapak-bapak mereka, nenek-nenek mereka ajarkan dengan kebodohan dan
kesesatan, sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. al-Zuhruf, 23.[18]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn18
>
Kedua, menjalankan amar makruf nahyi munkar dengan menegakkan hukum
Allah bidang pidana, seperti menghukumi wanita pezina muhshan dengan
rajam, potong tangan bagi pencuri dan jilid bagi pezina bikr. Oleh
karena dia sebagai qadhi ketika itu, maka penanganan hukum itu setelah
terlebih dahulu dihilangkan berbagai kesyubhatannya, sehingga jelas
pelanggarannya oleh si pelaku kejahatan.
Mulailah al- syaikh terkenal sebagai hakim di Uyainah ketika itu, sejak
masa ini orang-orang pada berdatangan dari berbagai penjuru kota, sampai
amir al- Ahsa dari bani Khalid mengikutinya dan menyuarakan dakwah
kepada agama Allah SWT, menegakkan hukum Allah dan merobohkan
tempat-tempat keramat.
Namun, dua sikap orang-orang ketika itu: (1) mereka yang mendukungnya,
maka diantara mereka berdatangan ke kota `Uyainah untuk belajar dan
memperoleh bimbingan; dan (2) mereka yang menolaknya, maka mereka
mencaci, menjelekkan dan lari darinya. Mereka yang menolak itu karena
ketidaktahuannya. Mereka tidak mengetahui agama Allah dan tidak
mengenali tauhidullah.[19]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn19
>
Ketiga, menjauhkan umat dari kebodohan dan perpecahan serta ikhtilaf.
Bagian ini yang menjadikan tiga masalah pelik, dialami masyarakat Najd,
yaitu Persoalan politik yang tidak ada persatuan; persoalan ekonomi
karena kondisi alam yang tandus; dan keseimbangan kekuatan di antara
keamiran yang satu saling merontokkan yang lainnya.
Keamiran Uyainah merupakan keamiran yang paling kuat di antara keamiran
disekitarnya. Karena itu, al- Syaikh mengambil jalan dakwah dengan
hikmah, mau'idhah dan mujadalah yang lebih baik, sebagai tahap awal
pencerdasan; dan pelaksanaan tathbik syari'at Islam dalam keamiran
untuk wilayah kepublikan tahap berikutnya ( al-`Utsaimin: 22).
Keempat, menyiapkan seorang pemimpin yang bisa mempersatukan kaum
muslimin. Untuk bagian ini, al- syaikh keluar dari `Uyainah untuk
mengembangkan dakwahnya, pergi ke Dar'iyah, menyeru Amir Muhammad
Ibn Saud agar bisa mengemban amanat kepemimpinan ke depan di daerah Najd
ini. Muhammad Ibn Saud dipandang memiliki berbagai potensi pendukung
disamping kepribadiannya yang mulya, juga memiliki kekayaan yang banyak.
Di samping juga hubungan kekeluargaan bahwa putri al- Syaikh dinikahi
Muhammad Ibn Saud.
Kelima, seruan jihad ditegakkan melalui kekuasaan negara dengan merujuk
kepada masa Rasulullah SAW, baik bidang akidah, syari'ah dan sistem
kehidupan.
Keenam,menjadikan wilayah Najd sebagai daerah pemerintahan dan dakwah
di bawah bendera : "lâ ilâha illallâh
Muhammadurrasûlullâh " .
Ketujuh, menjadikan keamiran al-Dar'iyah sebagai pusat yang
mengendalikan gerakan dakwah dan seruan jihad untuk dikumandangkan
keberbagai wilayah keamiran disekitar Najd.
Di samping ketujuh strategi di atas, terdapat strategi lainnya, yaitu
pengembangan dakwah melalui penulisan dan penerbitan berbagai karya
tulis, surat-menyurat keberbagai kepala pemerintahan di berbagai
belahan dunia, secara khusus dalam wilayah keamiran Daulah Utsmaniah.
Kesemuanya dilakukan dengan komitmen kuat, pemikiran dan penguasaan
keilmuan, amaliah yang dilakukan secara bersama-sama yang terbangun
dalam sebuah ideologi gerakan.
Prioritas dakwah dilakukan kepada para ulama dan tokoh di masing-masing
daerah disekitar semenanjung Arabia, seperti al- Ahsa dan Haramain;
bahkan sampai ke luar daerah yang lebih jauh lagi. Usaha dakwah yang
dilakukan al-Syaikh bersama Amir Ibn Saud ini membuahkan hasil bahwa
keamiran Dar'iyah banyak dikunjungi penduduk negeri-negeri
disekitarnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pusat pelatihan
militer, di samping berkembangnya sentral-sentral perekonomian yang
berujung pada munculnya Najd sebagai pusat kekuatan yang sama sekali
tidak dikendalikan Daulat Utsmaniyah dari Turki. Pada saat itu,
orang-orang merasa terpanggil untuk saling memperdengarkan berita
syaikh, seruan dan petunjuk-petunjuknya di Dar'iyah tsb; dan
akhirnya orang-orang dari setiap penjuru negeri Najd dan dari yang
ada disekitar semenanjung Arabia, sampai menyebar ke manca negara,
meliputi Mesir, Afganistan, Irak, Syam, Hindia, Cina, Indonesia bahkan
sampai ke Amerika dalam rentang waktu selama 20 tahun keamiran dan 20
keimamahan ( Wikipedia, Wahabi, Desember 2011 ).
Ikhtiar al-Ruju' ila Alqur'an wa al-Sunnah
Alqur'an dan al- Sunnah adalah dua kitab rujukan keagamaan umat
Islam dalam mengemban amanat kehidupannya di dunia ini. Keduanya adalah
teks suci yang memerlukan kualitas individu yang menafsirkan atau yang
menjelaskannya. Dikatakan demikian, kerena Alqur'an datang dari Dzat
Allah Yang Maha Suci, al- Asunnah datang dari Rasul-Nya yang suci pula.
Kedua rujukan itu, itu memastikan dibaca oleh para pengenutnya, dipahami
dengan benar bagian-bagian ungkapannya, diyakini kandungan-kandungannya
karena mengandung kebenaran, diperjuangkan produk-produk pemikirannya
untuk bisa diamalkannya, dan berakhir untuk diwujudkan dalam setiap
bagian realitas kehidupan yang dalam bentuk makronya adalah peraban
utama.
Peradaban utama memiliki ciri berjalannya nilai-nilai moral / akhlak
karimah dalam setiap bagian-bagian kehidupan sampai pada tahap
rinciannya. Karena itu, ikhtiar al-Syaikh dalam mengkomunikasikan konsep
al- Ruju ila Alqur'an dan al-Sunnah, dengan cara : 1) Menghilangkan
kesyubhatan dalam interpretasi nash Alqur'an dan al-Sunnah. Dalam
ilmu tafsir atau Ilmu Hadits, ditemukan konsep-konsep dalam studi lafazh
nash mutasyabihat, gharib, musykilat, ta'arudh, dan musytarak.
Konsep-konsep tersebut perlu memperoleh penjelasan untuk menghindar dari
kesalahpahaman dalam pemaknaan.[20]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn20
> Jika pemaknaan salah, maka
pemahamannyapun bisa salah yang berujung pada amaliahnya pun bisa salah
juga; jika amaliahnya salah, maka maqashid yang dikehendaki syari'at
tidak akan tercapai. 2) Membangun argumen yang menunjukkan umat untuk
menuju hakikat ajaran Alqur'an dan Sunnah Rasullullah SAW; dan
menjauhkan dari berbagai tuduhan terhadap paham dari luar dan dari
tuduhan keluar dari ijma' serta menyerukan ijtihad secara muthlak
terbuka.
Untuk bisa mencapai hakikat ajaran Islam yang terkandung dalam
Alqur'an dan al-Sunnah, diperlukan sikap integritas / kepribadian
utama para pembaca kedua sumber itu. Hal ini, secara teoritis telah
terumuskan menjadi bagian `ilmu adab al-qâri, adab al- thâlib,
adab fî majlis Alqur'ân wa al-Hadîts.Ilmu-ilmu tersebut tidak
hanya terhenti pada pengetahuan tentang teori-teori saja, tetapi
teraplikasi menjadi sebuah amaliah bersama; tidak sebatas terhenti pada
amaliah tok, tetapi perlu sampai pada pase kebaikan bersama.
Kebaikan bersama ini yang akan mengantarkan pada pintu gerbang hakikat
ajaran Islam yang terdapat dalam Alqur'an dan al-Sunnah tersebut,
minimal bagi kebahagian di dunia ini.[21]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn21
> Dikatakan demikian, karena diperlukan
niat yang tulus serta keyakinan yang kuat di sertai penuh penyerahan
kepada Allah SWT secara individual, maka diyakini kebahagiaan di
akhiratpun akan diperolehnya. Kedua ikhtiar ini, dimaksudkan untuk
menghilangkan masalah taqlid buta dan menghilangkan kekhawatiran dari
kalangan umat apa yang menjadi gagasan pembaharuan al-Syaikh itu keluar
dari keislaman.
Komponen Pendukung Keberhasilan Dakwah Islamiyah
Dua faktor pendukung kesuksesan dakwah ini, dua faktor ini tidak
ditemukan dalam gerakan dakwah Islam lainnya, yaitu internal dan
ekternal.
Beberapa faktor pendukung internal menuju kesuksesan dalam gerakan dakwa
al- Syaikh: 1) Dukungan yang kuat, terutama dari pemegang otoritas
wilayah keamiran. Secara berurutan dukungan tersebut datang dari : Ali
Ma'mar dari Uyainah, Ali Sa'ud dari Dar'iyah, Ali Zamil dari
al- Kharaj, Diham Ibn Dawas dari Riyadh, Bani Khalid dari al- Ahsa, dan
Ali al-Asyraf dari al-Hijaz; dan Ali al-Sa'dun dari Wara al-Nahr.
2) Kesabaran para penyeru, sekalipun banyak diteror, sebagai akibat dari
sikap mental syirk, jahil, dan konplik politik yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat keamiran sewilayah Najd.
3) Penguasaan ilmu pengetahuan yang terkait dengan kebutuhan dan
tuntutan umat. Pengetahuan yang diajarkan al-Syaikh adalah pengetahuan
keagamaan yang terhindar dari berbagai percampuran syirk, dan
pemberhalaan kepada sesuatu selain Allah serta dari bid'ah.
Namun, di tengah perjalannya missinya, berbagai keahlian dan penguasaan
keilmuan dimiliki oleh para penerusnya, pola pendekatan dalam memahami
pandangan al-Syaikh termasuk dalam memahami Alqur'an adalah menjadi
spesipik sesuai dengan keilmuan yang dimilikinya masing-masing. Hal ini
menjadikan format gerakan menjadi keras dan murni tekstual kebahasaan,
tidak lagi mengenal pilihan-pilihan yang banyak sebagaimana berlaku
dalam bidang ilmu sosial.
4) Disampaikan dengan berhikmah dan mau'izh hasanah dan dialog yang
lebih baik.
Timbulnya kekerasan dengan senjata di akhir perjalannya oleh pada
pelanjutnya adalah dibenarkan oleh Thaha Husen ( al-Hayah al- Adabiyah:
13) merupakan karakter agama Islam setelah dilakukan tiga tahap
sebelumnya, masuk Islam, bayar jizyah lalu berperang.
5) Pemanfaatan alat cetak, penyebaran surat-menyurat dan penulisan
buku-buku sesuai missinya. Sejak dari awal gerakannya, al-Syaikh
menggunakan karya tulis dalam dakwahnya, apalagi sekarang ini, berbagai
karya lama dicetak ulang ditambah dengan penerbitan karya-karya dan
pemikiran baru yang ditangani langsung melalui kebijakan kerajaan.
6) Kesiapan berkorban semua komponen pendukung gerakan, dari perorangan
sampai pemerintahan ditambah lagi dengan kekayaan sangat melimpah.
7) Issu dakwah Islamiyah masuk ke dalam kebijakan pemerintahan,
dimaksudkan untuk mengakses bagian-bagian publik yang lebih luas lagi.
Jika salah satu komponen di atas kurang, maka kelambatan dalam proses
berdakwah akan terasa, bahkan akan mengalami kegagalan, jika beberapa
komponen hilang.
Adapun dukungan ekternal, dapat dicatat beberapa hal berikut : 1) Isu
Nasionalisme Arab yang diikuti oleh serangan pada kekaisaran Ottoman.
Isu ini dapat menggerakkan solidaritas suku-suku Arab bersatu yang
sebelumnya sulit untiuk dipertemukan dalam satu pandangan, satu kehendak
dan satu aksi yang bersama.
2) Pandangan Reformisme dalam masyarakat Saudi Arabia yang diikuti oleh
semangat salaf al-shaleh.
3) Pengendalian Makkah-Medinah merupakan dua kota yang sangat strategis
dalam mempercepat tersebarnya dakwah bagi orang-orang berfikiran yang
datang tidak hanya dari sekitar wilayah Saudi Arabia, tetapi dari
berbagai peloksok di dunia.
4) Sejak th. 1975, dana dari perolehan ekspor minyak sampai tiga kali
lipat dengan harga sebelumnya, gerakan dakwah dipromosikan secara
besar-besaran, terutama tentang interpretasi baru, sampai dana yang
dikeluarkan pemerintah cq Kementrian Wakaf mencapai ratusan milyar
dolar.
5) Pendanaan dakwah yang sangat besar dari pemerintahan Kerajaan Saudi
Arabia itu, dicatat oleh presenter Inggris Antonio Thomas mencapai $
100 milyar, bahkan lebih dari jumlah tersebut. 6) Dana tersebut dipakai
untuk membiayai proyek2 pembangunan mesjid, madrasah, beasiswa PT,
kampus Satelit al-Azhar- Mesir; dan dana oprasi dan kegiatan lainnya,
selama 50 tahun terakhir mencapai 90%-nya. Hal itu dicatat oleh Daud
Shirin, seorang jurnalis bagian Timur Tengah yang ada di London.[22]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn22
>
Menghadapi Berbagai Tantangan.
Dalam menghadapi setiap tantangan dakwah, disiapkan beberapa prinsip
penegakkan Jihad di jalan Allah SWT: Pertama, setiap kenikmatan apalagi
kesuksesan suatu perjuangan atas nama dakwah agama merupakan sesuatu
yang besar dan mulya, maka setiap para pemangkunya harus berhati-hati
karena akan ada pihak yang menghasudinya, karena aktivitas mereka tidak
disenanginya.
Kedua,setiap penyeru kebenaran, sudah dipastikan akan berhadapan
dengan musuh-musuhnya yang lebih banyak. Argumen masalah ini
sebagaimana Q.S. Al-An'am: 112;
وَكَذَلِكَ جَعَلÙ'نَا
لِكُلِÙ` نَبِيٍÙ`
عَدُوÙ&lsqauo;Ù`ا شَيَاطِينَ
الÙ'إِنÙ'سِ وَالÙ'جِنِÙ`
يُوحِي بَعÙ'ضُهُمÙ' إِلَى
بَعÙ'ضٍ زُخÙ'رُفَ
الÙ'Ù‚ÙŽÙˆÙ'لِ غُرُورÙ&lsqauo;ا
ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙˆÙ' شَاءَ رَبُÙ`ÙƒÙŽ مَا
فَعَلُوهُ فَذَرÙ'هُمÙ'
وَمَا يَفÙ'تَرُونَ
Dan demikian Kami jadikan bagi setiap nabi musuh-musuh berupa para
pemimpin manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian
lainnya dengan bisikan yang buruk dan mengandung tipuan. Kalau Tuhan mu
enghendaki terhadap apa yang mereka telah lakukannya, maka tentu mereka
sudah ditinggalkannya dan ditinggalkan pula apa yang mereka telah
adakan.
Ketiga,semakin kuat tantangan semakin bertambah pula semangat jihad;
apalagi bagi mereka yang bergerak di bawah suatu payung ideologi gerakan
yang membawa missi suci dakwah Islamiyah yaitu suatu dakwah yang
memiliki sasaran terjalinnya hubumgan kuat di antara makhluk dan
Khaliknya dalam berbagai urusan.
Terutama, dalam mengembalikan citra kehidupan pada pase awal masyarakat
Islam, pada masa Rasulullah SAW, melalui pemusatan seluruh kegiatan
kemanusiaan guna tegaknya syari'at Islam, zhahir dan batinnya.
Bersamaan dengan tegaknya masyarakat Islami yang terintegrasi di antara
kekuatan aqidah tauhidullah, syari'ah yang lurus disertai manhaj
kehidupannya yang berakhlak karimah ( Sulaiman al- Salman, Dakwah al-
Syaikh : I/ 52).
Keempat, berdakwah dengan menghilangkan kesyubhatan dalam paham agama
dengan penuh argumentatif ilmiyah dan moralitas. Hal ini,
dipertimbangkan karena perjalanan umat setelah melewati berbagai
pergumulan pemikiran kalam/ teologi yang objeknya hanya sebatas konsumsi
pemikiran yang tidak ada habisnya sebagaimana telah dibangun oleh
paham-paham kalam Asy'ariyah, Maturidiyah dan Muktazilah.
Kemudian, al-Syaikh mengembangkan sistem teologi yang rasional yang bisa
dipahami dan bisa dilaksanakan dalam setiap aktivitas kehidupan, dengan
mangacu pada teologi Ibn Taimiyah, dengan pemikiran tasawwuf amalinya
Ibn al-Qayyim al- Jawziyah. Karena itu, sinergitas dakwah
direlevansikan dengan amaliah yang mengandung hikmah dan kebaikan.
Bila ditelusuri, bagian menghilangkan kesyubhatan dalam ajaran agama di
atas, merupakan ikhtiar yang telah dibangun Imam Ahmad Ibn Hanbal dalam
periwayatan Hadits jauh sebelumnya, bahwa dia tidak senang meriwayatkan
Hadits yang tidak jelas pemahamannya atau masih syubhat.
Kelima, mengangkat subtansi kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya sebagai
sumber acuan. Berfikir subtantif berbeda dengan berfikir intrumenttal
dan formal. Jika mengacu pada isyarat Q.S. al- Maidah : 48, ditemukan
ungkapan syir'ah dan minhaj. Kedua ungkapan tersebut, merupakan
standar bagi keberagamaan umat; dan berdasarkan keduanya itu subtansi
dan intrumental dalam keberagamaan bisa di tentukan.
Syir'ahdiperuntukkan bagi bangunan keilmuan seperti ilmu-ilmu
pengetahuan yang berkembang sekarang ini, baik ilmu naqliyah atau
`aqliyah.Pola syir'ah ini memunculkan bangunan pemikiran dan
amaliah dalam keberagamaan seperti sekarang ini. Sedangkan minhaj,
diperuntukkan bagi penetapan standar subtantif dalam keberagamaan ( Cf.
Ayat Dimyati, Relasi Ilmu dan Hidayah, mklh pendahuluan bagi bangunan
Tauhid Ilmu,; SM, No. 22-23, edisi November 2010).

Keenam, menghidmati ilmu dan menjauhi taklid. Ketidak mungkinan bagi
seseorang seperti al-Syaikh atau siapa saja yang mengembangkan metoda
mujadalah al- hasanah,dalam setiap penyempaian dakwahnya, jika tidak
didukung oleh kelengkapan ilmu pengetahuan dan kecerdikan dalam
berlogika, sikap terbuka dan siap menerima kritik. Hanya dengan cara
seperti ini, langsung atau tidak langsung taqlid buta akan ditinggalkan.
Namun, al- Syaikh masih tetap membuka toleransi taqlid bagi orang-orang
yang awam, asal mengikutinya didasarkan pada argumen syar'iy, bagi
akidah dan ibadah sebagai mana diungkap di atas.
Ketujuh, menjauhi rasa khawatir karena akan mengembalikan sikap pada
prilaku politis yang menutupinya dengan atas nama al-Islam atau agama.
Bagian ini, yang menunjukkan sikap berani ( al-syajâ'ah ) yang
ditunjukkan al-Syaikh dalam menunaikan dakwah islamiyahnya. Apa yang
dilakukan al-Syaikh dalamstrategi dakwahnya ini, memanfaatkan filsafat
nilai yang berbunyi, semakin menjauh dari sumber cahaya, semakin menjauh
pula kemampuan menemukan cahaya kebenaran dari sesuatu itu.
Beberapa Sebab Penentangan terhadap Dakwah.
Pemuncul berbagai prilaku penentangan dalam setiap seruan kebenaran
dilakukan oleh al-Syaikh dan murid-muridnya, disebabkan karena beberapa
sikaf berikut: 1) Sikap membalikkan fakta yang benar dikatakan salah,
dan yang salah dikatakan benar. Dikatakan demikian, karena standar
perbuatan dan pemikiran yang mengatasnamakan agama, tidak ada jalan lain
kecuali dengan pengembalian ajaran tersebut kepada sumber aslinya (
Alqur'an dan al-Sunnah ), karena hal itu merupakan cara yang bisa
dipertanggung jawabkan secara ilmiyah. Sikap membalikkan fakta ini,
tiada lain karena dominasi egoisme keagamaan seseorang lebih menonjol
dari pada kepasrahan terhadap kebenaran ajaran agama itu.
2) Adanya keyakinan umat bahwa membangun kuburan itu disertakan juga
untuk dijadikan mesjid. Padahal diperoleh beberapa riwayat tentang
larangan kuburan dijadikan mesjid.[23]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn23
>
3) Terdapatnya pandangan bahwa berdo'a kepada selain Allah, tidak
dipandang syirk; padahal sikap seperti itu secara tegas dinyatakan bahwa
sifat hamba Akllah itu, tidak berdo'a kepada selain Allah,
sebagaimana dinyatakan Q.S.al-Furqan,68.[24]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn24
>
4) Tuduhan terhadap mereka yang mengingkari tradisi-tradisi itu, sungguh
telah membenci orang shaleh dan para wali. Sebenarnya, cinta dan
menyayangi orang saleh itu, bukan dengan cara membuat tradisi-tradisi
secara pasif sebatas mengagungkan diri mereka yang telah tiada, tetapi
dengan cara mengikuti jejak dan langkah yang mereka lakukan untuk agama
Islam dengan lebih aktif lagi, sehingga segala kekurangan yang
dilakukannya bisa disempurnakannya; bukan dengan cara seperti itu.
5) Penisbahan kepada seorang berilmu ( ulama ) yang menolak dakwah,
sebenarnya dia itu bodoh; dan hakikat mereka ini adalah tidak
mengetahui kebenaran; jika mereka menyerukan yang hak, seruannya itu
didasarkan pada taklid buta. Karena itu, setiap penyeru kebenaran yang
kebenarannya sudah teruji; beratsarkan memajukan, mensejahtrakan dan
mencerdaskan umat; dan ketika berhadapan dengan suasana tuduhan seperti
itu diperlukan ketulusan, kesabaran dan sikap tawakkal kepada Allah SWT
semakin kuat. Allah SWT yang akan menyelesaikan di akhir kelak,berbagai
konplik dan mendudukkan kebenaran tersebut di antara umatyang berselisih
itu.[25]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn25
>
Pengaruh dan Silsilah Gerakan Dakwah Syaikh Muhammad Ibn Abd al-Wahhab.
Aspek pengaruh dakwah al-Syaikh ini dapat dibagi dua: Pertama, yang
bersifat pengembangan kualitas keberagamaan, baik pemikiran dan SDU,
yaitu akal mereka tercerahkan, dengan berbagai literatur dan kajian
keislaman untuk perubahan berbagai kebaikan hampir selama 2 abad
lamanya; terutama sekarang ini, dakwah Nampak terselenggara dengan
berbagai pendukungnya, baik melalui alat cetak maupun elektronik.
Kedua, yang bersifat politis kekuasaan, bagian ini yang sangat menonjol
kepermukaan, karena tidak sekedar muncul dengan sendirinya, tetapi
merupakan pemicu datangnya berbagai tantangan, fitnah, tipu muslihat dan
tuduhan dari luar yang dipandangnya sebagai ancaman dari berbagai sudut
kehidupan, politik, budaya, seni dan hukum; terutama tantangan tersebut
dating dari Barat yang pandangan hidup mereka sangat berbeda dengan
kaum Muslimin, belum lagi tantangan yang datang dari musuh lama Yahudi
dan Nashraniy. Justru dengan banyak tantangan, persiapan semakin matang
dan gerakan semakin kuat.
Dakwah yang diselenggarakan dengan dua aspek di atas, maka pengaruh
bagi pembangunan keumatan di dunia Islam dan secara spesipik
pemerintahan Kerajaan Saudia, sbb.: 1) Tersebarnya aktivitas dakwah
keberbagai daerah di seputar teluk Arab dari tahun 1159 H/ 1749 M,
sampai al- Syaikh wafat pada tahun 1206 H / 1791 M.
2) Aktivitas dakwah tersebut terus berlanjut sampai tidak ada akhir,
sekalipun harus melewati berbagai pengorbanan harta dan jiwa, sehingga
wilayah dakwa semakin meluas dan dikuti dengan persatuan dari sebelumnya
perpecahan, ketaatan dari sebelumnya penyimpangan dan kedurhakaan,
kecerdikan dan ilmu dari sebelumnya kebodohan, ketauhidan dari
sebelumnya kemusyrikan; demikian juga berakhlak baik dalam
bermua'malah dari yang sebelumnya berakhlak buruk.
3) Agama Islam dan kaum muslimin menjadi lebih baik, sekalipun
pertentangan di antara hak dan batil yang terjadi sebelumnya, menjadi
para pendukung dan penolong dakwah.
4) Kekuasaan yang membawa missi keislaman tegak dengan penuh kemulyaan,
melalui persatuan di antara berbagai keamiran di bawah bendera yang
terbentang mulai dari laut Merah sebelah barat sampai Teluk Arab bagian
Timur dari Syam sebelah Utara sampai Yaman Selatan.
5) Daulah Arabiyah Sa'udiyah pertama berdiri di Jazirah Arabiya,
mengkolepkan kerajaan-kerajaan diseputar Syam, Irak, oleh sebab sesuatu
yang menjadi kedaulatan Turki Utsmani terusir, sampai terciptanya
keamanan.
6) Dengan prestasi kekuatan seperti itu, Negara-negara terdekat seperti
Mesir yang dipimpin Muhammad Ali Fasya, kemudian putranya, Thusun,
sampai putranya lagi, Ibrahim Fasya ( 1231 H/ 1816 M) memberikan
dukungan kuat untuk berdirinya Kekuasaan Saudia Pertama pada bulan
Jumad Ula tahun 1233 H. Dengan demikian berakhirlah penguasaan orang
Turki atas kekuasaan Saudi Arabiya pertama pada bulan Dzu al-Qa'dah
tahun itu.
7) Pada tahun itu pula secara politis kekuasaan Negara Najdiyah dilebur
menjadi Kekuasaan Saudiyah Kedua; dan pada saat ini pula pemikiran
dakwah salafiyah al- ishlâhiyah tegak mandiri di hadapan orang-orang.
8) Masyarakat Najdiy di bawah naungan keluarga Saudiyah menolak hukum di
bawah payung kekuasaan Turki, Muhammad Ali.
9) Ketika Turkiy Ibn Abdullah ibn Muhammad Ibn Sa'ud ( 1238 H /1823
M) saat mulai berdirinya kekuasaan Saudia Kedua, keamiran Ali Rasyid
negeri Kuwait menerima hukum yang diterapkan negeri Najd tahun 1309 H/
1891 M, yang sebelumnya menerapkan hukum Turki Ottoman. Dengan demikian,
maka lengkaplah dengan segala kemandiriannya, Kerajaan Arab Saudia
menyerukan dakwah islamiyah keseluruh peloksok negeri di dunia ini (
Sulaiman salman, Da'wah al- Syaikh : I/ 129- 132).

Penolakan Internal Umat Islam Dunia.
Sudah menjadi hukum kehidupan, tidak ada gerakan tanpa sebuah
tantangan, demikian juga gerakan yang dilakukan al-Syaikh Abdul Wahab
dari sejak pertama kali gerakan itu muncul penolakan dalam bentuk
tekanan mental sudah dimulainya sendiri. Namun, kesemuanya itu bisa di
atasanya berkat pertolongan Allah SWT. Diantara penolakan dari
gerakannya itu, disebabkan, a.l.:
1)Penghancuran situs, artepak produk sejarah umat Islam awal,
disinyalir tempat-tempat sudah dijadikan tempat berjiarah yang
berlebihan sehingga bisa menyebabkan rusaknya keyakinan tauhid umat,
karena tempat-tempat itu sebagai berhala-berhala oleh sebagian umat
Islam.
2) Th.1801-1802M, Abd Aziz Ibn Muhammad Ibn Saud merebut kota-kota
Karbala dan Najaf di Irak, disertai dengan pembantaian terhadap
penduduk muslimdi tempat itu dan penghancuran makan Husen Ibn Ali .[26]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn26
>
3) Th.1803, penghancuran monumen sejarah, situs muslim, makam Fatimah,
bahkan makan Nabi SAW akan dibongkarsetelah penguasaan dan pengendalian
di Makkah dan Medinah .
4)Th. 1998, pembuldoseranmakan ibunda Aminah Int Wahb ibunda nabi
SAWdengan dalil demi dakwah Islam; bagian ini yang menjadikan kaum
Muslimin dunia marah.[27]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn27
>
Bagian ini yang penulispun tidak sepandangan, karena istilah
pemberhalaan—sebagai ungkapan sudah terjadinya kemusyrikan--, jika
polanya tidak melalui proses dialog karena kemusyrikan adalah bagian
batin seseorang, daklam penyelesaiannya tidak cukup hanya sebatas
penilaian terhadap aktivitas umat pada aspek lahirnya, maka tindakan
tersebut benar sebagai tindakan brutal di luar dakwah dengan hikmah,
maw'izhah hasanah dan mujadalah yang baik; tetapi jika pintu-pintu
tersebut sudah dilewatinya, maka pasilitas dan tempat tersebut diizinkan
untuk dihancurkan, karena sudah benar sebagai medium wasilah
kemusyrikan.
Jika sudah demikian, dan ada perlawanan disebabkan karena kebodohan
mereka merespon pengaruh isu buruk dari pihak luar yang kutrang baik,
adalah bagian dari wujud tindakan illa bi al-haq yang paling akhir,
sesuai dengan kaidah al- mashlahah al- `âmmah muqaddamatun
`alâ mashlahah al-khâshashah.

Beberapa Kritikan dan TuduhanSumbang atas Gerakan Dakwah.
Kritikan dan tuduhan sumbang itu, pada umumnya tidak ditujukan pada
al-Syaikh Muhammad Ibn Abd Wahab, tetapi pada perkembangan berikuthya.
Kalaupun ada tuduhan sumbang padanya lebih mengandung informasi tidak
valid, bahkan bernuansa fitnah dan diada-adakan.
Tiga hal yang menjadi pertimbangan di sini. Pertama, tuduhan itu lebih
bernuansa politis, baik karena prestise-prestise individual maupun
karena persaingan kekuasaan pada level internal yang datang dari di
bahwah kekuasaan keamiran karena paham furu'iyah keagamaan seperti
Syi'ah dan Sunni;
kedua, desakan nasionalisme Arab untuk keluar dari kekuasaan Ottoman (
Turki ) yang mengusung desakan diantara keamiran untuk menyatukan diri
di bawah kekuasaan bangsa Arab;
dan ketiga, kekuatan politik internasional yang berbeda filsafat
hidupnya dan orientasi matrial semata, seperti pandangan kapitalisme
dan matrialisme yang bercokol dalam kekuasaan negara-negara Barat.
Mereka membuat label tersendiri yang tidak bisa diterima, sapai kapanpun
oleh yang diberi label itu, seperti label "wahabiah" atau
"wahabi" bagi gerakan yang mengusung gagasan al-Syaikh Abdul
Wahab.
Tuduhan-tuduhan sumir tersebut dikemukakan oleh : 1) Hamidi Ressidi
yang memandang wahabisme sebagai sekte Islam pemecah belah ataukhawarij
( outlier ) dengan sekolah-sekolahnya di lingkungan Utsmani dan Mesir.
Sekolah-sekolah itu didirikan untuk mendukung missi wahhabi.
2) Ahmad Tandatawin Barakat menggambarkan wahabi sebagai simbul
kebodohan.[28]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn28
>
3)Muhammad Sa'id Ramdhan, Islam Supreme Council of Amerika; dan
Hadi Abd Pallazi memasukkan wahabisme sebagai ektrimis dan sesat, karena
penolakan terhadap ulama Sunni tradisional dan karena penafsiran yang
berbeda dengan 96 % populis muslim dunia;[29]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn29
> dan
4) Muslim Hui Cina, Sunni Hanafi Gedimu, Hafiya sufi, Jahriya, Yihewani
(sekte fundamenlais Cina) memusuhi ajaran wahabi dan dianggapnya
bid'ah;[30]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn30
>
5) Muslim Kuomintang sufi menganiaya mereka dan memaksanya untuk
beribadat tersembunyi;
6) Bahkan ada juga yang menyatakan bahwa Syaikh Abd al-Wahab itu
sufisme, bila dibandingkan dengan ahli Tafsir, Fiqh dan hadits.[31]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn31
>
Tuduhan lainnya adalah gerakan "wahabisme" dikelompokan pada
gerakan muslim militan al-Qaida yang dipimpin Osama Ibn Laden. Tuduhan
ini tidak memiliki alasan asal usul dengan ajaran al-Syaikh Ibn Abd
Wahab dan tidak mewakili apa yang berkembang dalam pemerintahan Arab
Saudi kontemporer. Ibn Laden bukan refresentasi dari gerakan jihad Islam
global pada umumnya. Gerakan itu adalah khusus saja bagi gerkan Osama
Ibn Laden[32]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn32
> .
Noal Feldman (After Jihad: American and the Strugel for Islamic
Democracy, New York, Farrar Straus and Giroux, 2003, hal 47) membedakan
di antara apa yang disebut muslim konservatif bagi wahabi dengan apa
yang disebut pengikuti Islam ( Ikhwan al- Muslimin) pada tahun 1980-
1990 seperti kelompok Jihad Islam Mesir. Sementara wahabi Saudi sebagai
penyandang dana terbesarnya, demikian juga terhadap pendanaan Islam
garis keras saat ini di berbagai negara. Mereka sangat menentang keras
pembunuhan terhadap pemimpim pemerintahan muslim.[33]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftn33
> Mereka berkeyakinan bahwa keputusan
untuk berjihad berbarengan dengan penguasa bukan orang beriman (
Wikipedia, 2 Desember 2011, Wahabi : 41-42 ).
Demikian juga Karen Amstrong ( The Label of Catholic Terror was never
used about, the IRA guardian.co.) yang diutus AS ke negara Islam
Saudi Arabia, menyatakan bahwa Osama Ibn Laden, seperti kebanyakan
ektrimis lainnya adalah pengikut teologi Sayyid Quthub bukan wahabisme (
Ibid.: 43 ).
Dengan keterangan bagian terakhir ini, sudah semakin jelas bahwa
pandangan para orientalis Barat pun tidak sepakat bahwa sebutan
"wahabi" untuk label bagi kegiatan teroris, ektrimis,
fundamentalis yang berimplikasi kerusakan dan fitnah, dilabelkan kepada
gerakan para pengikut al-Syaikh yang memiliki sasaran internal umat,
meliputi gerakan dzu aql ( (pencerdasan), ishlahiyah ( perdamaian
),tajdidiyah ( pembaharuan) dan wahdaniyah ( persatuan ) adalah sama
sekali kurang tepat; sama dengan kurang tepat dan bijaknya istilah
tersebut ( "wahabisme" ) dilabelkan kepada perorangan atau
kelompok organisasi yang sasaran gerakannya untuk memajukan,
meningkatkan, memberdayakan umat, bahkan mencari solusi terhadap
berbagai persoalan yang dihadapi mereka, termasuk mencari solusi
terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa dan negara sekarang
ini. Wa Allahu a'lam.
Kesimpulan.• Gerakan Salafy atau Muwahhid adalah gerakan
purifikasi dan tajdid, yang di pimpinkan oleh al-Syaikh Muhammad Ibn Abd
al-Wahab dan Amir Muhammad Ibn Sa'ud, dan diikuti oleh para
pelanjutnya, ber prinsifkan gerakan dakwah amar makruf nahyi munkar,
secara utuh kembali kepada ajaran Islam aspek akidah, ibadah, do'a,
dan penegakkan hukum Hudud dengan berpedoman kepada Alqur'an dan
al-Sunnah al-Shahihah;
• Metoda interpretasi terhadap teks, merujuk pada interpretasi
periode awal umat Islam, pandangan khulafa al- Rasyidun, salaf al-shalih
serta ijtihad dalam urusan dunyawiyah, namun tidak otoritatif;
• Penyebutan Wahabi atau Wahabiyah, datang dari para orientalis
Barat, sedangkan para pelanjut gerakan al-Syaikh tidak mengenal dan
mengakuinya; dan pelabelan yang paling bisa dipertanggung jawabkan
adalah salafi atau muwahhid karena diterima dan diakui oleh mereka para
pengikutnya;
• Fokus-fokus dakwah dan seruan jihad berangkat dari
tauhidullah yang kebijakan oprasionalnya merapat dengan otoritas
pemerintahan /politik yang segala aturannya juga mengacu pada aturan
syari'at. Komitmen ini, telah ditetapkan sejak mulai pertemuan (
bai'ah ) kedua tokoh pemangku gerakan dakwah tersebut yang
dikomitmeni sampai sekarang ini;
• Pergeseran pola dakwah, dimungkinkan karena adanya perubahan
yang terjadi di luar. Pase awal sekalipun ditemukan konplik, hanya
bersifat seruan internal untuk membersihkan umat dari keyakinan dan
ibadat yang tidak dicontohkan Nabi SAW, karena itu prinsif sasaran
gerakannya adalah kembali ke salaf shalih;
• Strategi dakwah berangkat dari seruan dengan khithabah,
tabligh ( al-qwliyah ) dan dialog/ debat (mujadalah) yang baik, menuju
perbuatan dan penegakkan hukum Allah di bawah kepemimpinan politik dalam
sebuah pemerintahan;
• Pengaruh dari gerakan dakwahnya sampai ke manca negara,
sekali pun tidak lepas dari kritik internal sesama kaum muslimin oleh
sebab tradisi keagamaan yang berbeda, maupun ekternal non kaum muslimin
sampai pada tuduhan yang tidak pantas dilabelkan pada gerakan yang
menjunjung tinggi persatuan (al-wahdah ) dan perdamaian (
al-Ishlahiyah).
• Dana dakwah sangat besar dikeluarkan mencapai ratus an milyar
dollar untuk membangun sarana keagamaan, pendidikan, tempat ibadah, dan
biaya oprasional dan kegiatan serta promosi visi missi, disiapkan
terutama setelah kenaikan minyak 3 x lipat pada tahun 1970-an. Hal ini
adalah bagian dari komitmen yang ditunjukan mereka, yang berarti
keadilan di tegakkan dan pertolongan Allah SWT terus mengalir kepada
mereka dan negerinya, di tengah-tengah tekanan dan arogansi kapitalisme,
matrialisme dan individualisme yang mendominasi kehidupan di dunia Islam
sekarang ini.
• Fitnah teroris, jahalah, pelaku bid'ah, dan pemecah belah
umat, yang ditimpakan terhadap gerakan "wahabi" ini, karena
terkait dan tersamarkan dengan gerakan ideologi lainnya yang sama-sama
mengangkat bendera Islam, seperti: Quthbism, al-Qaidanism, Talibanism,
Islamic Fundamentalism dan Jihadi Internasional.
Wa Allahu a'lam bi al-shawab.
H. Ayat Dimyati, Ketua PWM Jawa Barat Daftar Rujukan•
Prof.D.H.Yunahar Ilyas. Lc. MA, Cakrawala Alqur'an, Tafsir Tematik
tentang berbagai Aspek Kehidupan, Itqan Publishing, Yogyakarta, 2009.
• DR.H.Haedar Nashir, Msi. Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan,
SM, Yogyakarta, 2010.• ....................................,
Ideologi Muhammadiyah , • Ayat Dimyati, Relasi Ilmu dan
Hidayah, makalah dlm. SM No 22, 23 Th. 2010.•
الامام محمد بن سعود دولة
الدعوة والدعاة : عبد الله
التركى : وزارة الشؤن: 1418 ص:
127• الامام محمد بن عبد
الوهاب دعوته و سيرته : عبد
الله بن باز : الرئاسة
ص: 127 العامة : 1411• Jurnal : Studies in
Conflict & Terrorism, Vol 29 ( 2006): P. 235.• Wikipedia
Proyect, 2 Desember 20011.• Thomas Fatrick Hughes, dlm
:Dictiponary of Islam .• DS Margholiouth, dlm : Encyclopedia of
Islam, 1933-1963.
* الشيخ محمد بن عبد الوهاب
فى الرؤية الاشتراقية: ناصر
بن عبد الله : وزارة : 1423 ه 2002
م ص : 146
§ دعوة الشيخ محمد بن
عبدالوهاب و أثارها فى
العللم الاسلامى : محمد بن
عبد الله بن سليمان :
وزارة : 1422 Ù‡ ص : 112 · حسن
عبد الله آل الشيخ :
الوهابية وزعيمها محمد بن
عبد الوهاب , مجلة العربي ,
العدد 147 , فبراير 1971 Ù… , ص 26. ·
أحمد علي : آل سعود ص 212 ط
بيروت عام 1376 هـ ( 1957 Ù… ·
طه حسين : الحياة الأدبية في
جزيرة العرب ص 13 وما بعدها. ·
http.://mailofislam_webstarts.com/uploads/fitna-tul-wahabiyyah-pdf
<http://mailofislam_webstarts.com/uploads/fitna-tul-wahabiyyah-pdf> .
· www.correctislamicfaith.com/fitna_tul_wahhabiyyah.htm
<http://www.correctislamicfaith.com/fitna_tul_wahhabiyyah.htm> . ·
Natana J Dellong-Bas, Wahhabi's Islam: From Revival and Reform to
Global Jihad, Oxford U.P, 2004, p. 279. · Karen Amstrong,
The Label of Catholic Terror was Never Used about, the IRA guardian.co
<http://guardian.co/> . · Noal Feldman, After Jihad: American
and the strugle for Islamic Democracy, New York, Farror Straus and
Girroux, 2009.p. 47. · Salah Nasrawi, Macca's ancient
Heritage is under attack, September 16, 2007. Los Angeles Time. ·
Irfan Ahmed, The Destruction of Holy Sites, in Macca and Medina, in
Islamic Magazin , Issu, 1 Juli , 2006. [1]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref1
> Tiga pilar teori Karl Marx (
1818-1883) yang mendasari komunisme dan sosialisme :1) Matrialisme
sejarah (ekonomi merupakan infrastruktur yang menentukan jalan
sejarah); 2) Pemilik modal, penguasaan alat-alat produksi, pemeras
buruh, merupakan sumber ketidakadilan harus dimusnahkan; 3) Sejarah
dunia merupakan perjuangan kaum proletar ( wong cilik ) melawan kaum
borjuis yang berujung pada masyarakat tanpa kelas dalam kediktatoran
proletariat dan sosialisme negara. 4) Tema pokok perjuangan Marx, adalah
: Emansipasi, Perjuangan kelas, dan penghapusan milik pribadi.
Tokoh-tokohnya yang lain: Friederik Engels (1820-1895); Karl Kautsky (
1854-1938 ); W.I Lenin ( pimpinan Revolusi Rusia, merupakan puncaknya
perjuangan kaum buruh dalam politik suatu negara besar dan ideologi
dunia, Oktober 1917). [2]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref2
> Teori Adam Smithtentang kapitalisme:1
) Penentangan terhadap kontrol ketat setiap individu yang berusaha
ekonomi; dengan prinsip laissez-faire; 2)kebebasan individu untuk
menarik keuntungan sebesar-besarnya dalam sistem pasar bebas; 3) Ujung
Kapitalisme adalah globalisasi, trannasional isme dan multinasionalisme
atau kapitalisme global. [3]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref3
> Cf. Frof. DR.H. Yunahar Ilyas LC.
MA, Cakrawala Al-Qur'an, Tafsir Tematis tentang Berbagai Aspek
Kehidupan, Itqan, Jogyakarta, th.2009. [4]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref4
> Hal ini lebih dijelaskan lagi dalam
mklh penulis, dalam topik "Relasi Ilmu dan Hidayah" dlm SM edisi
November tahun 2010. [5]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref5
> Cf. Prof. DR.H. Yunahar Ilyas,
Op.Cit, hal 122. [6]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref6
> DR. H.Haedar Nashir MSi ( Ideologi
Gerakan Muhammadiyah, hal. 11-20; dan Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan,
SM, 2010; hal. 194-195), bahwa suatu gerakan dikatakan beridiologis jika
memiliki unsur-unsur sbb.: 1) paham atau pandangan komprehenshif
tentang manusia, dunia, alam, dan kehidupan; 2) sistem paham bagi
perencanaan dan penataan sosial politik; 3) kesadaran memperjuangkan
pemahaman/ pandangan tsb; 4) usaha mengarahkan masyarakat; dan 5)
memobilisasi para kader dan warga masyararakat. Ali Shari'ati (
dlm, Haedar N, Ibid. ) ideologi merupakan paham dan teori perjuangan
yang dianut kuat oleh kelompok manusia menuju cita-cita sosial
tertentu. [7]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref7
> Isma'il Razi al- Faruqi
(Tauhid: 16-219 ) menyatakan bahwa tauhid sebagai prinsip dakwah,
dipertimbangkan karena beberapa hal : 1) Manusia sebagai satu-satunya
makhluk yang diamanati atau dipercayai Tuhan sebagai wakil-Nya di bumi;
2) Posisi hukum alam sebagai realisasi kehendak ilahi hanya bersifat
elementer dan utiliter. Manusia dalam mensikapi hukum itu terbagi tiga :
(1) melaksanakannya dengan baik; (2) tidak melaksanakannya; atau ( 3)
ragu; 4)Unsur moral merupakan tingkatan paling tinggi dalam merespon
kehendak Tuhan; 5) Taklif ( kewajiban ) merupakan landasan bagi kemanusi
aan manusia, baik makna dan kandungannya, dan juga meninggikan derajat
manusia dari makhluk lainnya; 6)Humanisme universal dan kemerdekaan
semua orang, merupakan kemanusia an manusia yang paling pokok, hanya
predikat lebih diberikan kepada mereka yang paling bertakwa;7)Ketaqwaan
individu itu perlu mengalir kepada yang lainnya dengan diajak, dididik,
diingatkan dan didorong untuk ikut serta melakukan ketaqwaan itu secara
sadar, bukan karena paksaan; 8)Ketaatan melalui pemaksaan, akan
menghilangkan muatan moral di dalamnya; 9)Ketentuan itu bersifat univer
sal, ada dua wilayah dalam dunia ini, dar al-Islam dan dar al-harb dalam
teori klasik, tidak dan wilayah ketiga dalam tatatan kebebasan etika,
tanggung jawab dan kedamaian. [8]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref8
> Prinsip ini berkaitan dengan
kemurnian dalam menyampaikan dakwah Islam dengan tidak disertai
dorongan hawa nafs, Q.S. al-Ra'd : 37; Seperti demikian itu, Kami
turunkan Alqur'an sebagai hukum yang menjelaskan hak dan batil,
berbahasa Arab; dan jika kamu mengikuti hawa nafs mereka setelah datang
kepada kamu ilmu ( wahyu), maka kamu tidak akan lagi diperoleh
pertolongan atau perlindungan dari Allah SWT. [9]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref9
> Dalam kebijakan program PP
Muhammadiyah terhadap hasil Muktamar 1 abad 2010 yang sekarang sedang
dilaksanakan, diperoleh istilah yang di sebut IPO ( Input velues, Proses
velues dan Output velues ). [10]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref10
> Beberapa ayat Alqur'an
menunjukkan fungsi keilmuan ini, salah satunya Q.S.al-Mujadalah,11: Hai
orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kamu sekalian
lapangkanlah majlis kamu sekalian, maka kamu melapangkannya, Allah akan
memberikan kepangan kepada kamu sekalian; dan jika dikatakan bangunlah
kamu sekalian, maka kamusekalian bangun dari posisi duduk kamu, maka
Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
berilmu di antara kamu sekalian, dan Allah Maha Waspada terhadap apa
yang kamu sekalian lakukan. [11]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref11
> مسند أحمد - (ج
49 / ص 229)عَنÙ' عَائِشَةَ
قَالَتÙ'قَالَ رَسُولُ
اللَÙ`هِ صَلَÙ`Ù‰ اللَÙ`هُ
عَلَيÙ'هِ وَسَلَÙ`Ù…ÙŽ
إِنَÙ` مِنÙ' Ø£ÙŽÙƒÙ'مَلِ
الÙ'مُؤÙ'مِنِينَ إِيمَانÙ&lsqauo;ا
Ø£ÙŽØ­Ù'سَنَهُمÙ' خُلُقÙ&lsqauo;ا
ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ„Ù'طَفَهُمÙ'
بِأَهÙ'لِهHr. Ahmad dari `Aisyah ra, berkata :
Rasulullah SAW berkata sungguh bagian dari kesempurnaan iman orang-orang
mukmin itu adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan mereka yang
paling lembut dalam menggauli keluarganya.[12]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref12
> Al-Syaikh Abd Wahab berkata : Aku
menyeru orang-orang yang berbeda dengan ku salah satu dari empat hal :
1) kembali kepada Alqur'an; 2) kembali kepada al-Sunnah; 3) kembali
kepada ijma' ahli `ilm; dan 4) kembali atsar salaf al- shalih .
Terhadap keempat pandangan ini bisa dipercayainya ( Nashir, al-Syaikh:
Juz I, 87 ) [13]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref13
> Dijadikannya sebagai rujukan pertama
dan kedua dalam pandangan Syaikh Abd Wahab, berhubungan erat dengan
pengalaman dan kedalaman ilmu pengetahuan tentang kedua sumber itu.
Alqur'an telah dihafalnya sejak usia berilau kurang sepuluh tahun;
sedangkan terhadap Hadits Nabawi beliau telah mengikhtisharkan syarah
Shahih Bukhari, Fath al- Bari karya Ibn Hajar. Karena itu, para
pengusung dakwah menyampaikan apa yang dikemukakan Imam Malik bahwa
setiap sesuatu itu tidak bisa diambil dan ditinggalkan kecuali dari Nabi
SAW, jika sudah jelas bagi mereka itu ada landasan sunnahnya yang shahih
dari Rasulullah SAW, maka kewajiban untuk mengamalkannya, perkataan
selain nabi SAW tidak bisa didahulukan bagaimanapun kondisinya. Mereka
beriman kepada nabi Muhammad SAW yang mesti diutamakan. Sebaik-baik
ummatnya adalah al-Khulafa al- Rasyidun kemudian sahabat lainnya (
Dakwah al- Syaikh: ج 1 / ص 57). [14]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref14
> يَا
أَيُÙ`هَا الرَÙ`سُولُ
بَلِÙ`غÙ' مَا أُنÙ'زِلَ
إِلَيÙ'ÙƒÙŽ مِنÙ' رَبِÙ`ÙƒÙŽ
وَإِنÙ' Ù„ÙŽÙ…Ù' تَفÙ'عَلÙ'
فَمَا بَلَÙ`غÙ'تَ
رِسَالَتَهُ وَاللَÙ`هُ
يَعÙ'صِمُكَ مِنَ النَÙ`اسِ
إِنَÙ` اللَÙ`Ù‡ÙŽ لَا
ÙŠÙŽÙ‡Ù'دِي الÙ'Ù‚ÙŽÙˆÙ'Ù…ÙŽ
الÙ'كَافِرِينَ 67))الما ئدة [15]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref15
> صحيح البخاري -
(ج 11 / ص 277)عَنÙ' عَبÙ'دِ
اللَÙ`هِ بÙ'نِ
عَمÙ'رٍوأَنَÙ` النَÙ`بِيَÙ`
صَلَÙ`Ù‰ اللَÙ`هُ عَلَيÙ'هِ
وَسَلَÙ`Ù…ÙŽ قَالَ
بَلِÙ`غُوا عَنِÙ`ÙŠ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙˆÙ'
آيَةÙ&lsqauo; وَحَدِÙ`ثُوا عَنÙ'
بَنِي إِسÙ'رَائِيلَ وَلَا
حَرَجَ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ†Ù' كَذَبَ
عَلَيَÙ` مُتَعَمِÙ`دÙ&lsqauo;ا
فَلÙ'يَتَبَوَÙ`Ø£Ù'
Ù…ÙŽÙ‚Ù'عَدَهُ مِنÙ' النَÙ`ار
[16]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref16
> Sulaiman Salman ( I / 60-64)
menjelaskan pengaruh ketiga tokoh, Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Taimiyah dan
Ibn al- Qayyim nyata dalam gerakan syaikh Abd Wahab, terutama pandangan
dan pikiran serta gerakan Syaikh Ibn Taimiyah dikatakan sebagai ulama
salaf yang paling berpengaruh dalam dakwahnya, seperti : antipati
terhadap gerakan tashawwuf, filsafat Yunani yang menyimpang dan
membatasi al- Kitab al- Al-Sunnah. Syaikh Abd wahab berpandangan bahwa
dakwah Islam tidal bisa dipercayai dengan hanya mengandalkan kekuatan
akal tok. Temuan Akal diperoleh melalui tajribah ( pelatihan /
penelitian) dan setiap penelitian tidak lepas dari banyak kesalahan,
sedangkan nash ayat dan Hadits datang dari keyakinan yang diturunkan.
Sedangkan akal diperlukan ada bukti untuk membenarkan dan
menyebarkannya; tidak mengurangkan dan tidak membenci apa yang dikandung
Alqur'an dan al- Sunnah al-shahihah. Secara spesipik pengaruh dari
Ibn al- Qayyim dalam hal kezuhudan dan kewaraannya; dan dari Ahmad Ibn
Hanbal dari aspek kewara'an dan ketaqwaannya, terutama dalam bidang
furu'iyah. Dalam madzhab Ahmad Ibn Hanbal termasuk salah satu
madzhab yang paling keras memeranghi bi'ah dalam agama; menyuarakan
ijtihad dan tidak berhenti pada pandangan para imam madzhab.[17]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref17
> Dikisahkan Syaikh Abd Wahab sampai
di Dar'iyah pada waktu Ashar di rumah Muhamad Ibn Suwailim (
muridnya). Namun, ia hampir tidak berani menerima tamunya itu karena ada
rasa khawatir datang dari keamiran Ibn Saud (Cf. Imam Muhammad Ibn
Sa'ud Dawlah al- dakwah wa al- Da'ah: I/ 37). Diantara nama-nama
keluarga yang konplik di wilayah Najd ketika itu, a.l: Ali Ma'mar
di Uyainah, Ali Sa'ud di Dar'iyah, Ali Zamil di al- Kharaj, Bani
Khalid di al- Ahsa, al- Asyraf di Hijaj, al- Sa'dun di
Wara'al-nahr, Diham Ibn Dawas di Riyadh. Ali Sa'ud pada saat
itu bukanlah keluarga yang paling kuat.[18]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref18
> Demikian itu Kami tidak mengutus
seorang pemberi peringatan sebelum kamu dalam suatu perkampungan kecuali
karena mereka yang rakus dalam kehidupannya berkata : Kami menemukan
ayah-ayah kami atas umat yang lain dan kami berada dalam pengaruh
mereka mengikutinya. [19]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref19
> Tauhidullah dalam konsep al- Syaikh,
meliputi tiga bagian : Rububiyah ( al- nafyu wa al- itsbat); Uluhiyah (
al-qashdu wa al-thalab); dan Shifat-Asma danDzat.[20]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref20
> Ada empat langkah yang bisa
dilakukan jika dalam studi matan Hadits ditemukan kondisi lafazh seperti
itu: ( 1) al-Jam'u yaitu mempertemukan diantara matan yang
ta'arudh kemudian diambil maqashidnya, atau sejarah turunnya, atau
informasi para shahabat yang terlibat langsung dalam perintiwa. (2)
al-Tarjihyaitu mencari tanda-tanda yang menunjukkan kondisi lebih utama
diamalkan salah satu dari kedua dalil tsb. (3) al-Naskh, yaitu
mengengkat hukum syar'iy yang terdahulu datangnya oleh sebab
terdapat dalil hukum syar'iy yang datang kemudian. (4) al-Tawaqquf,
menghentikan sementara sebelum ditemukan jalan keluar. Untuk sekarang
ini, prestasi kemajuan saintek sangat memungkinkan ditemukan jalan
keluar dari dalil yang ditawaqufkan tersebut. Karena tidak dimungkinkan
terdapat sabda Nabi SAW yang mubadzir atau tidak berguna, menyalahi
funmgsinya sebagai utusan Allah SWT sebagai teladan dan petunjuk bagi
kehidupan umat manusia. [21]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref21
> Hadits Nabi SAW dalam riwayat
Muslim dari Abdullah berkata : Rasulul SAW berkata : Mestilah kamu
sekalian jujur ( al-shidq), sungguh kejujuran itu akan menunjukkan pada
berbagai kebaikan ( al- bir), dan berbagai kebaikan itu akan menunjukkan
jalan ke surga.dan jauhilah kebohongan karena kebohongan itu akan
menunjukkan ke jalan kezhaliman dan kezhaliman akan menunjukkan kejalan
neraka. صحيح مسلم - (ج 13 / ص16 [22]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref22
> Pengamat Gilles Kepel pengaruh
wahabisme sangat besar terutama stl kenaikan harga minyak 3 x lipat pada
tahun 1970-an; dan secara progresif setelah diambil alih oleh Saudi
Aramco tahun 1974-1980. Di samping itu, secara tegas diinformasikan
Kementrian Kerajaanj Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Penyuluhan
mengeluarkan dana sebanyak $ 87.000.000.000 untuk meluaskan wahabisme ke
luar negeri selama dekade terakhir. [23]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref23
> صحيح البخاري -
(ج 5 / ص 99)عَنÙ' عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَÙ`هُ
عَنÙ'هَاعَنÙ' النَÙ`بِيِÙ`
صَلَÙ`Ù‰ اللَÙ`هُ عَلَيÙ'هِ
وَسَلَÙ`Ù…ÙŽ قَالَ فِي
مَرَضِهِ الَÙ`ذِي مَاتَ
فِيهِ لَعَنَ اللَÙ`هُ
الÙ'يَهُودَ وَالنَÙ`صَارَى
اتَÙ`خَذُوا قُبُورَ
Ø£ÙŽÙ†Ù'بِيَائِهِمÙ' مَسÙ'جِدÙ&lsqauo;ا
قَالَتÙ' ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙˆÙ'لَا
ذَلِكَ لَأَبÙ'رَزُوا
قَبÙ'رَهُ غَيÙ'رَ أَنِÙ`ÙŠ
Ø£ÙŽØ®Ù'Ø´ÙŽÙ‰ Ø£ÙŽÙ†Ù' يُتَÙ`خَذَ
مَسÙ'جِدÙ&lsqauo;ا(dari Aisyah ra., dari Nabi SAW berkata ketika
sakit yang menjadikannya meninggal bahwa Allah melaknat seorang
penganut agama Yahudi dan Nashrani yang menjadikan quburan para nabi
mereka sebagai masjid; Aisyah berkata kalau tidak demikian tentulah
mereka akan memperihatkan quburannya, kecuali aku khawatir quburan itu
dijadikan mesjid) [24]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref24
> وَالَÙ`ذِينَ
لَا يَدÙ'عُونَ مَعَ
اللَÙ`هِ إِلَهÙ&lsqauo;ا آَخَرَ
وَلَا ÙŠÙŽÙ‚Ù'تُلُونَ
النَÙ`فÙ'سَ الَÙ`تِي
حَرَÙ`Ù…ÙŽ اللَÙ`هُ إِلَÙ`ا
بِالÙ'حَقِÙ` وَلَا
يَزÙ'نُونَ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ†Ù'
يَفÙ'عَلÙ' ذَلِكَ ÙŠÙŽÙ„Ù'Ù‚ÙŽ
أَثَامÙ&lsqauo;ا [25]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref25
> فَاللَÙ`هُ
ÙŠÙŽØ­Ù'كُمُ بَيÙ'نَهُمÙ'
ÙŠÙŽÙˆÙ'Ù…ÙŽ الÙ'قِيَامَةِ
فِيمَا كَانُوا فِيهِ
ÙŠÙŽØ®Ù'تَلِفُونَ البقرة (113[26]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref26
> Irfan Ahmed , The Destruction of
Holy Sites, In Macca and Medina, in Islamic Magazin, Issu, 1 Juli, 2006.
[27]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref27
> John R. Bradley,Saudi's swites
walk tightrope, Asia Time, March , 17, 2005.[28]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref28
> Wikipedia, Wahabi, 2 Desember
20011. [29]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref29
> The Islamists Have it Wrong Middle
East Quarterly, Summer, 2001 [30]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref30
> Michail Dillon, China's Muslim
Hui Community, Migration, Settlement and Sects, RCP, hal. 104, 1999.
[31]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref31
> Makki Abd Hafizh, Syaikh Muhammad
Ibn Abd Wahhab and Sufism, Rettievied, 30 May, 2011. [32]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref32
> Natana J. Delong-Bas, Wahabi Islam:
From Revival and Reform to Global Jihad, Oxford UP, 2004.hal. 279. [33]
<http://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-%E2%80%9Cwahhabi%E2%80%9D-atau-\
%E2%80%9Cmuwahhid%E2%80%9D--strategi-dakwah-dan-pengaruhnya-dalam-kehidu\
pan-dunia-detail-95.html#_ftnref33
> Kasus terbunuhnya presiden Anwar
Sadat, ketika beliau sedang memimpin upacara kenegaraan di Mesir,
sampai sekarang dipusara pemakamnya tecetak tulisan syuhada.


-=-=-=-
http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-738-detail-yunahar-ilyas-muhammadi\
yah-beda-dengan-wahabi.html

<http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-738-detail-yunahar-ilyas-muhammad\
iyah-beda-dengan-wahabi.html
>


Yunahar Ilyas: Muhammadiyah Beda Dengan WahabiMinggu, 22-01-2012Dibaca:
1017
Magelang- Pada sesi kedua Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Nasional
(Sabtu 21/01/2012), Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A. pada materi
Paham Agama dalam Muhammadiyah mengatakan bahwa tidak diragukan lagi,
KHA Dahlan banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab,
khususnya dalam bidang akidah. Hal ini tentu saja memberi pengaruh pada
gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, tidak berarti
Muhammadiyah berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca:
Wahabi/Salafi). Banyak hal lain yang memberikan inspirasi KHA Dahlan
untuk mendirikan Muhammadiyah, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah
satunya.
Bahkan Yunahar menegaskan, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi. Dalam hal
dakwah khususnya, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk
menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan
syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi
munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat
kebenaran.
Pelatihan Kader Tarjih tingkat Nasional yang diadakan oleh Majelis
Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan beberapa
narasumber ahli yang kompeten di bidangnya, yang berasal dari lingkungan
Muhammadiyah sendiri. Pada kesempatan pertama, Jum'at, 20 Januari 2012
malam, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid
PP Muhammadiyah, dan KRT. Drs. H. A. Muhsin Kamaludiningrat membawakan
materi Konsep Kelembagaan dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Syamsul
menyampaikan, tajdid sebagai identitas Muhammadiyah mempunyai dua makna,
purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi atau pemurnian untuk bidang akidah
dan dinamisasi untuk bidang muamalah duniawiyah. (amr)

-=-=-=-

http://www.forsansalaf.com/2011/di-balik-pemujaan-wahabi/
<http://www.forsansalaf.com/2011/di-balik-pemujaan-wahabi/>


Di Balik Pemujaan WahabiSubmitted by forsan salaf
<http://www.forsansalaf.com/author/admin/> on Sunday, 3 July 2011

Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW.
Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan
pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada
sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW.
Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda
Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi SAW adalah bagian dari mencintai
Allah SWT. Beliau bersaba:
Ù…ÙŽÙ†Ù' أَحَبَÙ`نِي فَقَدÙ'
أَحَبَÙ` اللهَ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ†Ù'
أَطَاعَنِي فَقَدÙ' أَطاَعَ
اللهَ
"Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah
SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah
SWT."
Cinta haruslah disertai dengan penghormatan dan pengagungan. Oleh sebab
itu Allah SWT memerintahkan manusia agar mengagungkan sosok Baginda Nabi
SAW. Allah SWT berfirman:
إِنَÙ`ا أَرÙ'سَلÙ'نَاكَ
شَاهِدÙ&lsqauo;ا وَمُبَشِÙ`رÙ&lsqauo;ا
وَنَذِيرÙ&lsqauo;ا (8) لِتُؤÙ'مِنُوا
بِاللَÙ`هِ وَرَسُولِهِ
وَتُعَزِÙ`رُوهُ
وَتُوَقِÙ`رُوهُ
"Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita
gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya dan mengagungkan
Rasul-Nya."
Cinta para sahabat kepada Baginda Rasul SAW adalah cinta yang patut
diteladani. Dalam hadits-hadits disebutkan bagaimana para sahabat saling
berebut bekas air wudhu Baginda Nabi SAW. Meski hanya tetesan air, namun
air itu telah menyentuh jasad makhluk yang paling dekat dengan Sang
Pencipta. Karena itulah mereka begitu memuliakannya dan mengharap berkah
yang terpendam di dalamnya. Ketika Baginda Nabi SAW mencukur rambut,
para sahabat senantiasa mengerumuni beliau. Mereka ingin mendapatkan
potongan rambut beliau meski sehelai. Dengan rambut itu mereka hendak
mengenang dan mengharap berkah Nabi SAW. Demikianlah rasa cinta para
sahabat kepada Baginda Nabi SAW.

Primitif
Apa yang berlaku saat ini di Bumi Haramain adalah sesuatu yang bertolak
belakang dengan kaidah cinta. Di sana orang-orang Wahabi mengaku
mencintai Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sama sekali tidak
menghormati beliau SAW. Mereka bahkan melecehkan beliau dan melakukan
perbuatan yang teramat tidak pantas kepada sosok sebesar beliau.
Bayangkan saja, rumah yang ditempati beliau selama 28 tahun, yang
semestinya dimuliakan, mereka ratakan dengan tanah kemudian mereka
bangun di atasnya toilet umum. Sungguh keterlaluan!
Fakta ini belakangan terkuak lewat video wawancara yang tersebar di
Youtube. Adalah Dr. Sami bin Muhsin Angawi, seorang ahli purbakala, yang
mengungkapkan fakta itu. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia
mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun
untuk mencari situs rumah Baginda Nabi SAW. Setelah berhasil, ia
menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak yang berwenang.
Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar
yang mengantongi gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga
untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan.
Ketika ditanya oleh pewawancara mengenai bangunan apa yang didirikan di
atas lahan bersejarah itu, Sami Angawi terdiam dan tak mampu
berkata-kata. Si pewawancara terus mendesaknya hingga akhirnya ia
mengakui bahwa bangunan yang didirikan kelompok Wahabi di atas bekas
rumah Baginda Nabi SAW adalah WC umum. Sami Angawi merasakan penyesalan
yang sangat mendalam lantaran penelitiannya selama bertahun-tahun
berakhir sia-sia. Ia kemudian mengungkapkan harapannya, "Kita
berharap toilet itu segera dirobohkan dan dibangun kembali gedung yang
layak. Seandainya ada tempat yang lebih utama berkahnya, tentu Allah SWT
takkan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal Rasul SAW dan tempat
turunnya wahyu selama 13 tahun."
Ulah jahil Wahabi itu tentu saja mengusik perasaan seluruh kaum
muslimin. Situs rumah Baginda Nabi SAW adalah cagar budaya milik umat
Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka sama sekali tidak berhak untuk
mengusik tempat terhormat itu. Ulah mereka ini kian mengukuhkan diri
mereka sebagai kelompok primitif yang tak pandai menghargai nilai-nilai
kebudayaan. Sebelum itu mereka telah merobohkan masjid-masjid
bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah, tempat Syajarah ar-Ridhwan,
Masjid Salman Alfarisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Hamzah
bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002 lalu, mereka meluluhkan
masjid cucu Nabi, Imam Ali Uraidhi menggunakan dinamit dan membongkar
makam beliau.
Selama ini kelompok Wahabi berdalih bahwa penghancuran tempat-tempat
bersejarah itu ditempuh demi menjaga kemurnian Islam. Mereka sekadar
mengantisipasi agar tempat-tempat itu tidak dijadikan sebagai ajang
pengkultusan dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemusyrikan.
Akan tetapi dalih mereka agaknya kurang masuk akal, sebab nyatanya
mereka berupaya mengabadikan sosok Syekh Muhammad bin Sholeh
al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Mereka mendirikan
sebuah bangunan yang besar dan mentereng untuk menyimpan
peninggalan-peninggalan Syekh al-Utsaimin. Bandingkan perlakuan ini
dengan perlakuan mereka kepada Baginda Nabi SAW. Mereka merobohkan
rumah Baginda Nabi SAW dan menjadikan tempat yang berkah itu sebagai WC
umum, kemudian membangun gedung megah untuk Al-Utsaimin. Siapakah
sebetulnya yang lebih mulia bagi mereka? Baginda Rasulullah SAW ataukah
Syekh al-Utsaimin?
Bangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan "Yayasan Syeikh
Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin." Di dalamnya terdapat benda-benda
peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena.
Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi
keterangan semisal, "Pena terakhir yang dipakai Syekh
al-Utsaimin."
Sungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua
peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan
pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung,
sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

Haul Wahabi
Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan
tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh
al-Utsaimin. Mereka membid'ahkan peringatan haul seorang ulama atau
wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk
Syekh al-Utsaimin dengan nama `Haflah Takrim." Betapa ganjilnya
sikap kelompok Wahabi ini.
`Haul' al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di
sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham
Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat
Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum.
Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden
Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam
penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra
Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz
Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh
al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. "Perayaan
ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh
Utsaimin," ujarnya.
Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan
ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri
Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini
sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:
وَاللهِ Ù„ÙŽÙˆÙ' وَضَعَ
اÙ'لأَناَمُ مَحَافِلاَ #
مَاوَفَتِ الشَÙ`ÙŠÙ'خَ
اÙ'لوَقُورَحَقَÙ`هُ
"Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan
untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau."
Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh
Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri
aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas
Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena
memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa
membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang
kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar
fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab).
"Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?" tanya sang dosen. Lalu
si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin
Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan
mahasiswanya itu. "Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan
sunnah dan menghancurkan bid'ah," Jawab mahasiswa itu. (kisah
ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf
al-Litsam `an Fikr al-Li'am hlm.3-4.)
Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau
mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari
Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul
Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik
syariat Islam.
Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia
juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu
fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah
hal 161. Di situ ia menulis:
وَلاَ أَعÙ'لَمُ إِلىَ
سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَÙ`هُ
جَاءَ Ø£ÙŽÙ†ÙŽÙ` النَÙ`بِيَÙ`
صلى الله عليه وسلم
أَفÙ'ضَلُ اÙ'لخَلÙ'قِ
مُطÙ'لَقاÙ&lsqauo; فيِ كُلِÙ`
شَئٍÙ'
"Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah
makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara
mutlak." Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih
mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….! Ibnu
KhariQ


Sumber :
Majalah Cahaya Nabawiy edisi 96 Juli 2011/Sya'ban 1432 H

-===-=-

nukjlan dari
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid\
=&func=view&catid=9&id=18186#18186

<http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemi\
d=&func=view&catid=9&id=18186#18186
>
2. "wahabi" adalah istilah saja dalam bahasa arab, bisa istilah untuk
pengikut madzhab Imam Malik dg gelar Maliki, atau Hanafi, atau orang
yaman dg gelar Yamaniy, maka pengikut Ibn Ibn Abdulwahhab digelari
Wahabi, itu bukan penghinaan,

dan tak bisa dikatakan bahwa itu berarti pengikut ibn abdulwahhab itu
suci tauhidnya, justru mereka yg membuat perpecahan dan kerusakan pada
akidah ahlussunnah waljamaah, jika gelar wahhabi berarti mereka suci
tauhidnya, bagaimana dg Jahannamiy..?, Jahannamiy adalah gelar ahli
sorga yg masuk terlambat ke sorga, mereka keluar dari neraka jahannam
namun sudah dimaafkan Allah dan digelari Jahannamiyun (Shahih Bukhari
Bab Tauhid).

namun bagi orang yg tak memahami bahasa arab mereka menganggapnya
hinaan.


-=-=-=-http://kangaswad.wordpress.com/2011/02/28/antara-pekan-muhammad-b\
in-abdul-wahhab-dan-maulid-nabi/

<http://kangaswad.wordpress.com/2011/02/28/antara-pekan-muhammad-bin-abd\
ul-wahhab-dan-maulid-nabi/
>

Antara "Pekan Muhammad bin Abdul Wahhab" dan "Maulid
Nabi"سئل الشيخ العثيمين
رحمة الله تعالى عن الفرق
بين ما يسمى بأسبوع الشيخ
محمد بن عبد الوهاب رحمة
الله والاحتفال بالمولد
النبوي حيث ينكرعلى من
فعل الثاني دون
الأول:فأجاب
الفرق بينهما حسب علمنا
من وجهين
الأول: إن أسبوع محمد بن
عبد الوهاب رحمة الله تعالى
لم يتخذ تقربا إلى الله عز
وجل، وإنما يقصد به إزالة
الشبهة في نفوس بعض الناس
في هذا الرجل ويبين ما
من الله به على المسلمين
على يد هذا الرجل.
الثاني: أسبوع الشيخ محمد
بن عبد الوهاب رحمة الله
لا يتكرر ويعود كما تعود
الأعياد بل هو أمر بين
للناس وكتب فيه ما كتب
وتبين في حق هدا الرجل ما
لم يكن معروفا من قبل
لكثير من الناس ثم انتهى
أمرهمن كتاب فتاوى
العقيدة للشيخ محمد بن
صالح بن عثيمينSyaikh Muhammad bin Shalih Al
`Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang apa perbedaan antara
"Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullah"
dengan "Perayaan Maulid Nabi". Mengapa Maulid Nabi diingkari
namun acara tersebut tidak diingkari?
Beliau menjawab:

Menurut hemat saya, perbedaannya dilihat dari dua sisi:

Pertama, "Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
Rahimahullahu Ta'ala" tidak dianggap sebagai suatu bentuk
taqarrub kepada Allah Azza Wa Jalla. Acara ini diadakan dalam rangka
meluruskan info-info yang rancu mengenai pribadi beliau. Juga
menjelaskan tentang nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin
melalui tangan beliau (yaitu jasa-jasa beliau, pent).
Kedua, "Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
Rahimahullahu Ta'ala" tidak diadakan secara rutin dan
sebagaimana rutinnya hari raya. Isi dari kegiatan ini adalah memberikan
menjelaskan dan merilis tulisan-tulisan beliau kepada masyarakat serta
menerangkan tentang pribadi beliau. Karena penjelasan tentang hal ini
banyak belum diketahui banyak orang. Hanya sebatas itu lah kegiatannya.
Sumber: Majmu' Fatawa Al Aqidah Li Syaikh Muhammad bin Shalih Al
`Utsaimin rahimahullahDinukil dari:
http://www.sahab.net/FORUMS/showthread.php?p=423195
<http://www.sahab.net/FORUMS/showthread.php?p=423195>

-=-=-=-
http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1166589500&date=2-2011
<http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1166589500&date=2-2011>


Wahabi, Apa dan Siapakah?

Assalamualaikum wr. wb.Afwan ustadz ana baru pertama ikutan dan
baru-baru ini juga baca-baca Eramuslim, jadi mungkin pertanyaan ana
sudah ada yang duluan tanya. Tapi ana mohon tolong dijawab secara
tuntas.1. Apa itu Wahabi? Sejarah singkatnya? (Panjang juga boleh)2.
Kalau ada kekurangannya apa? Kalau ada kelebihannya apa?3. Apakah kita
perlu belajar dari mereka atau kita harus mengambil jarak dari
mereka?Sekian ustadz... Jazakallah Khoir..jawabanAssalamu 'alaikum
warahmatullahi wa barakatuh
Istilah Wahabi sebenarnya bukan istilah baku dalam literatur Islam. Dan
penisbahan istilah wahabi kepada sebagian umat Islam pun kurang
objektif. Meski istilah `wahabi` bila kita runut dari asal, memang
mengacu kepada tokoh ulama besar di tanah Arab yang bernama lengkap
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau
1703-1791 M). Namun para pendukung dakwah beliau umumnya menolak bila
dikatakan bahwa gerakan mereka adalah gerakan wahabiyah. Justru mereka
lebih sering menggunakan istilah ahlisunnah wal jamaah atau dakwah
salafiyah.
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di 'Uyainah dan belajar Islam
dalam mazhab Hanbali. Beliau telah menghafal Al-Qur'an sejak usia 10
tahun. Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dar`iyah,
bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat saat
yaitu pangeran (amir) Muhammad bin Su`ud yang berkuasa 1139-1179. Oleh
amir, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan
nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini.
Pokok Ajaran Muhammad bin Abdul WahhabSosok Muhammad bin Abdul Wahhab
menjadi pelopor gerakan ishlah (reformasi). Sosok beliau muncul
menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan berpikir pemikiran dunia
Islam, yaitu sekitar 3 abad yang lampau atau tepatnya pada abad ke-12
hijriyah. Dakwah ini menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada
pemurnian arti tauhid dari syirik dengan segala manifestasinya.
Sementara fenomena umat saat itu sungguh memilukan. Mereka telah
menjadikan kuburan menjadi tempat pemujaan dan meminta kepada selain
Allah. Kemusyrikan telah merajalela dan merata di hampir semua penjuru
negeri. Bid`ah, khurafat dan takhayyul menjadi makanan sehari-hari.
Dukun berkeliaran ke sana ke mari, ramalan-ramalan dari syetan sangat
digemari, sihir menjadi aktifitas umat, ilmu ghaib seolah menjadi
alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan umat
Islam.
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab saat itu bangkit mengajak dunia Islam
untuk sadar atas kebobrokan aqidah ini. Beliau menulis beberapa risalah
untuk menyadarkan masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah
kitabut-tauhid, yang hingga kini masih menjadi rujukan banyak ulama di
bidang aqidah.
Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini kemudian melahirkan gerakan
umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid`ah dan
beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Mereka
melarang membangun bangunan di atas kuburan, juga mengharamkan untuk
menyelimuti kuburan atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga
melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun,
peramal, tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang tawassul
dengan menyebut nama orang shaleh seperti kalimat bi jaahirrasul atau
keramatnya syeikh Fulan dan Fulan.
Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah salafiyah. Dakwah ini
telah membangun umat Islam di bidang aqidah yang telah lama jumud (beku)
akibat kemunduran aqidah umat. Dakwah beliau sangat memperhatikan
pengajaran dan pendidikan umum serta merangsang para ulama dan tokoh
untuk kembali membuka literatur kepada buku induk dan maraji` yang
mu`tabar, sebelum menerima sebuah pemikiran.Sebenarnya mereka tidak
pernah mengharamkan taqlid, namun meminta agar umat ini mau lebih jauh
meneliti dan merujuk kembali kepada nash-nash dan dalil dari Kitabullah
dan sunnah Rasulullah SAW serta pendapat para ulama salafus shalih.
Di antara tokokh ulama salaf yang paling sering mereka jadikan rujukan
adalah:a. Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H)
b. Ibnu Taimiyah (661-728 H)
c. Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H)
Oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan
pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan
Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan
lainnya di benua India. Paling tidak, masa hidup Muhammad bin Adbul
Wahhab lebih dahulu dari mereka semua. Dalam penjulukan yang kurang
tepat, gerakan ini sering dijuluki dengan wahabi. Namun istilah ini
tidak pernah diterima oleh mereka yang ikut mengembangkan dakwah
salafiyah.
Demikian sekelumit tentang gerakan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Maka dengan demikian, sesungguhnya dakwah ini juga dakwah ahlisunnah wal
jamaah. Sebab tetap berpegang kepada sunnah Rasulullah SAW dan juga para
jamaah (shahabat ridhwanullahi 'alaihim).Para pendiri dakwah ini umunya
bermazhab fiqih dengan mazhab Al-Hanabilah, jadi tidak benar kalau
dikatakan mereka anti mazhab. Namun memang mereka tidak selalu terikat
dengan mazhab tersebut dalam fatwa-fatwanya. Terutama bila mereka
menemukan dalil yang lebih rajih. Oleh karena itu dakwah mereka sering
disebut La Mazhabiyyah, namun sebenarnya lebih kepada masalah ushul,
sedangkan masalah furu`nya, mereka tetap pada mazhab Al-Hanabilah.
Dakwah ini jelas-jelas sebuah dakwah ahlisunnah wal jamaah serta
berpegang teguh dengannya. Mereka menyeru kepada pemurnian tauhid dengan
menuntut umat agar mengembalikan kepada apa yang dipahami oleh umat
Islam generasi pertama.
Sedangkan bila dikatakan bahwa dakwah ini mengharamkan ziarah kubur,
sebenarnya tidak juga. Sebab mereka pun mengakui bahwa ziarah kubur itu
ada masyru'iyahnya dari syariat Islam.
Dahulu Aku (Rasulullah SAW) melarang kalian ziarah kubur, namun sekarang
silahkan berziarah kubur. (HR Muslim dan merupakan hadits Shahih dan
terdapat dalam syarah imam Nawawi)
Hanya saja mereka agak lebih berhati-hati, agar jangan sampai niat
ziarah yang baik itu dirusak dengan praktek-praktek yang diharamkan.
Seperti meminta doa dari ahli kubur, meminta keberkahan, minta
diselamatkan, minta dilindungi, minta jodoh, rizqi dan sebagainya.
Sebenarnya praktek seperti inilah yang mereka takutkan. Dan memang
praktek seperti ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Sebab tempat
meminta itu hanya kepada Allah SWT saja, bukan kepada kuburan.
Yang BerlebihanMemang ada sebagian dari orang yang mengaku sebagai
penerus dakwah wahabi, namun berperilaku agak kurang bijak. Namun kami
menganggap ini sebagai kasus yang bersifat pribadi.
Misalnya sering kita dengar adanya makian dan umpatan dari mereka kepada
orang-orang yang masih awam, atau tuduhan sebagai ahli bid'ah. Sayangnya
semua itu dilakukan di muka umum, atau di pengajian-pengajian, bahkan
termasuk di situs-situs yang dibaca orang secara umum.
Padahal mungkin maksudnya baik, namun ketika caranya dilakukan dengan
cara yang kurang simpatik, justru orang-orang semakin menjauh.Pakar ilmu
jiwa mengatakan bahwa untuk mengubah sikap dan tindakan seseroang, tidak
harus selalu dengan cara hukuman, cacian, ejekan atau hal-hal yang tidak
menyenangkan. Sebab secara fitrah, seorang yang dipojokkan dan
diperlakukan dengan cara kurang menyenangkan justru akan melakukan
resistensi. Alih-allih mau mendengarkan nasehat, malah akan semakin
menjauh.
Mungkin kalau diterapkan cara 'kasar' seperti itu kepada orang arab di
padang pasir yang punya karakter tertentu, bisa efektif. Kira-kira sama
perlakuan kita kepada unta, bila dipukul baru mau jalan. Tetapi umat
Islam di luar padang pasir itu bukan unta. Mereka adalah manusia yang
harus dihormati dan dihargai perasaaan dan harga dirinya.
Mengapa tidak digunakan bahasa yang lembut, simpatik, sopan dan
manusiawi? Mengapa harus dengan cara mencaci maki dan menyinggung
perasaan orang? Mengapa harus mengatai-ngatai para ulama yang kebetulan
berbeda pendapat dengannya dengan gelar paling buruk? Seperti menulis
buku tentang Dr. Yusuf Al-Qardawi yang disebut dalam judulnya sebagai
'anjing' (maaf)? Padahal bukankah tujuannya untuk berdakwah?
Tindakan konyol seperti ini jelas tidak akan mengundang simpati umat
Islam, bahkan akan semakin mencoreng nama Muhammad bin Abdul Wahhab
sendiri. Dan yang pasti, ulama sekelas beliau pasti tidak suka melihat
pengikutnya bersikap memalukan seperti itu.Namun sekali lagi kami
tegaskan bahwa akhlaq buruk seperti ini bukan cerminan dakwah Syeikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Namun hanya kasus yang mungkin
terjadi pada siapa pun juga.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuhAhmad Sarwat, Lc.


-=-=-=-
http://inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=183:\
surat-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab&catid=71:inspirasi&Itemid=120
<http://inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=183\
:surat-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab&catid=71:inspirasi&Itemid=120
>


Surat Syaikh Muhammad bin Abdul WahhabSenin, 15 Juni 2009 00:35
publisher [E-mail]
<http://inpasonline.com/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=\
aHR0cDovL2lucGFzb25saW5lLmNvbS9pbmRleC5waHA/b3B0aW9uPWNvbV9jb250ZW50JnZp\
ZXc9YXJ0aWNsZSZpZD0xODM6c3VyYXQtc3lhaWtoLW11aGFtbWFkLWJpbi1hYmR1bC13YWho
\
YWImY2F0aWQ9NzE6aW5zcGlyYXNpJkl0ZW1pZD0xMjA=> [Cetak]
<http://inpasonline.com/index.php?view=article&catid=71%3Ainspirasi&id=1\
83%3Asurat-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab&tmpl=component&print=1&page=\
&option=com_content&Itemid=120
> [PDF]
<http://inpasonline.com/index.php?view=article&catid=71%3Ainspirasi&id=1\
83%3Asurat-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab&format=pdf&option=com_conten\
t&Itemid=120
> Inpasonline,14/06/09
Ketika nama wahabi disebut, selalu orang mengaitkan dengan sebuah aliran
fundamentalis Islam, yang selalu menyalahkan pendapat kelompok lainnya.
Paling tidak, pengikut wahabi mesti dikonotasikan tukang membid'ahkan,
mengkafirkan dan menganggap sesat orang lain yang tidak sepaham
dengannya. Tidak heran jika aliran ini menjadi sasaran cercaan kalangan
muslim sendiri, sebagai kelompok yang keras kepala dan pemecah persatuan
umat Islam.
Tapi benarkah mereka bisa dikatakan sebagai pengikut wahabi, dalam
artian mengikuti jejak dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab? Justru
ini yang kadang tidak terpikirkan oleh kita. Dalam kitab yang ditulis
oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Mafahim Yajibu An Tushohhah
menampilkan surat-surat yang dikirimkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab. Dalam surat-suratnya yang dikirimkan kepada orang-orang
al-Qashim dan Iraq, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab justru berlepas
diri dari tindakan mereka yang mengaku pengikutnya. Untuk lebih
jelasnya, di bawah ini kami tampilkan surat-surat beliau yang dimuat
dalam kitab Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Mafahim Yajibu An
Tushohhah cetakan ke-10 tahun 1995, hlm. 310-312 dan kitabnya Al Ghuluw
wa Atsaruhu fil Irhab wa Ifsad Al-Mujtama'(terjemahan KH. Ihya'
Ulumiddin) hlm. 45-47.
Al Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam suratnya yang
dikirim kepada orang-orang al-Qasim:
Telah kalian ketahui bahwasanya aku mendengar Sulaiman bin Suhaim telah
mengirim surat kepada kalian. Bahkan, kalangan orang-orang berilmu di
daerah kalian menerima dan membenarkan isi surat itu. Sungguh, Allah
Maha Mengetahui bahwasanya orang itu (Sulaiman bin Suhaim) telah
berbohong mengatasnamakan aku dalam beberapa perkara yang aku tidak
mengucapkannya. Bahkan, tidak pernah terlintas dalam hatiku. Diantara
isi surat itu yang dia tulis bahwa aku mengingkari kitab-kitab empat
madzhab yang ada dan aku berkata, sesungguhnya manusia selama 600 tahun
telah hidup dalam keadaan sia-sia dan bahwa aku mengaku sebagai
mujtahid, aku tidak bertaqlid, dan aku berkata bahwa perbedaan pendapat
diantara para ulama adalah bencana dan bahwa aku mengafirkan orang-orang
yang bertawasul denga orang-orang sholeh, dan bahwa aku mengafirkan
Al-Bushiri karena dia berkata "Wahai makhluk termulia" , dan bahwa aku
berkata, andai aku mampu menghancurkan kubah Rasulullah SAW. niscaya
akan aku hancurkan dan andai aku mampu, aku akan mengambil talang emas
ka'bah dan aku ganti dengan talang kayu, dan aku mengharamkan ziarah ke
makam Rasulullah SAW. dan aku mengingkari ziarah kepada kedua orang tua
dan lainnya, dan aku bersumpah dengan selain nama Allah ta'ala dan aku
mengafirkan Ibnu al Faridl dan Ibnu 'Arobiy, dan aku membakar kitab
Dalailul Khoirot dan Kitab Roudur Royyahin dan menamainya Roudus
Syaithan.
Aku jawab semua masalah ini seraya aku katakana, "Maha Suci Engkau ya
Allah, ini adalah kedustaan yang besar dan sebelumnya telah ada orang
yang mendustakan Nabi Muhammad SAW. juga telah ada orang yang menghina
Isa bin Maryam dan orang-orang shaleh sehingga hati mereka menjadi
serupa dalam kedustaan dan kebohongan. Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang
tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang
pendusta." (QS. An-Nahl: 105)
Mereka semua telah mendustakan Nabi Muhammad SAW. bahwa para Malaikat,
Isa, dan Uzair akan masuk neraka. Maka Allah Ta'ala menjawab perkataan
mereka dengan firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk
mereka ketetapan yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka."
(QS. Al-Anbiya': 101)
Surat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lainnya: Surat ini dikirim kepada
as Suwaidi, seorang ulama di Iraq, sebagai jawaban dari surat as Suwaidi
kepadanya. Dalam suratnya ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:
"Sungguh, menyebarkan kebohongan adalah hal yang memalukan bagi orang
yang berakal apalagi mengadakan kebohongan. Adapun yang Anda katakana
bahwasanya aku mengafirkan segenap manusia kecuali pengikutku sungguh
mengherankan. Bagaimana hal ini bisa terpikirkan oleh orang yang
berakal? Apakah pantas seorang Muslim berkata demikian? Adapun yang Anda
katakan bahwa aku berkata, andai aku mampu menghancurkan kubah Nabi SAW.
niscaya akan aku hancurkan. Juga tentang kitab Dalailul Khairat, bahwa
aku melarang untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal itu semua
adalah dusta belaka dan seorang Muslim tidak akan berkeyakinan adanya
hal yang lebih mulia daripada kitab Allah SWT (Al-Qur'an)".
Demikian isi surat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, semoga kita bisa
mengambil pelajaran darinya.(mm)

-=-=-=-=

[Non-text portions of this message have been removed]


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
5. Sekte-sekte korban hasutan dari kaum Zionis Yahudi
Posted by: "ZonJonggol" zonatjonggol@yahoo.com zonatjonggol
Date: Tue Feb 7, 2012 10:29 pm ((PST))

Sekte-sekte korban hasutan dari kaum Zionis Yahudi

Berikut sekte-sekte korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Yahudi atau yang kita kenal sekarang kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason, iluminati.

1. Mereka yang merasa mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Intinya mereka terhasut untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri dan meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak). Padahal imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.

2. Mereka yang mengaku-aku mengikuti Imam Sayyidina Ali ra yang dikenal sebagai kaum Syiah.

3. Mereka yang belajar agama ke "barat" hingga terkena paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme

4. Mereka yang mengikuti Mirza Ghulam Ahmad (ahmadiyah) , freemason dari India atas pembiyaan Yahudi Inggris

5. Mereka yang mengikuti Abdul Baha (bahaiyah), freemason dari Iran. Kaum Bahai beri'tiqod (aqidah) bahwa Tuhan menjelma ke dalam tubuh Bahaullah, jadi ia adalah manifestasi dari Tuhan diatas dunia.

Kita bisa saksikan sesama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi saling membunuh sebagaimana yang terjadi di Yaman

Berikut kutipan berita dari http://www.eramuslim.com/berita/dunia/pertempuran-antara-mujahidin-salafi-dan-syiah-di-yaman-tewaskan-20-orang.htm

*****awal kutipan *****
Pertempuran antara sekte Syiah Houthi melawan mujahidin salafi di Dammaj, telah menyebabkan sepuluh orang tewas di kedua belah pihak, kata pejabat Yaman, yang berbicara dengan syarat anonim sesuai dengan protokol militer.
Meski sekte Syiah Houthi menganut paham Zaidiyah yang konon tidak mengkafirkan para sahabat Nabi SAW, namun faktanya kebenciannya terhadap ahlus Sunnah tidak beda jauh dengan kaum rafidhah.
***** akhir kutipan *****
.

Majalah Dakwah Islam "Cahaya Nabawiy" Edisi no 101, Januari 2012 memuat topik utama berjudul "SYIAH-WAHABI: Dua seteru abadi" , Berikut sedikit kutipannya,

**** awal kutipan ****
"Sebenarnya ada fakta lain yang luput dari pemberitaan media dalam tragedi itu. Peristiwa itu bermula dari tertangkapnya mata-mata utusan Darul Hadits oleh orang-orang suku Hutsi yang menganut Syiah. Selama beberapa lama Darul Hadits memang mengirim mata-mata untuk mengamati kesaharian warga Syiah. Suku Hutsi merasa kehormatan mereka terusik dengan keberadaan mata-mat ini. Kehormatan adalah masalah besar bagi suku-suku di Jazirah Arab. Tak ayal, suku Hutsi pun menyerbu Darul Hadits sebagai ungkapan amarah mereka. Selama beberapa hari Darul Hadits dikepung orang-orang Hutsi yang kebanyakan tergabung dalam milisi pemberontak"

"Dua warga Indonesia tewas dalam baku tembak, sementara yang lainnya bersembunyi di kampus. Anehnya, meskipun beberapa kali dibujuk , para mahasiswa tetap tak mau dievakuasi pihak kedutaan. Mereka berdalih bahwa diri mereka sedang berjihad melawan musuh. Doktrin yang ditanamkan kepada mahasiswa Darul Hadits cukup, sangar yakni, "Jihad terhadap syiah rafidah al-Houtsi"
***** akhir kutipan *****

Ironis sekali , kedua sekte masing-masing merasa berjihad dan memerangi sesama manusia yang telah bersyahadat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran". (HR Muslim 97)

Rasulullah lalu bertanya: `Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illaahu? ` Aku menjawab, Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang. Rasulullah bertanya lagi: Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak? Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu. (HR Muslim 140)

Dia berkata, `Dan kami saat itu diberitahukan peristiwa Usamah bin Zaid, yang mana ketika dia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik itu mengucap, `Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah', namun dia tetap saja membunuhnya. Maka Basyir pun mendatangi Nabi shallallahu `alaihi wasallam untuk mengadukan dan menanyakan hal itu kepada beliau. Dia menceritakannya kepada beliau dan apa yang diperbuat oleh lelaki tadi. Maka beliau pun memanggil Usamah dan menanyainya, `Kenapa kamu membunuhnya? ` Dia menjawab, `Wahai Rasulullah, dia telah melukai kaum muslimin, dia telah membunuh si fulan dan si fulan, dan dia menyebutkan sebuah nama kepadanya, dan sungguh telah menyimpan dendam terhadapnya, namun ketika dia melihat pedangku ini, dia mengucap, `Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah'. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bertanya lagi: `Apakah kamu yang telah membunuhnya? ` Dia menjawabnya, `Ya.' Beliau bertanya lagi: `Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, `Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah', jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ` (HR Muslim 142)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
6. Fw: diskusi soal madzhab di Sunni, Politik, dan bermadzhab
Posted by: "Nugroho Laison" nugon19@yahoo.com nugon19
Date: Tue Feb 7, 2012 10:30 pm ((PST))

http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/41345


=-=-=-


ini salah satu link yg menggambarkan bahwa imam perintis 4 madzhab tdk akrab dgn politik, bahkan diintimidasi oleh penguasa.

-=-=-=

http://ahlussunnah.info/artikel-ke-57-berkenalan-dengan-4-empat-imam

Artikel ke-57: Berkenalan dengan 4 (Empat) Imam
Oleh: Redaksi Majalah Fatawa
TANPA HAK CIPTA. Anda diperbolehkan menyebarluaskan, mengutip/menyalin sebagian atau seluruh isi dari artikel ini dengan syarat Anda tidak melakukan perubahan apapun, tidak untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan sumbernya.
Kolom ini, insya Allah, akan berisi tentang pendapat imam yang empat (imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad). Tentu tidak semua perkataan mereka akan dimunculkan. Disamping keterbatasan tempat, tidak semua pendapat mereka selalu benar.
Tujuan menampilkan pendapat mereka tentu bukan untuk membatasi bahwa imam dalam perjalanan kaum muslimin hanya terbatas pada 4 (empat) imam tersebut. Sebelum dan sesudah mereka ada banyak imam, baik yang masyhur maupun tidak. Tidak pula kolom ini bertujuan untuk menggiring pada sikap fanatik madzhab (pendapat/pandangan) tertentu.
Agama Islam adalah agama yang sempurna dengan kenabian Rasulullah MuhammadShallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga tak layak dibatasi oleh sekat pendapat satu atau dua imam. Kolom ini sekadar untuk sedikit mencoba menunjukkan sikap penghormatan kepada ulama besar. Tekad untuk kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah sesuai pemahaman para sahabat tidaklah berarti kemudian diikuti sikap menyepelekan mereka. Hanya dengan ulama dari zaman-ke-zaman umat Islam bisa memahami agamanya dengan baik.
Sebelum menikmati nasihat dan pendapat mereka, ada baiknya diulas secara singkat tentang biografi mereka. Perjalanan hidup mereka sejak lahir hingga wafatnya, tentu secara singkat saja. Pemaparan ini diharapkan bisa memberikan gambaran secara lebih utuh.
Imam Abu Hanifah
Namanya Nu'man bin Tsabit bin Zhuthi' lahir tahun 80 H/699 M di Kufah, Iraq, sebuah kota yang sudah terkenal sebagai pusat ilmu pada zamannya. Ayahnya seorang pedagang besar, sempat hidup bersama 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Abu Hanifah kadang menyertai ayahnya saat berdagang, tetapi minatnya untuk membaca dan menghafal al-Qur'an lebih besar.
Abu Hanifah mulai belajar dengan mendalam ilmu qira'at dan bahasa Arab. Bidang ilmu yang paling diminati ialah hadits dan fikih. Abu Hanifah berguru kepada asy-Sya'bi dan ulama lain di Kufah. Jumlah gurunya di Kufah dikatakan mencapai 93 (sembilan puluh tiga) orang. Beliau kemudian berhijrah ke Basrah berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman, Qatadah, dan Syu'bah. Setelah belajar kepada Syu'bah, saat itu sebagai Amir al-Mukminin fi Hadits(pemimpin umat dalam bidang hadits), beliau diizinkan mulai mengajarkan hadits.
Di Makkah dan Madinah beliau berguru kepada 'Atha' bin Abi Rabah, Ikrimah, seorang tokoh di Makkah murid Abdullah ibn 'Abbas, 'Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah dan 'Abdullah ibn 'Umarradhiyallahu 'anhuma. Kehandalan Abu Hanifah dalam ilmu-ilmu hadits dan fikih dikenal Ikrimah sehingga disetujui menjadi guru penduduk Makkah.
Abu Hanifah kemudian meneruskan pengajiannya di Madinah bersama Baqir dan Ja'afar as-Shaddiq. Kemudian belajar juga kepada Malik bin Anas, tokoh di kota Madinah ketika itu.
Saat guru kesayangannya Hammad meninggal dunia di Basrah pada tahun 120 H/738 M, Abu Hanifah diminta menggantikannya sebagai guru dan tokoh agama di Basrah. Abu Hanifah juga berdagang. Beliau amat bijak dalam mengatur antara dua tanggung jawabnya ini, seperti dijelaskan oleh salah satu muridnya, al-Fudhail ibn 'Iyyad;
“Abu Hanifah seorang ahli hukum, terkenal dalam bidang fikih, kaya, suka bersedekah kepada yang memerlukannya, sangat sabar dalam pembelajaran baik malam atau siang hari, banyak beribadah pada malam hari, banyak berdiam diri, sedikit berbicara kecuali ditanya sesuatu masalah agama, pandai menunjuki manusia kepada kebenaran dan tidak mau menerima pemberian penguasa.”
Pada zaman pemerintahan 'Abbasiyyah, Khalifah al-Mansur memintanya menjadi qadhi(hakim) kerajaan, tapi ditolak sehingga dipenjara. Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rajab 150 H/767 M dalam penjara karena keracunan. Shalat jenazahnya dilangsungkan 6 (enam) kali, tiap kalinya terdiri tidak kurang dari 50.000 (lima puluh ribu) orang.
Imam Malik bin Anas
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93 H/711 M. Datuknya adalah seorang perawi dan penghafal hadits yang terkemuka. Pamannya, Abu Suhail Nafi', juga seorang tokoh hadits di Madinah pada saat itu. Dari pamannya inilah Malik bin Anas mulai belajar ilmu agama, khususnya hadits. Abu Suhail Nafi' ialah seorang tabi'in yang sempat menghafal hadits dari Abdullah ibn 'Umar, 'Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Abu Hurairah, dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhum.
Selain Nafi', Malik bin Anas juga berguru kepada Ja'far as-Shaddiq, cucu al-Hasan, cicit Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Malik juga belajar di Masjid Nabawi dengan Muhammad Yahya al-Anshari, Abu Hazm Salmah ad-Dinar, Yahya bin Sa'ad, dan Hisyam bin 'Urwah. Semuanya murid sahabat-RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam. Beruntung Malik bin Anas di Madinah hidup di tengah para tabi'in. Para tabi'in ini sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka belajar, mendengar hadits dan mengamalkan perbuatan para sahabat.
Dalam perkembangannya Malik bin Anas kemudian menjadi tokoh agama di Masjid Nabawi. Beliau juga bertindak sebagai mufti Madinah. Malik termasuk tokoh yang merintis pengumpulan dan pembukuan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kitabnya al-Muwattha'. Kitabnya ini dihafalkan banyak orang dan menjadi rujukan, pernah dikomentari oleh asy-Syafi'i;
“Tidak ada sebuah buku di bumi yang keshahihannya mendekati al-Qur'an melainkan kitab Imam Malik ini.”
Di antara yang belajar kepada Malik bin Anas di masjid Nabawi adalah Abu Hanifah dari Kufah dan Muhammad bin Idris, yang terakhir kemudian terkenal sebutan Imam asy-Syafi'i. Ketinggian ilmu Malik bin Anas diungkapkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal;
“Malik adalah penghulu dari para penghulu ahli ilmu, juga seorang imam dalam bidang hadits dan fikih. Siapakah gerangan yang dapat menyamainya?”
Malik pernah dihukum oleh gubernur Madinah pada tahun 147H /764 M karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan hukum talak dikeluarkan kerajaan 'Abbasiyyah. Kerajaan ketika itu membuat fatwa bahwa semua penduduk harus taat kepada pemimpin, bila tidak mau otomatis akan jatuh talak atas istrinya! Pemerintah 'Abbasiyyah memaksa Malik fatwa kerajaan. Alih-alih mengesahkan, Malik mengeluarkan fatwa bahwa hukum talak semacam itu tidak sah. Malik ditangkap dan dipukul sehingga bahunya patah, akibatnya tidak dapat shalat dengan bersedekap di dada, lalu dibiarkan irsal (terjuntai disamping badan). Malik kemudian dibebaskan dan kembali mengajar di Madinah hingga wafat pada 11 Rabiul-Awwal 179 H/796 M.
Imam asy-Syafi'i
Lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 H/767 M. Namanya Muhammad bin Idris asy-Syafi'i. Beliau keturunan Quraisy. Terlahir sebagai anak yatim, umur 10 (sepuluh) tahun dibawa ibunya ke Makkah untuk ibadah haji. Selepas itu beliau tetap berada di sana untuk menuntut ilmu. Di Makkah, asy-Syafi'i mulai berguru kepada Muslim bin Khalid al-Zanji, mufti Kota Makkah ketika itu.
Kitab al-Muwattha' karangan Imam Malik bin Anas telah dihafal asy-Syafi'i pada usia 15 (lima belas) tahun. Asy-Syafi'i kemudian hijrah ke Madinah untuk berguru dengan penulis kitab tersebut. Sejak berumur 20 (dua puluh) tahun Beliau belajar kepada Imam Malik hingga gurunya tersebut wafat tahun 179 H/796 M. Ketokohan asy-Syafi'i sebagai murid terpintar Malik bin Anas mulai dikenal banyak orang.
Asy-Syafi'i mengambil alih sebentar kedudukan Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi sampai ditawari kedudukan pejabat oleh Gubernur Yaman. Jabatan asy-Syafi'i di Yaman tidak lama karena difitnah sebagai pengikut ajaran Syi'ah. Selain itu pelbagai konspirasi ditujukan padanya sehingga beliau dirantai dan di penjara di Baghdad, pusat pemerintahan Dinasti 'Abbasiyyah ketika itu. Asy-Syafi'i dibawa menghadap ke Khalifah Harun ar-Rasyid dan bisa membuktikan dirinya tidak salah. Kehandalan dan kecakapan asy-Syafi'i membela diri dengan pelbagai hujjah agama menjadikan Harun tertarik. Asy-Syafi'i dibebaskan dan dibiarkan tinggal di Baghdad. Disini asy-Syafi'i berkenalan dengan murid Abu Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutama Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani.
Pada tahun 188 H/804 M asy-Syafi'i hijrah ke Mesir. Sebelumnya singgah sebentar di Makkah dan disana diberi penghormatan untuk memberi pelajaran. Asy-Syafi'i mulai dikenal sebagai seorang imam dan banyak melakukan usaha menutup jurang perbedaan antara pendapat Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah. Usahanya tidak disambut baik penduduk Makkah yang terbiasa dengan pendapat Imam Malik.
Tahun 194 H/810 M asy-Syafi'i kembali ke Baghdad, dipercaya memegang qadhi bagi Dinasti 'Abbasiyyah. Beliau menolak dan hanya singgah selama 4 (empat) tahun di Baghdad. Asy-Syafi'i kemudian ke Mesir dan menetap di sana. Daud bin 'Ali pernah ditanya tentang kelebihan asy-Syafi'i; “Asy-Syafi'i mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada orang lain. Dia seorang bangsawan, mempunyai agama dan i'tiqad yang benar, sangat murah hati, mengetahui hadits sahih dan dha'if, nasikh, mansukh, menghafal al-Qur'an dan hadits, perjalanan hidup para Khulafa' ar-Rasyidun, dan pandai mengarang.”
Imam asy-Syafi'i wafat pada 29 Rajab 204 H/820 M di Mesir. Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab terbaik dalam bidang ushul fikih berjudul ar-Risalah. Kitab ini dikenal sebagai asas kaidah dalam mengeluarkan hukum dari nash al-Qur'an dan as-Sunnah. Juga ada kitab fikihnya yang masyhur berjudul al-'Umm.
Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Abu 'Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H/781 M. Ayahnya seorang mujahid Islam dan meninggal dunia pada umur 30 (tiga puluh) tahun. Ahmad kemudian dibesarkan oleh ibunya Saifiyah binti Maimunah. Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur'an sejak kecil, pada umur 16 (enam belas) tahun sudah banyak menghafal hadits. Ahmad bin Hanbal meneruskan belajar haditsnya kepada banyak guru. Pada akhir hayatnya diperkirakan telah menghafal lebih dari sejuta hadits berikut nama perawinya.
Pada tahun 189 H/805 M, Ahmad bin Hanbal hijrah ke Basrah, kemudian ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Disana Beliau sempat berguru kepada asy-Syafi'i. Sebelum itu guru-gurunya yang masyhur ialah Abu Yusuf, Husain ibn Abi Hazm al-Washithi, 'Umar ibn Abdullah ibn Khalid, Abdurrahman ibn Mahdi, dan Abu Bakar ibn 'Iyasy. Pada tahun 198 H Ahmad bin Hanbal ke Yaman berguru kepada Abdurrazzaq ibn Humam, seorang ahli hadits saat itu, terkenal dengan kitabnya al-Mushannaf. Dalam perjalanannya ini Ahmad mulai menulis hadits-hadits yang dihafalnya.
Ahmad bin Hanbal kembali ke Baghdad untuk mengajar. Kehebatannya sebagai seorang ahli hadits dan pakar fikih menarik perhatian banyak orang, sehingga banyak yang belajar kepadanya. Muridnya yang kemudian berjaya menjadi tokoh hadits terkenal ialah al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud. Al-Qasim ibn Salam berkata; “Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling ahli dalam bidang hukum dan aku tidak melihat ada orang yang lebih mengetahui tentang as-Sunnah selain dia. Dia tidak pernah bersenda-gurau, banyak berdiam diri, dan tidak mempermasalahkan selain ilmu.”
Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara karena keteguhannya menentang ajaran Mu'tazilah yang dipaksakan oleh pemerintah 'Abbasiyyah. Ahmad dipaksa mengesahkan ajaran baru tersebut. Ahmad enggan sehingga didera dalam penjara sampai tidak sadarkan diri. Setelah bebas Imam Ahmad meneruskan pengajarannya hingga wafat tahun 241H/856M. Ahmad bin Hanbal meninggalkan kitab haditsnya yang terkenal yaitu al-Musnad yang terdiri tidak kurang dari 30.000 hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan atsar para sahabat. Dua orang anaknya yang meneruskan perjuangannya adalah Abdullah dan Shalih.
Diolah dari beberapa sumber.

-=-=-=

artikel serupa ada juga di link http://hafizfirdaus.com/ebook/PedomanMazhab/Chap2.php
dgn catatan/kritikan mengenai wafatnya Imam Syafi'i.
dari Ensiklopedia Imam Syafi'i yg dikarang oleh ulama lokal (Indonesia) dan mohon maaf ane lupa namanya....
disebutkan bahwa Imam Syafi'i meninggal murni karena sebab penyakit wazir/ambeien, karena bleeding yg parah.

-=-=-=-


PEDOMAN-PEDOMAN BERMAZHAB DALAM ISLAM
Oleh Hafiz Firdaus Abdullah
{ al-Firdaus.Com }
 
Kandungan | Kata Pengantar 
1. Sejarah Kemunculan Mazhab | 2. Berkenalan Dengan Para Imam Mazhab | 3. Pegangan Dan Prinsip Para Imam Mazhab | 4. Sebab-Sebab Wujudnya Perbezaan Pendapat Antara Para Imam Mazhab | 5. Teladan Para Imam Mazhab Dalam Menghadapi Perbezaan Pedapat | 6. Beberapa Contoh Sikap Taksub Mazhab | 7. Perintah Allah Mentaati Al-Qur'an dan Rasul-Nya | 8. Kepentingan Mazhab Kepada Umat Islam | 9. Wasiat Para Imam Mazhab Kepada Umat Islam | 10. Adakah Seruan “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” Bererti Meninggalkan Ajaran Para Imam Mazhab ? | 11. Memilih-milih Antara Mazhab. | 12. Berusaha Menjauhkan Taqlid 
Kata Penutup
 
2 Berkenalan Dengan Para Imam Mazhab
 
 
Tidaklah sempurna kefahaman kita tentang mazhab-mazhab Islam yang empat jika kita tidak meninjau terlebih dahulu riwayat hidup para imam mazhab tersebut. Bab ini dimulakan dengan sejarah hidup Abu Hanifah kerana beliau adalah yang terawal di antara mereka.
 
Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah atau nama sebenarnya Nu'man bin Tsabit bin Zhuthi' lahir pada tahun 80H/699M di Kufah, Iraq, sebuah bandar yang sudah sememangnya terkenal sebagai pusat ilmu pada ketika itu. Ianya diasaskan oleh ‘Abd Allah ibn Mas‘ud radhiallahu ‘anh(32H/652M), seorang sahabat zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahnya seorang pedagang besar, sempat hidup bersama ‘Ali bin Abi Talib radhiallahu ‘anh. Abu Hanifah sekali-sekala ikut serta dalam urusniaga ayahnya akan tetapi minatnya yang lebih besar ialah ke arah membaca dan menghafal Qur'an.
Abu Hanifah pada satu hari telah berjumpa dengan seorang tokoh agama yang masyhur pada ketika itu bernama al-Sya’bi. Melihatkan kepintaran dan kecerdasan luar biasa yang terpendam dalam Abu Hanifah, al-Sya'bi menasihatkan beliau agar lebih banyak mencurahkan usaha ke dalam bidang ilmu-ilmu Islam. Dengan nasihat dan dorongan al-Sya'bi, Abu Hanifah mula menceburkan diri secara khusus mempelajari ilmu-ilmu Islam.
Abu Hanifah mula belajar dengan mendalam ilmu-ilmu qiraat, ilmu bahasa Arab, ilmu kalam dan lain-lain. Akan tetapi bidang ilmu yang paling diminatinya ialah ilmu hadis dan fiqh. Beliau banyak meluangkan masa dan tenaga mendalaminya. Abu Hanifah meneruskan pembelajarannya dengan bergurukan kepada al-Sya’bi dan beberapa tokoh ilmuan lain di Kufah. Menurut riwayat, jumlah gurunya di Kufah sahaja berjumlah 93 orang.
Beliau kemudiannya berhijrah ke bandar Basrah untuk berguru bersama Hammad bin Abi Sulaiman, Qatadah dan Shu’bah. Setelah sekian lama berguru dengan Shu’bah yang pada ketika itu terkenal sebagai Amir al-Mu’minin fi Hadis (Pemimpin umat dalam bidang hadis), beliau diizinkan gurunya untuk mula mengajar hadis kepada orang ramai. Berkata Shu'bah:
Sebagaimana aku ketahui dengan pasti akan kesinaran cahaya matahari, aku juga ketahui dengan pasti bahawa ilmu dan Abu Hanifah adalah sepasangan bersama.
Abu Hanifah tidak hanya berpuas hati dengan pembelajarannya di Kufah dan Basrah. Beliau kemudiannya turun ke Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Di sana beliau duduk berguru kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah. Kemudiannya Abu Hanifah duduk pula bersama Ikrimah, seorang tokoh besar di Mekah yang juga merupakan anak murid kepada ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, ‘Ali bin Abi Talib, Abu Hurairah dan ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhum. Kehandalan Abu Hanifah dalam ilmu-ilmu hadis dan fiqh diiktiraf oleh Ikrimah sehingga beliau kemudiannya membenarkan Abu Hanifah menjadi guru kepada penduduk Mekah.
Abu Hanifah kemudiannya meneruskan pengajiannya di Madinah bersama  Baqir dan Ja’afar al-Siddiq. Kemudiannya beliau duduk bersebelahan dengan Malik bin Anas, tokoh besar kota Madinah ketika itu. Walaupun Abu Hanifah 13 tahun lebih tua daripada Malik, ini tidak menghalangnya untuk turut serta belajar. Apabila guru kesayanganya Hammad meninggal dunia di Basrah pada tahun 120H/738M, Abu Hanifah telah diminta untuk mengganti kedudukan Hammad sebagai guru dan sekaligus tokoh agama di Basrah. Melihatkan tiada siapa lain yang akan meneruskan perjuangan Hammad, Abu Hanifah bersetuju kepada jawatan tersebut.
Mulai di sinilah Abu Hanifah mengajar dan menjadi tokoh besar terbaru dunia Islam. Orang ramai dari serata pelusuk dunia Islam datang untuk belajar bersamanya. Disamping mengajar, Abu Hanifah ialah juga seorang pedagang dan beliau amat bijak dalam mengadili antara dua tanggung-jawabnya ini sebagaimana terang anak muridnya al-Fudail ibn‘Iyyad:
Adalah Abu Hanifah seorang ahli hukum, terkenal dalam bidang fiqh, banyak kekayaan, suka mengeluarkan harta untuk sesiapa yang memerlukannya, seorang yang sangat sabar dalam pembelajaran baik malam atau siang hari, banyak beribadat pada malam hari, banyak berdiam diri, sedikit berbicara terkecuali apabila datang kepadanya sesuatu masalah agama, amat pandai menunjuki manusia kepada kebenaran dan tidak mahu menerima pemberian penguasa.
Pada zaman pemerintahan Abbasid, Khalifah al-Mansur telah beberapa kali meminta beliau menjawat kedudukan qadi kerajaan. Abu Hanifah berkeras menolak tawaran itu. Jawapan Abu Hanifah membuatkan al-Mansur marah lalu dia menghantar Abu Hanifah ke penjara. Akan tetapi tekanan daripada orang ramai menyebabkan al-Mansur terpaksa membenarkan Abu Hanifah meneruskan pengajarannya walaupun daripada dalam penjara. Apabila orang ramai mula mengerumuni penjara untuk belajar bersama Abu Hanifah,al-Mansur merasakan kedudukannya mula tergugat. al-Mansur merasakan Abu Hanifah perlu ditamatkan hayatnya sebelum terlambat.
Akhirnya Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rejab 150H/767M ketika di dalam penjara disebabkan termakan makanan yang diracuni orang. Dalam riwayat lain disebutkan bahawa beliau dipukul dalam penjara sehingga mati. Kematian tokoh ilmuan Islam ini dirasai oleh dunia Islam. Solat jenazahnya dilangsungkan 6 kali, setiapnya didirikan oleh hampir 50,000 orang jamaah. Abu Hanifah mempunyai beberapa orang murid yang ketokohan mereka membolehkan ajarannya diteruskan kepada masyarakat. Antara anak-anak murid Abu Hanifah yang ulung ialah Zufar (158H/775M), Abu Yusuf (182H/798M) dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani (189H/805M).
 
Imam Malik bin Anas
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93H/711M. Beliau dilahirkan di dalam sebuah kota yang merupakan tempat tumbuhnya Islam dan berkumpulnya generasi yang dididik oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, radhiallahu ‘anhum. Sejarah keluarganya juga ada hubung-kait dengan ilmu Islam dengan datuknya sendiri seorang perawi dan penghafal hadis yang terkemuka. Pakciknya juga, Abu Suhail Nafi’ adalah seorang tokoh hadis kota Madinah pada ketika itu dan dengan beliaulah Malik bin Anas mula mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya hadis. Abu Suhail Nafi’ ialah seorang tabi‘in yang sempat menghafal hadis daripada ‘Abd Allah ibn ‘Umar, ‘A'isyah binti Abu Bakar, Umm Salamah, Abu Hurairah dan Abu Sa‘id al-Khudri radhiallahu ‘anhum.
Selain Nafi’, Malik bin Anas juga duduk berguru dengan Ja'afar al-Siddiq, cucu kepada al-Hasan, cucu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Malik juga duduk belajar di Masjid Nabawi berguru dengan Muhammad Yahya al-Ansari, Abu Hazim Salmah al-Dinar, Yahya bin Sa'ad dan Hisham bin ‘Urwah. Mereka ini semua ialah anak murid kepada sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suasana kehidupan Malik bin Anas di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan para tabi‘in amatlah menguntungkannya. Para tabi‘in ini adalah mereka yang sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sempat belajar, mendengar hadis dan mengamalkan perbuatan para sahabat secara terus. Inilah antara sebab kenapa Malik bin Anas tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali apabila pergi menunaikan ibadat hajinya.
Malik bin Anas kemudiannya mengambil alih sebagai tokoh agama di Masjid Nabawi. Ajarannya menarik sejumlah orang ramai daripada pelbagai daerah dunia Islam. Beliau juga bertindak sebagai mufti Madinah pada ketika itu. Malik juga ialah antara tokoh yang terawal dalam mengumpul dan membukukan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitabnya Al Muwattha'.[1] Kitabnya ini menjadi hafalan dan rujukan orang ramai sehinggakan ia pernah dikatakan oleh al-Syafi‘e sebagai:
Tidak wujud sebuah buku di bumi yang paling hampir kepada al-Qur'an melainkan kitab Imam Malik ini.
Antara tokoh besar yang duduk belajar bersama Malik ialah Abu Hanifah dari Kufah. Selain itu diriwayatkan bahawa sebanyak 1300 tokoh-tokoh lain yang duduk bersama menuntut ilmu bersama Malik di Masjid Nabawi. Antaranya termasuklah Muhammad bin Idris, yang kemudiannya terkenal dengan gelaran Imam al-Syafi‘e. Ketinggian ilmu Malik bin Anas pernah diungkap oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai:
Malik adalah penghulu dari para penghulu ahli ilmu dan dia pula seorang imam dalam bidang hadis dan fiqh. Siapakah gerangan yang dapat menyerupai Malik ?
Malik pernah dihukum oleh gabenor Madinah pada tahun 147H/764M kerana telah mengeluarkan fatwa bahawa hukum talak yang cuba dilaksanakan oleh kerajaan Abbasid sebagai tidak sah. Kerajaan Abbasid ketika itu telah membuat fatwa sendiri bahawa semua penduduk perlu taat kepada pemimpin dan barangsiapa yang enggan akan terjatuh talak ke atas isterinya ! Memandangkan rakyat yang lebih taatkan ulama' daripada pemimpin, pemerintah Abbasid telah memaksa Malik untuk mengesahkan fatwa mereka. Malik enggan malah mengeluarkan fatwa menyatakan bahawa talak sedemikian tidak sah (tidak jatuh talaknya). Malik ditangkap dan dipukul oleh gabenor Madinah sehingga bahunya patah dan terkeluar daripada kedudukan asalnya. Kecederaan ini amatlah berat sehinggakan beliau tidak lagi dapat bersolat dengan memegang kedua tangannya di dada, lalu dibiarkan sahaja di tepi badannya.
Malik kemudiannya dibebaskan dan beliau kembali mengajar di Madinah sehinggalah beliau meninggal dunia pada 11 Rabiul-Awal tahun 179H/796M. Di antara anak-anak murid beliau yang masyhur ialah ‘Abd al-Rahman bin al-Qasim al-Tasyri (191H/807M), Ibn Wahhab Abu Muhammad al-Masri (199H/815M) dan Yahya bin Yahya al-Masmudi (234H/849M).
 
Imam al-Syafi‘e
Imam al-Syafi‘e lahir di Gaza, Palestin pada tahun 150H/767M. Nama sebenarnya ialah Muhammad bin Idris al-Syafi‘e. Beliau mempunyai pertalian darah Quraish dan hidup tanpa sempat melihat ayahnya. Pada umur 10 tahun ibunya membawanya ke Mekah untuk ibadah Haji dan selepas itu beliau tetap berada di sana menuntut ilmu. Di Mekah al-Syafi‘e memulakan perguruannya kepada Muslim bin Khalid al-Zanji, mufti Kota Mekah  ketika itu.
Kitab ilmu yang paling terkemuka pada ketika itu ialah al-Muwattha' karangan Malik bin Anas dan al-Syafi‘e dalam usia mudanya 15 tahun telahpun menghafal keseluruhan kitab tersebut. al-Syafi‘e kemudiannya berhijrah ke Madinah untuk berguru dengan penulis kitab itu sendiri. Ketika itu al-Syafi‘e berumur 20 tahun dan beliau terus duduk bersama Malik sehinggalah kematiannya pada tahun 179H/796M. Ketokohan al-Syafi‘e sebagai murid terpintar Malik bin Anas mulai diiktiraf ramai. al-Syafi‘e mengambil alih sebentar kedudukan Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi sehinggalah beliau ditawarkan kedudukan pejabat oleh Gabenor Yaman. Jawatan al-Syafi‘e di Yaman tidak lama kerana beliau telah difitnah sebagai pengikut Mazhab Syi‘ah. Selain itu pelbagai konspirasi lain dijatuhkan ke atasnya sehinggalah beliau dirantai dan dihantar ke penjara Baghdad, pusat pemerintahan Dinasti Abbasid ketika itu.
al-Syafi‘e dibawa menghadap ke Khalifah Harun al-Rashid dan beliau berjaya membuktikan kebenaran dirinya. Kehandalan serta kecekapan al-Syafi‘e membela dirinya dengan pelbagai hujah agama menyebabkan Harun tertarik kepadanya. al-Syafi‘e dibebaskan dan dibiarkan bermastautin di Baghdad. Di sini al-Syafi‘e telah berkenalan dengan anak murid Abu Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutamanya Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani. Suasana ini memberikan kelebihan yang penting bagi al-Syafi‘e, iaitu beliau berkesempatan untuk belajar dan membanding antara dua ajaran Islam: ajaran Malik bin Anas dan ajaran Abu Hanifah.
Pada tahun 188H/804M, al-Syafi‘e berhijrah ke Mesir. Sebelum itu beliau singgah sebentar di Mekah dan di sana beliau diberi penghormatan dan dipelawa memberi kelas pengajian. al-Syafi‘e kini mula diiktiraf sebagai seorang imam dan beliau banyak meluahkan usaha untuk cuba menutup jurang perbezaan antara ajaran Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Usahanya ini tidak disambut baik oleh penduduk Mekah kerana kebiasaan mereka kepada ajaran Malik.
Pada tahun 194H/810M, al-Syafi‘e kembali semula ke Baghdad dan beliau dipelawa untuk memegang jawatan qadi bagi Dinasti Abbasid. Beliau menolak dan hanya singgah selama 4 tahun di Baghdad. al-Syafi‘e kemudian kembali ke Mesir dan memusatkan ajarannya di sana. Daud bin ‘Ali pernah ditanya akan kelebihan al-Syafi‘e berbanding tokoh-tokoh lain pada ketika itu, maka beliau menjawab:
al-Syafi‘e mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada orang lain. Dia seorang bangsawan, dia mempunyai agama dan i'tiqad yang benar, seorang yang sangat murah hati, mengetahui hadis sahih dan hadis daif, nasikh, mansukh, menghafal al-Qur'an dan Hadis, perjalanan hidup para Khulafa' al-Rashidun dan amat pandai mengarang.
Dalam usahanya untuk cuba menutup jurang perbezaan antara ajaran Malik bin Anas dan Abu Hanifah, al-Syafi‘e menghadapi banyak tentangan daripada pengikut-pengikut Mazhab Maliki yang taksub kepada guru mereka. Pada satu malam dalam perjalanan balik ke rumah dari kuliah Maghribnya di Mesir, al-Syafi‘e telah dipukul sehingga menyebabkan kematiannya. Pada ketika itu al-Syafi‘e juga sedang menghadapi penyakit buasir yang agak serius.
al-Syafi‘e meninggal dunia pada 29 Rejab tahun 204H/820M di Mesir. Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab yang paling agung dalam bidang usul fiqh berjudul al-Risala. Kitab ini adalah yang terawal dalam menyatakan kaedah-kaedah mengeluarkan hukum daripada sesebuah nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Selain itu al-Syafi‘e juga meninggalkan kitab fiqhnya yang masyhur berjudul al-Umm. Ajaran al-Syafi‘e diteruskan oleh beberapa anak muridnya yang utama seperti Abu Yakub al-Buwayti (231H/846M), Rabi’ bin Sulaiman al-Marali (270H/884M) dan Abu Ibrahim bin Yahya al-Muzani (274H/888M).
 
Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad pada tahun 164H/781M. Ayahnya seorang mujahid Islam dan meninggal dunia pada umur muda 30 tahun. Ahmad kemudiannya dibesarkan oleh ibunya Saifiyah binti Maimunah. Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur’an sejak kecil dan pada umurnya 16 tahun dia sudah menjadi penghafal hadis yang terkenal. Ahmad bin Hanbal meneruskan pengajian hadisnya dengan sekian ramai guru dan beliau pada akhir hayatnya dijangkakan telah menghafal lebih daripada sejuta hadis termasuk barisan perawinya.
Pada tahun 189H/805M Ahmad bin Hanbal berhijrah ke Basrah dan tidak lama kemudian ke Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Di sana beliau sempat duduk berguru dengan al-Syafi‘e. Sebelum itu guru-gurunya yang masyhur ialah Abu Yusuf, Husain ibn Abi Hazim al-Washithi, ‘Umar ibn ‘Abd Allah ibn Khalid, ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi dan Abu Bakar ibn ‘Iyasy. Pada tahun 198H Ahmad bin Hanbal ke Yaman pula untuk berguru dengan ‘Abd al-Razzaq ibn Humam, seorang ahli hadis yang besar ketika itu, terkenal dengan kitabnya yang berjudul al-Musannaf. Dalam perjalanannya ini Ahmad mula menulis hadis-hadis yang dihafalnya setelah sekian lama.
Ahmad bin Hanbal kembali semula ke Baghdad dan mula mengajar. Kehebatannya sebagai seorang ahli hadis dan pakar fiqh menarik perhatian orang ramai dan mereka mula mengerumuninya untuk belajar bersama. Antara anak muridnya yang kemudian berjaya menjadi tokoh hadis terkenal ialah al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud. al-Qasim ibn Salam pernah berkata:
Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling ahli dalam bidang hukum dan aku tidak melihat ada orang yang lebih mengetahui tentang al-Sunnah selain dia. Dia tidak pernah bersenda gurau, dia selalu berdiam diri, tidak memperkatakan apa-apa selain ilmu.
Ahmad bin Hanbal pernah mengalami pengalaman hidup dalam penjara kerana kekerasannya menentang Mazhab Mu’tazilah yang diterima oleh pemerintah Abbasid ketika itu. Mereka (pemerintah) memaksa Ahmad mengesahkan mazhab baru tersebut. Ahmad enggan dan ini menyebabkan beliau dirotan dalam penjara sehingga tidak sedarkan diri.
Ketegasan Ahmad dan tekanan daripada orang ramai akhirnya menyebabkan pihak pemerintah terpaksa membebaskan beliau. Ahmad kemudian meneruskan pengajarannya kepada orang ramai sehinggalah kematiannya pada tahun 241H/856M. Ahmad bin Hanbal meninggalkan kepada dunia Islam kitab hadisnya yang terkenal iaitu al-Musnad yang mengandungi lebih kurang 30,000 hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atsar para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dua orang anaknya yang utama meneruskan perjuangan ayah mereka, iaitu ‘Abd Allah bin Ahmad dan Salih bin Ahmad.
 
Demikian secara ringkas riwayat hidup para imam mazhab yang masyhur. Selain itu terdapat juga beberapa tokoh yang tidak kurang hebatnya yang hidup sezaman dengan mereka. Akan tetapi kerana beberapa sebab tertentu, mazhab para tokoh ini tidak bertahan lama atau tidak menjadi masyhur. Antara tokoh-tokoh yang dimaksudkan itu ialah:
 
·        Imam al-Awza‘e. Nama sebenar beliau ialah ‘Abd al-Rahman ibn al-Awza‘e
Dilahirkan di kota Ba’labek, Syria pada tahun 89H/708M. Terkenal sebagai seorang tokoh hadis yang terkemuka pada zamannya. Antara prinsip ajaran fiqhnya ialah menjauhkan penggunaan kaedah qiyas apabila wujudnya dalil yang jelas dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Mazhab al-Awza‘e terkenal di Syria, Jordan, Palestin dan Lubnan sehinggalah ke kurun ke 10M apabila Mazhab al-Syafi‘e mula mempengaruhi penduduk di sana. al-Awza‘e meninggal dunia di Beirut pada tahun 157H/774M. Prinsip-prinsip ajaran beliau berkenaan penggunaan qiyas banyak tertulis di dalam kitab-kitab usul fiqh hingga ke hari ini.
 
·        Imam Zaid adalah cucu kepada Ali bin Abi Talib melalui anaknya Hasan. Beliau di lahirkan di Madinah pada tahun 81H/700M dan menumpukan perhatian kepada ilmu al-Qur’an dan al-Sunnah. Beliau mengajar di beberapa bandar dan kota, antaranya Madinah, Basrah Kufah dan Wasit. Ajarannya masih diamalkan hingga kini di beberapa lokasi terpencil di Yaman.
 
·        Imam al-Layts ibn Sa‘ad berketurunan Parsi, lahir di Mesir pada tahun 97H/716M. Beliau mempelajari jurusan-jurusan ilmu Islam daripada Abu Hanifah dan Malik bin Anas. Ketokohannya di Mesir sangat terserlah sehinggakan al-Syafi‘e juga berhijrah ke sana untuk duduk belajar bersama anak-anak muridnya. al-Layts meninggal dunia pada tahun 174H/791M dan ajaran-ajarannya tidak tersebar luas kerana beliau melarang anak muridnya menulisnya.
 
·        Imam Sufyan al-Tsauri lahir di Kufah pada tahun 100H/719M dan merupakan salah orang ulama’ yang besar di sana di samping Abu Hanifah. Beliau berani menyuarakan ketidak-setujuannya terhadap beberapa prinsip pemerintahan Abbasid ketika itu yang tidak sehaluan dengan ajaran Islam. Sufyan al-Tsauri diburu oleh pihak pemerintah menyebabkan beliau banyak menghabiskan masa hidupnya mengajar dalam persembunyian hinggalah ke hari kematiannya pada tahun 160H/777M.
 
·        Imam Dawud al-Zahiri lahir di Kufah pada tahun 236H/851M. Nama sebenarnya ialah Dawud bin ‘Ali. Beliau pernah berguru dengan al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal dalam ilmu hadis dan fiqh. Dawud bin ‘Ali berpegang kepada prinsipnya yang tersendiri iaitu hanya menerima nas al-Qur’an dan al-Sunnah dalam bentuknya yang zahir tanpa ditakwil atau diqiyaskan. Oleh itulah beliau terkenal sebagai al-Zahiri yang berasal dari perkataan ‘zahir’. Dawud bin ‘Ali meninggal dunia pada tahun 270H/883M dan mazhabnya banyak didokongi oleh tokoh ilmuan yang terkenal pada kurun ke 11M, iaitu Imam Ibn Hazm (456H/1064M).
 
·        Imam al-Tabari atau nama sebenarnya Muhammad ibn Jarir ibn Yazid al-Tabari lahir di Tabaristan pada tahun 224H/839M. Beliau banyak merantau menuntut ilmu di seluruh semenanjung Arab sehingga ke Mesir. Beliau sempat mendalami ajaran-ajaran Abu Hanifah, Malik dan al-Syafi‘e. Sekembalinya ke tempat asalnya beliau mula mengajar kepada orang ramai. Antara hasil tulisannya yang terkenal ialah kitab tafsir berjudul Jami’ al-Bayan yang terkenal sehingga hari ini.
 
Demikian riwayat hidup ringkas beberapa tokoh-tokoh Islam terawal yang memainkan peranan penting dalam menghidup dan memajukan Islam dari sudut keilmuannya. Mereka mengorbankan keseluruhan hidup mereka untuk mencari dan menyebarkan ilmu. Jasa-jasa mereka dapat kita manfaatkan hingga hari ini.[2] 
Tokoh-tokoh Islam di atas juga dikenali sebagai imam-imam mujtahid. Imam Mujtahid bermaksud imam yang melakukan ijtihad. Ijtihad dari sudut bahasa bererti:
Mencurah segala kemampuan dalam segala perbuatan. Kata-kata ijtihad tidak dipergunakan kecuali kepada hal-hal yang mengandungi kesulitan dan memerlukan banyak tenaga.
Sementara dari sudut syara', ijtihad bererti:
Mencurah segala kemampuan bagi mendapatkan hukum syara’ yang bersifat praktikal dengan cara istimbat â€" mengambil kesimpulan hukum.[3]
Seorang yang berijtihad dengan menggali, menganalisa dan mengkaji sumber-sumber ilmuan Islam dari al-Qur’an dan al-Sunnah digelar sebagai seorang Mujtahid sepertimanatokoh-tokoh yang dihuraikan biografi mereka di atas.
 
 
^Kembali Ke Atas
| 3. Pegangan Dan Prinsip Para Imam Mazhab
 

________________________________

[1]               Kitab ini masih dicetak sehingga hari ini dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris dan Indonesia.
[2]               Hasbi al-Shiddieqie â€" Pokok-pokok Pegangan Imam Mazhab (Rizki Putra, Semarang 1997), ms. 413-542;. A.Rahman I.Doi â€" Shari’ah: The Islamic Law, ms. 88-111; Abu Ameenah Bilal Philips â€" The Evolution of Fiqh, ms. 63-90.
[3]               al-Syaukani â€" Irsyad al-Fuhul, ms. 250 sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Qaradhawi di dalam bukunya Ijtihad dalam Syari‘at Islam-Beberapa pandangan dan analisa tentang ijtihad Kontemporer (edisi terjemahan oleh Achmad Syathori; Thinker’s Library, K.Lumpur 1988), ms. 1-2.
al-Syaukani ialah al-Imam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad al-Syaukani. Lahir di Yaman pada 1172H/1757M dan pada mulanya adalah ulama’ besar bagi Mazhab Zayyidah, salah satu mazhab Syi‘ah yang bersifat sederhana. Beliau kemudiannya beralih ke Mazhab Ahl al-Sunnah dan mendalami bidang hadis sehingga akhirnya menjadi terkenal sebagai seorang ahli hadis yang tersohor dalam dunia Islam ketika itu, meninggal dunia pada 1252H/1835M.


-=-=-=-

tambahan nukilan ttg fitnah penguasa thd imam perintis 4 madzhab:
http://www.islambisa.web.id/2011/11/26/sejarah-singkat-ahli-hadits-imam-malik/

-=-=-=

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.”
Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja’far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang mereka tak sukai.
Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja’far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja’far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.
Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.
Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.
-=-=-=

 dan dari http://wahdahsalafi.multiply.com/journal/item/30

-=-=-=-

FITNAH YANG MENIMPA BELIAU
  Adanya fitnah seringkali menjadi sarana Allah untuk menilai kualitas iman seseorang. Hal ini juga tak luput dari perikehidupan seorang Imam Abu Hanifah. Berbagai riwayat menceritakan tentang fitnah yang menimpa beliau yang menampakkan kegigihan beliau dalam menetapi sesuatu yang diyakininya benar.
 
Terdapat berbagai versi tentang hal tersebut :
1.      Dikatakan dari Ubidillah bin Amir bahwa :
Sesungguhnya Ibnu Hubairah (Pejabat pemerinntahan di masa Khalifah Marwan) telah mencambuk Abu hanifah sebanyak 110 cambukan dengan cemeti agar dia mau memegang jabatan sebagai hakim. Namun beliau lebih memilih untuk menolaknya. 
              Kisahnya :
               Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari.
               Pernah pada suatu ketika Abu  Hanifah akan diangkat menjadi ketua Baitul mal, tetapi pengangkatan itu ditolaknya.  Sampai berulang kali Gabenor Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.
Pada waktu yang lain Gubernur Yazid menawarkan pangkat Qadi (hakim) tetapi juga ditolaknya.
Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera.
Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.
Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi jabatan oleh Gubernur.
Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu niscaya ia akan dihukum dengan pukulan.”
Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Abu Hanifah tetap menolak jawatan itu, bahkan ia tetap tegas tidak mau menjadi pejabat kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara.
Kerana sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, dengan tidak dipukul.
Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan.
Beberapa hari sesudah itu gubernur menawarkan menjadi Qadi, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.
2. Basyar bin Al Walid mengatakan :
    Abu Ja’far Al Manshur meminta Abu Hanifah untuk menjadi hakim dalam pemerintahannya, namun beliau menolaknya dan hal itulah yang menyebabkan beliau dijebloskan ke dalam penjara. Sampai waktu tertentu.
  Kisahnya :
Pada masa pemerintahan Abu Ja'far Al Manshur, Imam Abu Hanifah mendapat panggilan dari Baginda di Bagdad. Sesampai di istana, beliau di tunjuk dan diangkat menjadi hakim (qadhi) kerajaan di Baghdad. Baginda bersumpah keras bahwa beliau harus menerima jabatan itu. Tawaran jabatan setinggi itu beliau tolak dan bersumpah tidak akan sanggup mengerjakannya.
Di tengah pertemuan ada seorang yang pernah menjadi santrinya dan sekarang menjadi pegawai kerajaan, tiba-tiba memberanikan diri berkata kepada beliau: "Apakah guru akan tetap menolak kehendak Baginda, padahal Baginda telah bersumpah akan memberikan kedudukan tinggi kepada guru.
Abu Hanifah dengan tegas menjawab: "Amirul mu'minin lebih kuat membayar kafarat sumpahnya dari pada saya membayar kafarat sumpah saya."
Oleh karena tetap menolak pengangkatan itu, maka sebagai ganjarannya Baginda merintahlan agar Imam Abu HAniafah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Baghdad. Ada yang mengatakan beliau di penjara sampai batas waktu tertentu.
  * Kisah yang lain
     Mughits bin udail menagatakan :
      Abu Ja'far Al Manshur memanggil Abu Hanifah untuk menjabat sebagai hakim, tetapi dia menolaknya. Dan itulah yang menyebabkan beliau dipenjara.
Suatu hari, ada perintah menghadap dari istana, kemudian  bertanya kepada beliau: "Adakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?"
Jawabnya tenang, "Semoga Allah memperbaiki Amirul Mu'minin! Wahai Amirul Mu'minin takutlah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau bersekutu dalam kepercayaan engkau dengan orang yang tidak takut kepada Allah! Demi Allah, saya bukanlah orang yang boleh dipercaya di waktu tenang. Maka bagaimana mungkin saya menjadi orang yang boleh dipercaya diwaktu marah? Sungguh saya tidak sepatutnya diberi jabatan yang sedemikian itu!"
Baginda berkata: "Kamu berdusta, karena kamu patut memegang jabatan itu!"
"Ya Amirul Mu'minin! Sesungguhnya baginda telah menetapkan sendiri (bahwa saya seorang pendusta). Jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut menjabat itu, dan jika saya berdusta, maka bagaimana Baginda akan mengangkat seorang hakim yang berdusta?
1. Ada yang mengatakan bahwa Abu Hanifah menerima jabatan sebagai hakim, kemudian ia memutuskan oerkara hingga dua hari, lalu ia sakit selama 6 hari dan akhirnya meniggal dunia
2. Al Faqih Abu Abdullah As Shumairi mengatakan :
Dia tidak mau menjalankan sumpah sebagai hakim kemudian ia dipukuli dan ditahan hingga meninggal dunia di tahanan.
*   AKHIR HIDUP BELIAU  *
Mengenai akhir hidup beliau, terdapat beberapa versi.
1. Imam Adz Dzahabi mengatakan :
Khalifah Abu Ja’far al Manshur memberi minuman beracun kepada Imam Abu Hanifah dan ia pun meninggal sebagai syahid.
1. Al haitsami berkata :
Beberapa perawi meriwayatkan bahwa ia diberi semangkuk minuman beracun agar diminumnya, kemudian minuman itu disiramkan paksa ke dalam mulutnya, hingga akhirnya beliau meninggal dunia.
1. Dikatakan juga bahwa :
Ketika merasa kematiannya telah dekat, Imam Abu hanifah bersujud hingga ruhnya keluar dalam keadaan ia sedang bersujud.
1. Diriwayatkan juga bahwa :
Sesungguhnya kematian beliau bukan disebabkan oleh penolakannya menjadi hakim.
Melainkan adanya beberapa orang yang memusuhi al imam dan menfitnah beliau sebagai orang yang memperngaruhi Ibrahim bin Abdullah bin Al hasan bin Al Husain bin Ali bin Abi thalib untuk memeranginya di Basrah.
Al Manshur sangat khawatir jika membunuh Al imam tanpa sebab. Karena itulah beliau memintanya sebagai hakim, karena ia tahu bahwa Al imam tidak mungkin menerimanya sehingga ia memiliki alasan untuk membunuhnya.
Para ahli sejarah sepakat bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 150 H/ 769 M pada usia 70 tahun.
Ada yang mengatakan beliau wafat pada bulan rajab, ada yang mengatakan bulan sya’ban dan ada yang mengatakan bulan syawal.
Demikianlah biografi singkat Al Imam Abu Hanifah.  Kehidupan yang penuh makna, yang membuat nama beliau masih kita kenal hingga abad ini. Semoga dapat dijadikan pelajaran oleh siapapun yang memilih untuk hidup dan mati fi sabilillah..
Wallahu a’lam bis shawab.
Sumber bacaan :
1. 60 biografi ulama salaf, Syaikh Ahmad Farid, Penerbit Al Kautsar
2. http://makasin.blogspot.com
3. http://www.darussholah.com
4. http://www.unri.ac.id/ 
-=-=-=-

juga simak nukilan dari http://ahlussunnah.info/artikel-ke-63-ahmad-bin-hambal-imam-ahlus-sunnah-wal-jamaah

-=-=-=-

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan
Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para Nabi dan Rasul. Dan Imam Ahmad termasuk diantaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani 'Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.
Pada masa pemerintahan Bani 'Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu'tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya, justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk bid'ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah, Jahmiyah, Asy'ariyah, Rafidhah, Mu'tashilah, dan lain-lain.
Kelompok Mu'tashilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, dibawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, diantaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212 H, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan al-Qur'an.
Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan al-Qur'an. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh; “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata, 'Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa al-Qur'an itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun.’” Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu'tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu melakukannya.
Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan al-Qur'an, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan al-Qur'an, termasuk diantaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa al-Qur'an itukalamullah, bukan makhluk.
Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Baghdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218 H). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.
Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu'tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan al-Qur'an dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan al-Qur'an, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan â€"atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.
Selama itu pula, setiap harinya al-Mu'tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu'tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.
Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu'tashim wafat.
Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu'tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk Baghdad merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jama'ah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih lima tahun, yaitu sampai al-Watsiq meninggal tahun 232 H.
Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan al-Qur'an masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234 H, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat tentang kemakhlukan al-Qur'an dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Dimana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, 'Umar bin al-Khaththab, dan 'Umar bin 'Abdul-'Aziz.
Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap seperti itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan diatas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlus-Sunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad; “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar ash-Shiddiq pada Yaumur-Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hambal pada Yaumul-Mihnah.”
Sakit dan Wafatnya
Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 241 H, beliau menghadap kepada Rabb-nya Subhanahu wa Ta'ala menjemput ajal yang telah ditentukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat; “Katakan kepada ahlu bid'ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah
(tampak pada) hari kematian kami.”

-=-=-=-

imam perintis 4 madzhab pun tatkala mulai didekati penguasa, tetap mawas diri.
ini contohnya, dinukil dari
http://www.islambisa.web.id/2011/11/26/sejarah-singkat-ahli-hadits-imam-malik/

-=-=-=

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta’ (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.”
Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

-=-=-=-

akhirnya, ane proklamirkan, bahwa ane bangga menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
terlebih dgn teladan dari imam perintis 4 madzhab
dan berdoa serta berharap wafat dlm keadaan teguh memegang prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Aamiin.

mengenai dinamika madzhab, bisa dibaca disini:
http://hafizfirdaus.com/ebook/PedomanMazhab/Chap1.php

-=-=-=

 
PEDOMAN-PEDOMAN BERMAZHAB DALAM ISLAM
Oleh Hafiz Firdaus Abdullah
{ al-Firdaus.Com }
 
Kandungan | Kata Pengantar 
1. Sejarah Kemunculan Mazhab | 2. Berkenalan Dengan Para Imam Mazhab | 3. Pegangan Dan Prinsip Para Imam Mazhab | 4. Sebab-Sebab Wujudnya Perbezaan Pendapat Antara Para Imam Mazhab | 5. Teladan Para Imam Mazhab Dalam Menghadapi Perbezaan Pedapat | 6. Beberapa Contoh Sikap Taksub Mazhab | 7. Perintah Allah Mentaati Al-Qur'an dan Rasul-Nya | 8. Kepentingan Mazhab Kepada Umat Islam | 9. Wasiat Para Imam Mazhab Kepada Umat Islam | 10. Adakah Seruan “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” Bererti Meninggalkan Ajaran Para Imam Mazhab ? | 11. Memilih-milih Antara Mazhab. | 12. Berusaha Menjauhkan Taqlid 
Kata Penutup
 
1 Sejarah Kemunculan Mazhab
                                

 
Maksud Perkataan “Mazhab” dan “Imam”
Sebelum ditinjau sejarah kemunculan mazhab-mazhab fiqh Islam, ada baiknya jika kita tinjau terlebih dahulu maksud perkataan “Mazhab” dan “Imam” itu sendiri.

Mazhab (مذهب) dari sudut bahasa bererti “jalan” atau “the way of”. Dalam Islam, istilah mazhab secara umumnya digunakan untuk dua tujuan: dari sudut akidah dan dari sudut fiqh.

Mazhab akidah ialah apa yang bersangkut-paut dengan soal keimanan, tauhid, qadar dan qada’, hal ghaib, kerasulan dan sebagainya. Antara contoh mazhab-mazhab akidah Islam ialah Mazhab Syi‘ah, Mazhab Khawarij, Mazhab Mu’tazilah dan Mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah.  Setiap daripada kumpulan mazhab akidah ini mempunyai mazhab-mazhab fiqhnya yang tersendiri. Mazhab fiqh ialah apa yang berkaitan dengan soal hukum-hakam, halal-haram dan sebagainya. Contoh Mazhab fiqh bagi Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah ialah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab al-Syafi‘e dan Mazhab Hanbali.[1]

Mazhab fiqh pula, sebagaimana terang Huzaemah Tahido, bererti:

Jalan fikiran, fahaman dan pendapat yang ditempoh oleh seorang mujtahid dalam menetapkan suatu hukum Islam dari sumber al-Qur’an dan al-Sunnah. Ianya juga bererti sejumlah fatwa atau pendapat-pendapat seorang alim besar yang bergelar Imam dalam urusan agama, baik dalam masalah ibadah ataupun lainnya.[2]

Contoh imam mazhab ialah Abu Hanifah, Malik bin Anas, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal. Pengertian mazhab ini kemudiannya beralih menjadi satu kumpulan ajaran fiqh Islam yang diikuti dan diterima oleh satu-satu kumpulan umat Islam dalam sesebuah wilayah atau negara. Ianya menjadi sumber rujukan dan pegangan yang diiktiraf sebagai ganti atau alternatif kepada ikutan, ijtihad dan analisa terhadap ajaran asli al-Qur’an dan al-Sunnah.

Perkataan “Imam” dari sudut bahasa bererti “teladan” atau “pemimpin.” Dalam Islam, perkataan “Imam” memiliki beberapa maksud selari dengan konteks penggunaannya, iaitu:

1.      Imam sebagai pemimpin solat berjamaah.

2.      Imam sebagai pemimpin atau ketua komuniti orang-orang Islam.

3.      Imam sebagai tanda kelebihan kedudukan ilmunya, sehingga dijadikan sumber pembelajaran dan rujukan ilmu agama. Contohnya ialah Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas dan sebagainya. Walaupun mereka dijadikan sumber rujukan ilmu, autoriti mereka hanyalah terhad kepada apa yang tertera dalam al-Qur'an dan al-Sunnah.

4.      Imam sebagai wakil Allah dan pemimpin umat serta penentu zaman. Imam sebegini hanya khusus bagi Mazhab Syi‘ah. Imam-imam ini bukan sahaja dijadikan rujukan syari‘at tetapi juga memiliki autoriti dalam menetapkan sesuatu yang berkaitan dengan syari‘at tanpa terhad kepada al-Qur’an dan al-Sunnah.[3]

 
Sejarah kemunculan mazhab-mazhab fiqh Islam
Mazhab-mazhab fiqh Islam yang empat iaitu Maliki, Hanafi, Shafi‘e dan Hanbali hanya muncul dan lahir secara jelas pada era pemerintahan Dinasti Abbasid, iaitu sejak kurun ke 2H/8M. Sejarah kemunculan dan perkembangannya boleh dilihat dalam 4 peringkat, iaitu:

1.      Pada era Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah al-Rashidun yang empat.

2.      Pada era Pemerintahan Dinasti Umayyad dan Abbasid di mana pada ketika inilah mazhab-mazhab Islam mula muncul dan berkembang.

3.      Pada era kejatuhan Islam, iaitu mulai kurun ke 4H/10M di mana mazhab-mazhab Islam tidak lagi berperanan sebagai sumber ilmu kepada umat tetapi hanya tinggal sebagai sesuatu yang diikuti dan diterima secara mutlak.

4.      Era kebangkitan semula Islam dan ilmu-ilmunya sama ada dalam konteks mazhab atau ijtihad ulama’ mutakhir.[4]

Era Pertama
Era ini bermula sejak diutusnya Muhammad ibn Abdillah menjadi seorang Rasul Allah dan  mengembangkan agama tauhid yang baru, iaitu Islam. Pada ketika ini sumber syari‘at adalah penurunan wahyu berupa al-Qur’an al-Karim dan tunjuk ajar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Al-Qur’an diturunkan secara berperingkat-peringkat bertujuan memudahkan umat menerima dan belajar secara bertahap.

Kemudahan mereka mempelajari Islam disokong oleh kehadiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang bertindak sebagai guru. Ini sebagaimana dikhabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala di dalam al-Qur’an:


(Sebagaimana) Kami mengutuskan kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu (iaitu Muhammad), yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, dan membersihkan kamu (dari amalan syirik dan maksiat), dan yang mengajarkan kamu kandungan Kitab (Al-Quran) serta Hikmah kebijaksanaan, dan mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui. [al-Baqarah 2:151]

Di samping itu sumber syari‘at kedua adalah juga merupakan pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kini kita terima sebagai Hadis. Hadis beliau adalah juga merupakan wahyu Allah Subhanahu wa Ta‘ala, sebagaimana firman-Nya:

Dan dia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri. Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. [al-Najm 53:3-4]

Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam konteks keagamaan juga merupakan salah satu bentuk tunjuk ajar wahyu Allah Subhanahu wa Ta‘ala, sebagaimana firman-Nya:

Aku tidak melakukan sesuatu melainkan menurut apa yang diwahyukan kepadaku. [al-Ahqaf 46:09]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang guru agama yang membetulkan apa-apa perbuatan umat pada ketika itu yang salah atau kurang baik walaupun beliau pada asalnya tidak ditanya akan hal tersebut. Contohnya ialah kisah yang diberitakan oleh seorang sahabat, Abu Hurairah radhiallahu ‘anh: Aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di salah satu jalan di Madinah, sedangkan aku dalam keadaan berjunub. Maka aku menyelinap iaitu mengelakkan diri dari bertemu dengan Rasulullah dan pergi untuk mandi sehingga Rasulullah mencari-cari aku.

Ketika aku datang kembali, baginda pun bertanya: “Ke mana kamu pergi wahai Abu Hurairah ?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah! Engkau ingin menemuiku sedangkan aku dalam keadaan berjunub. Aku merasa tidak selesa duduk bersama kamu sebelum aku mandi.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maha Suci Allah! Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”[5]

Daripada keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahawa sumber syari‘at atau fiqh Islam pada era pertama ini hanyalah apa yang bersumber daripada ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yakni ajaran, perbuatan dan persetujuan beliau. Pada ketika ini fiqh Islam mudah dipelajari dan sebarang kemusykilan mudah terjawab dengan hadirnya seorang Rasul yang mengajar terus berdasarkan wahyu Allah ‘Azza wa Jalla.[6]

Selepas kewafatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tahun 10H/622M,  para Khalifah al-Rashidun iaitu Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum mengambil-alih sebagai pemimpin agama dan negara. Islam dan segala ajaran syari‘atnya telahpun lengkap dengan kewafatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para Khalifah al-Rashidun  meneruskan tradisi pimpinan dan pengajaran Islam sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, iaitu berlandaskan kepada ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Hanya wujud satu perbezaan yang besar pada ketika ini, iaitu wahyu tidak lagi diturunkan.

Dalam era empat khalifah ini, sempadan-sempadan Islam sudah mula meluas ke arah wilayah-wilayah yang baru. Dengan pembukaan ini, para khalifah Islam sekali-sekala terpaksa berhadapan dengan persoalan-persoalan yang belum pernah dihadapi sebelum ini yang melibatkan hal-hal muamalah seperti ekonomi, hartanah dan sebagainya. Bagi mencari jalan penyelesaiannya, para khalifah akan duduk berbicara dengan para sahabat (Shura) bagi memperoleh satu jawapan majoriti yang paling dekat dengan ketentuan al-Qur'an dan al-Sunnah.

Ibn Hazm (456H) rahimahullah meriwayatkan dari Maimun bin Mehram, kata beliau:

Abu Bakar al-Siddiq, apabila datang orang-orang yang berperkara kepadanya, beliau akan mencari hukumnya dalam Kitabullah (al-Qur'an), maka beliaupun memutuskan perkara itu dengan ketetapan al-Qur'an. Jika tidak ada dalam al-Qur'an dan beliau mengetahui sunnah Rasulullah dalam perkara itu, maka beliaupun memutuskan perkara itu dengan ia. Jika tidak ada sunnah pada perkara itu, beliaupun akan bertanya kepada para sahabat.

Abu Bakar akan berkata: “Telah datang kepadaku suatu perkara, maka adakah kalian mengetahui hukum yang Rasulullah berikan terhadapnya ?” Kadang-kadang berkumpullah beberapa orang sahabat di hadapannya memberitahu apa yang pernah diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan jika Abu Bakar masih tidak menemui sesuatu sunnah Rasulullah dari orang-orang yang ditanyakan itu, maka beliau akan mengumpulkan tokoh-tokoh sahabat dalam majlis Shura lalu bertanyakan pendapat mereka. Dan jika pendapat mereka bersatu atas yang satu (semua setuju) iaitu ijma' , maka beliaupun akan memutuskan atas ketentuan hasil ijma' itu.

Dan Umar al-Khaththab berbuat demikian juga.[7]

Pada ketika ini, para sahabat kebanyakannya masih berada di sekitar Kota Madinah. Oleh itu tidaklah menjadi kesukaran untuk berbincang sesama mereka. Faktor ini memudahkan fiqh Islam berjalan dengan lancar dan selari tanpa wujud apa-apa mazhab atau jalan pandangan yang lain. Suasana fiqh Islam berada dalam keadaan yang tulen, penuh keseragaman dan bersatu sebagaimana yang wujud sebelum ini hasil kefahaman dan konsep saling bertolak ansur yang wujud di kalangan para sahabat dan pemimpin mereka.

Dalam era ini, tidak wujud sebarang mazhab melainkan apa yang disyari‘atkan oleh al-Qur’an, diajar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ijma’ para Khalifah serta sahabat radhiallahu ‘anhum.

 
Era Kedua
Mulai tahun 41H/661M, setelah berlakunya persaingan dan pergolakan politik, pemerintahan Islam beralih ke Dinasti Umayyad, satu kerajaan pemerintahan yang berprinsipkandinasti iaitu yang berdasarkan zuriat keturunan. Dinasti Umayyad tidak memberikan perhatian yang besar kepada perkembangan fiqh Islam. Mereka hanya menumpukan perhatian kepada soalan perluasan empayar dan kekuasaan material.

Dalam era ini banyak pengaruh luar yang berasal daripada Byzantium, Parsi dan India masuk mencemari pemerintahan Dinasti Umayyad. Pola pemerintahan mula bertukar sedikit sebanyak ke arah sekular yang mengasingkan antara agama dan pentadbiran negara.[8] Hiburan-hiburan dan adat-istiadat baru juga mula diperkenalkan dalam istana yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti muzik dan tari menari, ahli nujum, penilik nasib dan sebagainya. Selain itu juga institusi Baitulmal telah bertukar daripada milik rakyat kepada kegunaan persendirian dan pelbagai cukai baru dikenakan.[9] Pemerintah juga mula membezakan keutamaan seseorang berdasarkan bangsa dan kabilah sehingga menyebabkan timbulnya sentimen perkauman di kalangan rakyat.[10]

Pola pemerintahan Dinasti Umayyad ini digambarkan oleh Seyyed Hussien Nasr sebagai:

Dengan tertubuhnya Dinasti Umayyad ini, suatu era baru telah bermula, iaitu lahirnya suatu empayar pemerintahan yang menjangkau dari Asia Tengah hinggalah ke Sepanyol. Mereka sangat-sangat mementing dan mengutamakan kekuasaan serta keluasan empayar walau pada hakikatnya mereka banyak menghadapi masalah pentadbiran dan kewangan dalaman.

Dari segi pentadbiran negara, boleh dikatakan Dinasti Umayyad telah berjaya melakukan suatu usaha yang amat besar lagi berat bagi menjaga wilayah-wilayah dalam empayar mereka. Akan tetapi jika dilihat dari segi nilai-nilai agama, dinasti ini jelas melambangkan kejatuhan dan kemerosotan dari kesyumulan Islam yang wujud sebelum itu.

Mereka (Umayyad) tidak mengambil berat akan penjagaan prinsip dan perlaksanaan ajaran Islam sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah-khalifah yang empat terdahulu. Mereka lebih mementingkan hal-hal urusan dan pentadbiran empayar dan melihat persoalan agama sebagai sesuatu yang remeh.[11]

Di kalangan pemerintah-pemerintah Dinasti Umayyad, sedikit sahaja yang benar-benar melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai pemimpin. Antaranya ialah ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz. Beliau memegang jawatan pemerintah dari tahun 717M hingga 720M dan pada zaman inilah wilayah-wilayah Islam dapat hidup di bawah bendera Islam yang sebenar. Akan tetapi era pemerintahan beliau adalah singkat dan selepas itu Dinasti Umayyad kembali ke era kegelapan di bawah pemerintah-pemerintah yang seterusnya.

Para pemerintah Umayyad tidak memberikan perhatian yang besar kepada tuntutan-tuntutan syari‘at Islam di dalam suasana kehidupan mereka, begitu juga terhadap rakyat umumnya. Sebarang teguran daripada para ulama’ ditepis dan sesiapa yang berani menentang dihukum buang negeri. Para ulama’ istana adalah yang dipilih khas bagi menepati hasrat dan tuntutan persendirian sahaja. Pola pemerintahan Dinasti Umayyad yang sedemikian menyebabkan ulama'-ulama' pada ketika itu mula menyisihkan diri daripada istana. Mereka juga lebih cenderung untuk berhijrah ke beberapa wilayah lain yang sudah berada di bawah bendera Islam tetapi masih dahagakan ajaran Islam yang sepenuhnya.

Hampir semua ulama' yang berhijrah ke daerah-daerah baru Islam ini ialah anak-anak murid didikan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka juga lebih dikenali sebagai gelaran tabi‘in. Adakalanya di beberapa daerah atau wilayah itu muncul ulama' yang kehandalannya berhujah serta berfatwa melebihi daripada kebiasaan. Kepantasan serta kecekapan mereka mengupas persoalan-persoalan agama sangat tepat lagi menyakinkan.

 Justeru itu orang ramai mula berkumpul untuk belajar bersama-sama “tokoh baru” ini. Sering kali juga berita kehandalan tokoh baru ini tersebar ke daerah-daerah berdekatan menyebabkan mereka juga datang beramai-ramai untuk belajar sama. Ini berlaku di beberapa daerah dan dengan ini wujudlah suasana pembelajaran fiqh Islam secara berkelompok dan berkumpulan. Suasana sebegini tidaklah dapat dielakkan kerana tidak wujud medium penyampaian pada zaman tersebut yang dapat meluaskan ajaran seseorang tokoh kepada daerah-daerah lain. Suasana ini berterusansehingga jumlah orang yang ikut belajar semakin banyak. Selari dengan itu, pengaruh tokoh yang mengajar juga semakin berkembang luas.

Akhirnya suasana fiqh Islam telah berubah ke satu era yang baru. Di dalamnya ada kelebihan dan ada kekurangan. Kelebihannya ialah ilmu Islam dapat tersebar dengan lebih meluas meliputi daerah-daerah yang baru. Sebaliknya kita juga dapati fiqh Islam kini berada dalam usaha dan ijtihad perseorangan, tidak lagi secarashura dan ijma' sebagaimana yang wujud pada era para sahabat dan khalifah. Fiqh Islam secara perseorangan ini pula wujud dalam suasana berkelompok atau berkumpulan di sekitar seseorang tokohnya dan ini merupakan noktah permulaan kelahiran mazhab-mazhab Islam. Kota Madinah tidak lagi menjadi pusat ilmu Islam yang ulung melainkan pada beberapa ketika seperti pada musim haji.

Pada permulaan kurun ke 2H/8M, umat Islam sudah mula merasa tidak puas hati kepada pemerintahan Dinasti Umayyad. Suasana ini menimbulkan pemberontakan dan akhirnya dinasti ini dapat dijatuhkan. Peristiwa ini diringkaskan oleh Ensiklopidi Islam (Ind) dalam satu perenggan sebagai:

Pada awal abad ke-8 (102H/720M) sentimen anti-pemerintahan Bani Umayyad telah tersebar secara intensif. Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas bermunculan, iaitu di kalangan muslim bukan Arab (Mawali) yang secara terang-terangan mengeluh akan status mereka sebagai warga kelas dua di bawah muslim Arab, kelompokKhawarij dan Shi'ah yang terus menerus memandang Bani Umayad sebagai perampas khalifah, kelompok muslim Arab di Mekah, Madinah dan Iraq yang sakit hati atas status istimewa penduduk Syria, dan kelompok muslim yang salih baik Arab atau bukan Arab yang memandang keluarga Umayyad telah bergaya hidup mewah dan jauh dari jalan hidup yang Islami. Rasa tidak puas hati ini akhirnya melahirkan suatu kekuatan koalisi (coalition) yang didukung oleh keturunan al-Abbas, paman Nabi s.a.w.[12]

Demikian juga ulas Seyyed Hussein Nasr:

Pada penghujung Era Dinasti Umayyad, orang ramai mula menyedari bahawa kedudukan umat dan negara sudah mulai jauh menyimpang dari nilai-nilai Islam yang sebenar.

Kesedaran agama di kalangan rakyat, terutamanya golongan Shi'ah yang selama ini sememangnya tidak menerima pemerintahan Umayyad - menyebabkan mereka bangun menentang amalan-amalan pemerintahan Umayyad. Usaha mereka disokong dengan kedatangan pengaruh Abbasid…………[13]

Kejatuhan Dinasti Umayyad menyaksikan kelahiran Dinasti Abbasid yang memerintah dari 132H/750M hingga 339H/950M. Pola pemerintahan Abbasid dan Umayyad tidaklah sama di mana Dinasti Abbasid mula memberikan perhatian dan keutamaan kepada Islam terutamanya dari sudut keilmuannya. Dalam era inilah keilmuan Islam kembali bangun dan terus bangun ke tahap ilmiah yang sangat tinggi. Hasbi ash-Shiddieqie rahimahullahmenerangkan:

Sebaik sahaja fiqh Islam memasuki era ini, berjalanlah perkembangan-perkembangannya yang cepat menempuh pelbagai lapangan yang luas. Perbahasan-perbahasan ilmiah meningkat tinggi sehingga tasyri' Islam pada masa ini memasuki period kematangan dan kesempurnaan. Para ulama era ini mewariskan kepada para muslimin kekayaan ilmiah yang tidak ada taranya.

Dalam era inilah dibukukan ilmu-ilmu al-Qur'an, ilmu Hadis, ilmu kalam, ilmu lughah dan ilmu fiqh. Dan dalam era inilah juga lahirlah tokoh-tokoh fiqh yang terkenal……..[14]

Tokoh-tokoh fiqh yang dimaksudkan ini ialah mereka yang sudah mula terkenal namanya sejak dari era Umayyad lagi sepertimana yang diterangkan sebelum ini. Ketokohan mereka dalam bidang ilmu-ilmu Islam sangat memuncak sehingga orang ramai dari segala pelusuk dunia Islam mulai datang ke daerah mereka untuk menuntut ilmu.

Antara tokoh-tokoh yang dimaksudkan itu ialah Abu Hanifah (150H/767M) dan Sufyan al-Thawri (160H/777M) di Kufah, al-Auza‘i  (157H/774M) di Beirut, al-Layts ibn Sa‘ad (174H/791M) di Mesir dan Malik bin Anas (179H/796M) di Madinah. Kemudian daripada mereka lahir juga tokoh-tokoh lain yang mana mereka ini pula ialah anak murid bagi tokoh-tokoh di atas. Di antara yang dimaksudkan ialah Muhammad bin Idris al-Shafi‘e (204H/820M), Ahmad bin Hanbal al-Shaybani (241H/855M), Dawud ibn ‘Ali (270H/883M) dan Muhammad ibn Jarir al-Tabari (311H/923M).[15] Ketokohan dan keilmiahan ulama'-ulama' di atas diiktiraf ramai dan gelaran Imam diberikan kepada mereka.

Setiap daripada tokoh-tokoh ini mempunyai ratusan umat Islam yang mengerumuni mereka sebagai punca sumber ilmu pengetahuan. Walaupun setiap dari tokoh-tokoh ini mengajar berdasarkan al-Qur'an dan al-Sunnah, ada kalanya timbul perbezaan sesama mereka. Perbezaan ini timbul atas sebab-sebab yang sukar untuk dielakkan pada masa era ini seperti berijtihad secara berseorangan, tidak kesampaian sesuatu Hadis yang khusus, berlainan kefahaman terhadap sesuatu nas, kaedah pengambilan hukum yang berbeza dan sebagainya. Perbezaan-perbezaan ini adalah kecil dan insya-Allah akan dihuraikan pada bahagian akan datang.

Perbezaan-perbezaan ini dikatakan sebagai pendapat seseorang tokoh itu dan ia dihubungkan kepada namanya. Sesuatu pendapat inilah yang digelar sebagai Mazhab. (A particular school of thought).

Pada era ini juga ilmu-ilmu Islam mula dibahagikan kepada beberapa jurusan bagi memudahkan seseorang itu mencapai kemahiran di dalamnya seperti ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu bahasa dan sebagainya.

Selain itu ilmu-ilmu di atas juga mula dibukukan secara formal. Antara pembukuan terawal bagi ilmu fiqh Islam ialah Kitab al-Khaaraj oleh Abu Yusuf[16] dan Kitab Al Umm oleh Muhammad Idris al-Shafi‘e. Pembukuan dan penulisan kitab hadis yang terawal juga berlaku pada dalam era ini atas saranan Khalifah Harun al-Rashid.[17] Antara kitab hadis terawal yang diusahakan ialah al-Muwattha’ oleh Malik bin Anas.

Selepas kewafatan tokoh-tokoh di atas, ajaran serta prinsip mereka diteruskan oleh anak-anak murid mereka. Setiap dari mereka cenderung mengajar dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh guru mereka dan dengan itu pengaruh mazhab imam mereka makin terserlah di kalangan umat Islam. Oleh kerana itulah kita dapati pada era ini orang ramai di sekitar Madinah dan Mekah banyak berpegang kepada pendapat Malik bin Anas (Mazhab Maliki), orang ramai di sekitar Iraq cenderung pula kepada pendapat Abu Hanifah (Mazhab Hanafi) dan orang ramai di sekitar Mesir cenderung kepada pendapat al-Layts ibn Sa‘ad.

Suasana kecenderungan kepada satu mazhab semakin menguat apabila pihak pemerintah Dinasti Abbasid mengambil dan mengiktiraf pendapat Abu Hanifah sahaja sebagai mazhab rasmi dunia Islam ketika itu. Suasana ini menimbulkan ketidak-puasan di kalangan orang-orang Madinah, Mesir dan lain-lain. Keadaan ini menjadi lebih tegang apabila pemerintah-pemerintah Abbasid mula mencabar dan menganjurkan perdebatan antara tokoh ilmuan mazhab-mazhab yang berlainan hanya atas tujuan peribadi dan hiburan istana.[18]Perbuatan pemerintah-pemerintah Abbasid ini memburukkan lagi suasana perkelompokan dan persendirian dalam bermazhab di kalangan umat Islam. Abu Ameenah Bilal Philips menerangkan:

Perdebatan-perdebatan ini menimbulkan suasana persaingan dan dogmatisma sesama mereka kerana apabila kalahnya seorang tokoh itu dalam perdebatan ini dia bukan sahaja kehilangan ganjaran wang dari pemerintah tetapi juga kehilangan maruah dirinya.

Lebih dari itu kehilangan maruah diri sangat berhubung-kait dengan kehilangan maruah mazhab seseorang itu. Justeru kita dapati menghujahkan kebenaran atau kebatilan mazhab seseorang itu menjadi agenda utama debat-debat tersebut. Hasilnya, persaingan dan perselisihan makin memanas antara tokoh-tokoh mazhab.[19]

Pada kurun ke 3H/9M, suasana keilmuan Islam bertambah hebat lagi dengan munculnya tokoh-tokoh dan ahli-ahli Hadis seperti Imam Bukhari (256H/870M), Imam Muslim (261H/875M), Imam at-Tirmizi (279H/892M), Imam Abu Daud (275H/889M), Imam An Nasai (303H/915M), Imam Ibnu Majah (273H/887M) dan banyak lagi. Mereka menjihadkan seluruh tenaga, masa dan hayat bagi merantau ratusan kilometer ke seluruh dunia Islam ketika itu untuk mencari, meriwayat, menganalisa, menapis dan membukukan Hadis-Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh ketelitian dan sistematik. Hadis-hadis Rasulullah ditapis dan dianalisa terlebih dahulu dengan ketat sekali sebelum ianya diterima dan diberikan status sahih.[20]

Malangnya pada ketika ini, tokoh-tokoh fiqh yang utama, seperti Abu Hanifah, Malik, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal telahpun meninggal dunia. Ini sedikit-sebanyak ada hubung-kaitnya dengan kesempurnaan pendapat fiqh mereka kerana ada pendapat mereka yang secara tidak sengaja didasarkan kepada hadis yang lemah atau tidak tepat kerana tidak menjumpai hadis yang khusus sebagai dalil.

Permulaan kurun ke 4H/10M menyaksikan Dinasti Abbasid mulai menghadapi era kejatuhannya atas pelbagai masalah dalaman serta luaran. Selepas tahun 339H/950M dunia Islam diperintah oleh beberapa kelompok dinasti-dinasti yang kecil, masing-masing mewakili daerahnya. Pada ketika ini ajaran-ajaran fiqh Islam mula terkumpul sebagai empat ajaran atau empat mazhab, iaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab al-Syafi‘e dan Mazhab Hanbali. Umat Islam pada kurun ke 4H/10M dan seterusnya mula terikut secara ketat kepada empat mazhab ini.

Pada penghujung hayat Dinasti Abbasid ini juga acara-acara perdebatan sesama tokoh dan mazhab makin memuncak sehinggakan acara ini memperoleh namanya yang tersendiri, iaitu Munaad Haraat. Dengan itu juga semangat persaingan dan pembelaan mazhab makin berleluasa, bukan sahaja kepada tokoh-tokoh yang berdebat tetapi juga kepada orang ramai kerana masing-masing membenarkan tokoh dan menyokong mazhab mereka.[21]

Ini secara tidak langsung menyaksikan secara perlahan-lahan terbinanya tembok-tembok pemisah antara sesebuah mazhab sama ada dari segi ajaran, masyarakat dan geografi. Tembok ini dengan peredaran zaman semakin meninggi dan menebal. Umat Islam mula dibahagikan dan dikategorikan kepada mazhab yang mereka ikuti dan pegangi sehinggakan ahli-ahli ilmu pada zaman ini juga mula mengakhiri nama mereka dengan mazhab yang didokongi masing-masing.

 

Era Ketiga

Selepas kejatuhan Dinasti Abbasid, umat Islam berada dibawah beberapa kelompok kerajaan yang berasingan. Masing-masing mempunyai kaedah pemerintahan yang tersendiri dan masing-masing mempunyai ‘mazhab’ rasmi yang dijadikan sumber rujukan pelaksanaan syari‘at-syari‘at Islam. Pada ketika ini juga, iaitu pada kurun-kurun ‘pertengahan’ , umat Islam keseluruhannya mula mengalami kejatuhan dan kemundurannya berbanding dengan negara-negara non-muslim selainnya.[22]

Banyak faktor yang menyumbang kepada kejatuhan umat Islam pada ketika ini, antaranya ialah:

1.      Terlalu leka dengan kejayaan yang dicapai sejak beberapa kurun yang lepas,

2.      Ghairah dengan habuan duniawi hingga alpa akan panduan hidup yang diberikan oleh agama,

3.      Banyak perselisihan sesama sendiri atas tuntutan duniawi dan berbagai lagi.

Akan tetapi satu faktor yang amat penting yang berhubung-kait dengan mazhab-mazhab Islam yang empat ialah wujudnya ketaksuban mazhab dan lahirnya budaya taqlid, iaitu perbuatan hanya mengikut sesuatu ajaran secara membuta tanpa mengetahui apakah hujah atau alasan di sebaliknya.

Dengan terbahaginya umat Islam kepada beberapa kelompok kerajaan dengan masing-masing mempunyai ‘mazhab rasminya’ tersendiri, suasana bermazhab dalam agama menjadi semakin kuat. Seseorang yang berada dalam sesebuah mazhab hanya dibolehkan mempelajari atau mengikuti mazhabnya sahaja tanpa menjengok atau membanding dengan mazhab yang lain. Di samping itu majoriti umat pula sudah mula  menerima hakikat kewujudan mazhab dan mereka lebih rela mengikuti sahaja satu-satu mazhab yang tertentu tanpa lebih daripada itu. Konsep “Kami mazhab kami, mereka mazhab mereka” menjadi cogan kata umat keseluruhannya dan tembok-tembok pemisah antara mazhab menjadi lebih tebal, tinggi dan kukuh.

Para ulama’ juga tidak terlepas daripada belenggu ini. Jika mereka mengeluarkan sesuatu fatwa yang tidak selari dengan tuntutan mazhab rasmi kerajaan atau wilayah mereka, mereka akan dipulau atau dibuang negeri. Ditambah pula, ke negeri mana sekalipun mereka pergi, mereka terpaksa juga akur dengan ajaran mazhab rasminya. Justeru itu para ulama’ sesebuah negara tidak mempunyai banyak pilihan kecuali hanya mengajar dan berfatwa berdasarkan mazhab negaranya, tidak lebih dari itu. Selain itu usaha mereka juga hanya tertumpu kepada pembukuan, peringkasan, penambahan dan penyelarasan ajaran mazhab. Hanya sekali-sekala timbul beberapa ulama’ yang berani melawan arus kebudayaan mazhab ini akan tetapi mereka menghadapi tentangan yang amat sengit dari para pemerintah dan …….. umat Islam sendiri.[23]

Konsep umum “Kami mazhab kami, mereka mazhab mereka” ditambah dengan budaya taqlid mazhab, iaitu mengikuti dan mentaati satu-satu ajaran mazhab secara membuta tanpa mengetahui apakah alasan, hujah mahupun dalil yang dikemukakan oleh mazhab tersebut. Dengan wujudnya budaya taqlid ini, fiqh Islam dan sekaligus mazhab-mazhabnya berubah dari sesuatu yang dinamik kepada sesuatu yang statik. Pintu-pintu ijtihad atau daya usaha mengkaji dan menganalisa dihentikan. Maka beralihlah fiqh Islam pada era ini kepada sesuatu yang beku lagi membatu. Ilmu-ilmu Islam tidak lagi bertambah, sebaliknya makin surut dan tenggelam. Fiqh Islam kononnya sudah tidak dapat lagi menjawab persoalan-persoalan baru yang timbul selari dengan tuntutan zaman. Fiqh Islam dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan dan tidak perlu lagi diberi keutamaan dalam suasana zaman terkini.

Dengan meluasnya budaya taqlid ini, kefahaman umat Islam berkenaan agama mereka makin menurun dan merosot. Fiqh Islam hanya tinggal 5 perkara, iaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus. Tanpa mengetahui hujah dan dalil di sebalik ajaran mereka, umat Islam hanya duduk mentaati ajaran mazhab mereka secara membuta. Suasana budaya taqlidtidak hanya terhad kepada bidang fiqh Islam sahaja tetapi ia juga meliputi bidang akidah dan seluruh syari‘at Islam. Paling bahaya ialah dalam bidang akidah di mana umat sendiri sudah tidak tahu lagi apakah ciri-ciri murni akidah Islam yang sebenar dan apakah pula ajaran-ajaran luar yang mencemari akidah mereka sehingga menghampirkan mereka kepada lembah syirik.

Budaya taqlid ini dan kesan buruknya terhadap sejarah umat diterangkan oleh sejarawan Islam: Ibnu Khaldun (808H) rahimahullah:

Para ulama’ menyeru umat Muslimin supaya kembali taqlid kepada imam-imam yang empat. Masing-masing mempunyai imamnya yang tersendiri yang menjadi tempat taqlidnya. Mereka sama sekali tidak berpindah-pindah taqlid kerana yang sedemikian itu bererti mempermainkan agama.

Tak ada yang tertinggal dari dinamisme pemikiran Islam selain usaha menukilkan ajaran-ajaran yang sudah ditetapkan oleh mazhab-mazhab yang mereka 'anut' , setiap muqallid (orang yang bertaqlid) hanya mempraktikkan ajaran hukum mazhabnya.

Seseorang yang mengakui dirinya melakukan ijtihad tidaklah diakui orang hasil ijtihadnya dan tak seorangpun yang akan bertaqlid kepadanya. Muslimin pada saat ini telah menjadi serombongan manusia yang hanya bertaqlid kepada imam yang empat tersebut. Inilah yang dikatakan orang sekarang sebagai masa kemunduran umat Islam atau pemikiran Islam atau tertutupnya pintu ijtihad. [24]

Walaupun beberapa ketika selepas itu (kurun ke 10H/16M) wujud beberapa kerajaan Islam yang mempunyai kekuatan material dan ketenteraan yang amat hebat sehingga menggerunkan pihak Eropah[25], ini tidak bertahan lama kerana di sebalik kekuatan tersebut tidak ada keutuhan pendirian agama dan pelaksanaannya terhadap tuntutan nilai-nilai manusiawi. Pada waktu yang sama, ada juga yang mula melihat Islam sebagai sesuatu yang tidak mempunyai masa depan kecuali jika ianya diselaraskan dengan konsep dan ideologi Barat.

Beberapa kerajaan Islam ketika itu mula mengimport dan melaksanakan budaya serta ideologi Barat ke dalam kerajaan dan wilayah-wilayah Islam di bawah kawalan mereka. Suasana ini lebih memburukkan: Islam makin tertolak ke belakang dan ideologi lain diletakkan di hadapan. Ini mereka lakukan atas fahaman bahawa ilmu-ilmu Islam ini hanyalah sebagai apa yang termaktub dalam ajaran mazhab dan ajaran mazhab itu pula jauh ditinggalkan oleh kemajuan zaman.

Era ini berjalan terus dengan nasib umat Islam yang sedemikian, iaitu Islam bermazhab, masing-masing bertaqlid kepada mazhab masing-masing ditambah dengan pelbagai ideologi luar yang digunakan sebagai selingan, bahkan gantian kepada ajaran Islam yang asal.

Era Keempat

Pada kurun ke 11H/17M dan 12H/18M, negara-negara Eropah mula mengalami revolusi pembaharuan, kemajuan dan perindustrian. Negara-negara Eropah mula menjajah dan menakluk negara-negara Islam dengan meluaskan pengaruh, agama, ideologi dan adat mereka.[26] Suasana ini mula menyedar dan membangkitkan umat Islam akan hakikat kedudukan mereka yang sebenar. Umat Islam, sekalipun sudah agak terlambat, mula menyedari akan kemunduran mereka dan bahaya yang akan mereka hadapi jika mereka tidak mengubah sikap dan fikiran.

Huzaemah Tahido menerangkan:

Ekspedisi Napoleon ke Mesir yang berakhir pada tahun 1215H/1801M telah membuka mata dunia Islam dan menyedarkan para penguasa dan tokoh-tokoh Islam akan kemajuan dan kekuatan Barat.

Para pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan perimbangan kekuasaan dan kekuatan yang telah pincang dan membahayakan bagi umat Islam. Hubungan dengan Barat inilah yang menimbulkan pemikiran dan kefahaman ‘pembaharuan’ dan ‘modernisasi’ di kalangan umat Islam.

Bagaimanakah memajukan kembali umat Islam seperti masa klasiknya ? Pertanyaan ini terjawab dengan membebaskan kembali pemikiran dari kebekuannya selama ini. Dengan membebaskan kembali pemikiran, ijtihad kembali bergerak. [27]

Kurun ke 12H/18M dan 13H/19M menyaksikan beberapa gerakan dan revolusi muncul di beberapa bahagian dunia Islam bagi menghapuskan ketaksuban mazhab dan taqlid, meruntuhkan tembok-tembok pemisah mazhab dan membangkitkan semula umat Islam dari tidur sekian lama. Fiqh Islam dan sekaligus syari‘atnya digerakkan semula, kesedaran umat Islam terhadap agama mereka dibangkitkan semula dan semangat Islam maju umat maju dilaungkan kembali.

Antara mereka yang berani lagi gigih membangunkan Islam dari tidurnya ialah Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (1206H/1792M) di Semenanjung Arab; Jamal al-Din al-Afghani (1314H/1897M), Muhammad Abduh (1322H/1905M),  Rashid Ridha (1353H/1935M) dan Hasan al Banna (1368H/1949M) di Mesir, Ahmad Khan (1308H/1891M) di India dan Abu A'la Mawdudi (1399H/1979M) di Pakistan.

Selain itu banyak lagi individu lain yang muncul membangunkan semula Islam di benua-benua lain termasuk Asia Tenggara. Walaupun setiap dari mereka mempunyai nama gerakan yang tersendiri, objektifnya tetap sama iaitu memajukan semula Islam berdasarkan pengkajian semula ilmu-ilmu Islam (ijtihad), menolak ikutan buta tanpa ilmu (taqlid) dan mendalami ilmu-ilmu duniawi seperti sains, perekonomian dan sebagainya.

Mereka menekankan bahawa untuk umat Islam bangkit maju semula, mereka wajib mempunyai kepakaran dalam kedua-dua bidang ilmu, iaitu ilmu agama dan ilmu duniawi kerana sememang pada asalnya kedua-dua ilmu ini adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Antara ilmu agama dan ilmu duniawi, ianya saling bantu-membantu, sokong-menyokong; jika ada yang bertentangan maka itu adalah kerana kurangnya pengetahuan manusia tentang salah satu daripadanya.[28]

Usaha pembangunan semula umat masih diperjuangkan hingga ke hari buku ini diusahakan. Tokoh-tokoh agama serata dunia Islam mulai sedar akan kepentingan pengkajian semula ilmu-ilmu Islam, menghindarkan ketaksuban mazhab, mengecam taqlid buta, membuka pintu-pintu ijtihad dan pelbagai lagi. Kitab-kitab tafsir, hadis, fiqh dan pelbagai lagi sumber ilmu Islam tanpa mengira mazhab mula diterjemah agar ia dapat dikuasai oleh umat yang tidak mahir dalam bahasa Arab. Seminar, persidangan dan lain-lain dianjurkan tanpa henti-henti.

Akan tetapi usaha yang dilakukan ini masih kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mahu berusaha atau yang menentang terus ijtihadiah sezaman begini. Masih ramai umat dan tokoh semasa  yang terlalu taksub kepada mazhab sehingga amat berat untuk bertoleransi dengan usaha pembaharuan ini. Tidak kurang juga yang sudah terlalu terpengaruh dengan kebudayaan Barat sehinggakan dirasanya Islam ini, mazhab atau tanpa mazhab, sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Islam menurut mereka hanyalah suatu agama persendirian yang diamalkan di rumah sahaja oleh sesiapa yang mengingininya. Golongan-golongan sebeginilah yang sebenarnya menjadi penghalang kepada kemajuan Islam dan golongan-golongan sebeginilah yang perlu ditangani dan dirundingi segera.[29]

 

Demikianlah secara ringkas sejarah pertumbuhan dan perkembangan mazhab-mazhab fiqh Islam. Sememangnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Khalifah al-Rashidun tidak wujud sebarang mazhab-mazhab Islam. Hanya dengan sebab-sebab sejarah dan politik, barulah muncul mazhab-mazhab ini sebagaimana yang telah dihuraikan di atas.  Bagi memantapkan kefahaman, berikut dihuraikan faktor-faktor penyebab bagi munculnya mazhab-mazhab fiqh Islam yang empat:

·        Pola pemerintahan Umayyad yang tidak akur dan patuh kepada tunjuk ajar para ulama’ yang wujud ketika itu. Malah ulama’-ulama’ yang berani menegur pemerintah, diancam atau ditangkap. Ini menyebabkan ulama’-ulama’ era ini menyisihkan diri mereka dari suasana istana berhijrah ke daerah-daerah lain. Hal ini menyebabkan tidak mungkin berlakunya pencarian dan pencapaian kesepakatan (ijma’) dalam apa-apa persoalan agama. Selain itu pertukaran dan perbandingan ilmu sesama ulama’ tidak lagi terjadi sebagaimana pada zaman sebelum pemerintahan Umayyad.

·        Wilayah Islam sudah semakin luas menyebabkan lahirnya generasi umat Islam yang baru yang menginginkan penjelasan agama terhadap persoalan yang khusus kepada mereka. Oleh kerana Kerajaan Umayyad tidak mengambil peduli akan persoalan agama dan rakyat, maka usaha ini jatuh ke tangan ulama’-ulama’ secara persendirian.

·        Tidak wujud sebarang sistem komunikasi atau media yang canggih pada zaman ini bagi membolehkan para ulama’ di pelbagai daerah berunding sesama mereka. Oleh itu para ulama’ era ini terpaksa berusaha secara sendirian dalam menghadapi persoalan-persoalan agama. Mereka menafsir al-Qur’an mengikut kemampuan ilmu yang sedia ada dan berusaha mengeluarkan hukum mengikut sejumlah hadis yang sedia diketahuinya.

·        Dalam suasana ini timbul beberapa ulama’ yang tinggi ilmunya lagi cekap dalam mengupas dan mengolah persoalan agama. Kehebatannya di satu-satu daerah menyebabkan orang ramai mula berkumpul untuk belajar bersamanya. Berita kehebatannya mula tersebar ke daerah berdekatan menyebabkan orang ramai mula bertumpu kepadanya sebagai sumber rujukan ilmu agama.

·        Perpindahan kerajaan kepada Dinasti Abbasid melihatkan perkembangan ilmu-ilmu Islam secara pesat. Pada era ini juga kehandalan beberapa tokoh persendirian tersebut semakin terserlah. Antara yang paling hebat dan masyhur ialah Malik bin Anas di Madinah, Abu Hanifah di Kufah, al-Syafi‘e di Yaman dan Mesir serta Ahmad bin Hanbal di Baghdad. Pendapat serta ajaran mereka digelar mazhab dan dari sinilah bermulanya Mazhab Maliki, Hanafi, al-Syafi‘e dan Hanbali.

·        Ajaran Abu Hanifah atau mazhabnya diangkat menjadi mazhab rasmi oleh Kerajaan Abbasid. Pemerintah-pemerintah Abbasid melantik qadi-qadi serta ulama’-ulama’ Hanafi menjadi gabenor atau mufti bagi wilayah-wilayah dalam empayar mereka. Ini menimbulkan banyak ketidakpuasan kepada umat Islam yang tidak cenderung kepada mazhab Hanafi. Mereka enggan akur kepada mufti-mufti Hanafiah dan terus mengamalkan mazhab tokoh-tokoh mereka sendiri.

·        Menyedari wujudnya perbezaan antara ajaran mazhab, pemerintah-pemerintah Abbasid mula menganjurkan acara perdebatan antara tokoh sesebuah mazhab. Perbuatan ini menyebabkan persaingan dan perselisihan antara mazhab mula memanas dan memuncak.

·        Setelah jatuhnya Dinasti Abbasid, Kerajaan Ottoman mengambil alih. Selain kerajaan Ottoman wujud juga beberapa kerajaan Islam yang lain. Masing-masing memerintah wilayah mereka yang tersendiri dan mengangkat sesebuah mazhab menjadi mazhab rasmi mereka. Perbuatan ini menambahkan lagi persaingan dan perasingan antara mazhab.

·        Mulai masa ini umat Islam dan negara mereka mula dikenali berdasarkan mazhab. Demikian juga nama-nama tokoh agama didasarkan kepada mazhab yang didokonginya.

·        Mulai kurun pertengahan hingga masa kini, umat Islam hanya merujuk kepada satu-satu mazhab tertentu sahaja. Umat Islam dengan sendirinya menutup pintu-pintu ijtihad dan rela duduk mengamalkan konsep bermazhab dan bertaqlid tanpa banyak soal.

Jika kita benar-benar menganalisa faktor-faktor kemun-culan mazhab-mazhab fiqh Islam ini, kita akan dapati ianya wujud secara ‘terpaksa’ oleh suasana peredaran zaman dan politik. Para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik bin Anas,al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal hanya memiliki tujuan mengajar dan menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang sebenar kepada umat. Mereka berhijrah ke sana-sini semata-mata bagi mencari ilmu dan menyampaikan ilmu. Mereka mengumpul dan menulis ajaran-ajaran Islam supaya ianya tidak hilang dimakan masa, supaya umat terkemudian dapat merujuknya.

 Tidaklah menjadi tujuan para imam mazhab untuk sengaja mengelompokkan umat Islam ini kepada mazhab mereka sahaja. Tidaklah menjadi hasrat para imam mazhab yang empat untuk membelahkan umat ini kepada empat kumpulan. Sejarah dunia memaksa ajaran mereka menjadi terhad kepada sekian daerah dan sekian umat. Suasana politik yang menimbulkan suasana persaingan dengan sengaja menganjurkan debat-debat sesama pengikut mereka. Suasana politik juga memaksa ajaran mazhab ditaati orang ramai tanpa persetujuan mereka.

Oleh yang demikian kita tidak boleh memandang serong dan menyalahkan para imam mazhab sebagai sebab timbulnya mazhab-mazhab Islam ini. Malah jika diperhatikan benar-benar, para imam mazhab inilah yang banyak berjasa mengekal, menjaga dan menyebarkan ilmu-ilmu Islam sebagaimana yang kita pelajari dan amalkan sekarang. Jasa-jasa paraimam mazhab ini boleh dirumuskan sebagai:

·        Tegas berusaha menjaga keaslian dan ketulenan ajaran agama daripada dicemari faktor-faktor politik.

·        Berusaha menghidupkan semula ajaran Islam yang ditinggalkan oleh peredaran zaman.

·        Menyusun dan membukukan ajaran-ajaran Islam supaya ia dapat dipelajari oleh umat sepanjang masa.

·        Mengorak kaedah-kaedah fiqh yang sistematik bagi memudahkan umat Islam kemudian hari mencari dan mengeluarkan hukum.

Jasa-jasa para imam mazhab kepada ajaran dan ilmu Islam tidak dapat dilupakan sehingga ke hari ini. Inilah sebagaimana yang diterangkan oleh Abdul Rahman I. Doi:

Imam-imam Abu Hanifah, Malik, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal, iaitu pemimpin-pemimpin Mazhab Ahli Sunnah, telah memberikan jasa baik yang tiada tandingnya dalam bidang fiqh Islami.

Tiadalah seorang juapun dari mereka yang cuba untuk mengubah ajaran al-Qur'an dan tiadalah juga mereka bertujuan untuk mengubah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang dituduh oleh segelintir orang lain mahupun ahli-ahli ilmuan Islam yang cetek ilmunya. [30]

Demikianlah secara ringkas pertumbuhan dan perkembangan fiqh Islam sejak dari era Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hinggalah ke masa kini. Insya-Allah di bahagian seterusnya kita akan berkenalan pula dengan lebih rapat, siapakah Para imam mazhab yang empat ini dan bagaimanakah jalan hidup mereka menegakkan ilmu-ilmu Islam.

  
 
^Kembali Ke Atas
| 2. Berkenalan Dengan Para Imam Mazhab
   

 


________________________________

[1]               Ensiklopidi Islam (ed: Hafidz Dasuki; PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 1994) â€" ‘Mazhab’.

[2]               Huzaemah Tahido â€" Penghantar Perbandingan Mazhab (Logos Wacana Ilmu; Jakarta, 1997), ms. 71-72.

Dr. Huzaemah Tahido Yanggo lahir di Indonesia pada 1365H/1946M dan memegang kelulusan al-Azhar dalam jurusan Muqaranah Mazahib iaitu Perbandingan Mazhab. Buku ini beliau usahakan sebagai bahan rujukan bagi memenuhi dasar silibus Institut Agama Islam Nasional (IAIN) Indonesia yang sejak tahun 1415H/1995M sudahpun mula mengajar jurusan perbandingan mazhab kepada pelajarnya. Selain itu Huzaemah adalah juga ahli Majlis Fatwa Indonesia.

[3]               Syi‘ah memiliki sejumlah dalil daripada al-Qur’an dan al-Sunnah bagi membenarkan mazhab mereka tersebut. Penulis dalam rangka mengusahakan sebuah buku yang khusus dalam menjawab hujah-hujah mereka yang insya-Allah akan disiapkan dengan judul:  Jawapan Ahl al-Sunnah kepada Syi‘ah al-Rafidhah dalam persoalan al-Imamah.

[4]               Penulisan dalam bab ini hanya akan membicarakan sejarah Islam secara ringkas dengan perhatian ditumpukan kepada evolusi fiqh Islam dan perkara-perkara berhubung-kait dengannya. Sejarah politik, ekonomi, peradaban dan selainnya hanya akan dihuraikan secara ringkas jika memiliki kaitan dengan evolusi fiqh.

[5]               Sahih: Hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi, al-Nasa‘i dan Ibn Majah, lihat Shahih al-Bukhari â€" no: 0283 (Kitab Mandi, Bab Berkenaan junub dan seorang mukmin tidak najis).

al-Bukhari ialah al-Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, lahir pada 194H/810M dari perkampungan Bukhara di Samarqand. Mengarang kitabnya yang pertama pada umur belasan tahun, beliau merantau ke seluruh dunia Islam pada ketika itu bagi mencari dan mengumpul hadis. al-Bukhari terkenal dengan kitab hadisnya Shahih al-Bukhari, diusahakannya selama 16 tahun, memuatkan lebih-kurang 9000 hadis yang sahih. Ia telah pun diterjemahkan. Selain itu al-Bukhari juga mengarang dan menulis lebih 20 buah kitab-kitab lain. Beliau meninggal dunia pada tahun 256H/870M.

[6]               Namun ada segelintir pihak yang menolak peranan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam syari‘at Islam. Pihak ini dikenali sebagai Golongan Anti Hadis dan penulis telah mengusahakan sebuah buku khas dalam menjawab hujah-hujah mereka. Ia berjudul 20 Hujah Golongan Anti Hadis dan Jawapannya terbitan Jahabersa, Johor Bahru.

[7]               Riwayat Ibn Hazm di dalam al-Ihkam, jld. 5, ms. 92 sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasbi al-Shiddieqie di dalam bukunya Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam (Bulan Bintang, Jakarta 1971), ms. 27.

Ibn Hazm ialah al-Imam Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm lahir di Qordoba (Sepanyol) pada tahun 384H/994M dan terkenal sebagai seorang ahli hadis dan fiqh. Ketelitiannya dalam mengkaji hadis dipuji dan dihormati ramai, antaranya oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani, seorang tokoh hadis dalam kurun ke 9H. Antara karyanya ialah al-Muhalla, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam dan lain-lain. Meninggal dunia pada 456H/1064M

Prof. Dr. Hasbi al-Shiddieqie ialah salah seorang ulama' besar Indonesia, saling bergandingan dengan Prof. Dr. HAMKA, pengarang kitab Tafsir Al-Azhar. Beliau menjawat kedudukan Guru Besar IAIN (Institut Agama Islam Nasional) Kalijaga Yogyakarta. Semasa hidupnya beliau telah berjaya menulis buku-buku dalam hampir semua bidang ilmu Islam, seperti Tafsir dan Usulnya, Hadis dan Usulnya, Fiqh dan Usulnya, Solat, Puasa, Zikir, Doa dan pelbagai lagi. Antara bukunya yang paling masyhur di Malaysia ialah Pedoman Solat  dan Pedoman Zikir dan Doa Rasulullah. Beliau meninggal dunia pada 1394H/1975M.

[8]               Encyclopedia Britannica 98 (edisi Cdrom) dan The Concise Encyclopedia of Islam (ed: Cyril Glasse; Stacey Intl, England, 1989 & Rajawali Press, Jakarta 1996) di atas tajuk â€" Umayyad Dynasty.

[9]               Bilal Philips â€" Evolution of Fiqh (International Islamic Publishing House, Riyadh 1995), ms. 46.

Abu Ameenah Bilal Philips berasal dari Jamaica, memeluk Islam pada 1391H/1972M. Sejurus selepas itu beliau ke Madinah untuk mendapatkan Diploma dalam Bahasa Arab, diteruskan kepada Sarjana dalam jurusanUsul al-Deen dan kemudian diteruskan kepada pengajian Master dalam jurusan Islamic Theology. Seterusnya memperoleh kelulusan Ph.D dalam jurusan Islamic Studies pada tahun 1987. Banyak menulis buku-buku Islam berbahasa Inggeris bertujuan membantu umat Islam yang tidak dapat berbahasa Arab mempelajari dan memahami Islam secara yang sebenar. Bukunya The Evolution of Fiqh - Islamic Law and Mazhabs diterima baik di seluruh dunia Islam dan kini telahpun diterjemahkan kepada beberapa bahasa lain.

[10]             Ensiklopidi Islam â€" ‘Bani Umayyad’

[11]             Seyyed Hussein Nasr â€" Ideals and Realities of Islam (Allen & Unwin, U.K. 1996), ms. 102

Prof. Dr. Seyyed Husein Nasr dilahirkan di Iran dan mendapat kelulusan Ph.D di Harvard dalam bidang Sejarah dan Sains Islam. Kini dia adalah pensyarah bagi jurusan Islamic Studies di George Washington University, USA. Menulis dan mengarang puluhan buku dan artikel berkenaan Islam terutamanya dalam topik Sufism. Bukunya Ideals and Realities of Islam adalah antara yang terbaik dalam memberikan pengenalan tentang ajaran Islam ini, baik kepada umat Islam atau bukan Islam.

[12]             Ensiklopidi Islamâ€" ‘Dinasti Umayyad’

[13]             Seyyed Husein Nasr - Ideals and Realities of Islam, ms. 102-103

[14]             Hasbi al-Shiddieqie - Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, ms. 81.

[15]             Biografi tokoh-tokoh di atas akan diberikan dalam satu bab berasingan nanti, insya-Allah.

[16]             Abu Yusuf, beliau ialah al-Imam Abu Yusuf Yaakob bin Ibrahim, lahir pada 113H/731M dan merupakan salah seorang anak murid utama bagi Abu Hanifah (150H/767M). Sebelum berguru bersama Abu Hanifah selama 9 tahun, beliau berguru bersama Ibn Abi Laila (148H/765M), anak kepada salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Selepas kewafatan Abu Hanifah, beliau turun ke Madinah untuk berguru kepada Malik bin Anas. Abu Yusuf menjawat kedudukan Ketua Hakim (Qadi) Dinasti Abbasid dari tahun 158H/775M hinggalah ke masa kewafatannya pada tahun 182H/798M.

[17]             Harun al-Rashid adalah khalifah ke-5 bagi Dinasti Abbasid. Beliau lahir pada tahun 147H/764M dan telah dihantar untuk belajar agama bersama-sama tokoh-tokoh pada ketika itu. Kebanyakan guru beliau adalah daripada kalangan tabi‘in dan tabi-tabi‘in yang menerima ilmu mereka secara terus daripada generasi sahabat. Harun menjawat kedudukan khalifah pada tahun 169H/786M dan pada zaman beliaulah kerajaan Abbasid dan Islam mencapai era kegemilangannya. Beliau meninggal dunia pada tahun 193H/809M.

[18]             Hassan Ibrahim Hassan, pensyarah University Islam Baghdad, dalam bukunya Islam: A Religious, Political, Social and Economic Study, ms. 356-378; dinukil daripada The Evolution of Fiqh, ms. 58 oleh Bilal Philips. Lebih lanjut tentang fenomena ini lihat penjelasan al-Ghazali (505H) di dalam kitabnya Ihya' Ulum al-Din (edisi terjemahan oleh Ismail Yaakub; Victorie Agencie, K.Lumpur 1988), jld. 1, ms. 166-188 oleh al-Ghazali.

[19]             Abu Ameenah Bilal Philips - The Evolution of Fiqh, ms. 58. Lihat juga Hasbi al-Shiddieqie - Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, ms. 99-100.

[20]             Lebih lanjut sila kaji buku Sejarah dan Pertumbuhan Ilmu Hadis oleh Hasbi al-Shiddieqie (Rizki Putra, Semarang 1978).

[21]             Abu Ameenah Bilal Philips - The Evolution of Fiqh, ms. 102.

[22]             Lihat pengkajian dan perbandingan yang dilakukan oleh Karen Amstrong dalam bukunya The History of God: A 4000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam (Ballantine Books, New York 1994), Bab ke 8.

Karen Amstrong ialah seorang pengkaji keagamaan / teologi yang terkenal masa kini. Berasal dari Britain, beliau telah mengarang banyak buku-buku keagamaan terutamanya dalam topik tiga agama samawi kini, iaitu Yahudi/Judaism, Nasrani/Christian dan Islam.

[23]             Hasbi al-Shiddieqie - Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, ms. 152-158; Ibn Khaldun â€" Muqaddimah (edisi terjemahan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, K.Lumpur 1995), ms. 579-582.

[24]             Ibn Khaldun - Muqaddimah, ms. 576 dan nk 34.

Ibn Khaldun ialah seorang ahli sejarah, ahli falsafah dan ahli fikir Islam yang hidup pada kurun ke 8 hijrah. Nama beliau ialah Abdul Rahman bin Muhammad Abu Zaid bin Khaldun, lahir di Tunisia pada 732H/1332M. Pengalamannya merantau ke dunia Islam termasuk negara-negara utara Benua Afrika sehingga ke Sepanyol dan lain-lain. Karangannya ini adalah pendahuluan (Muqaddimah) kepada kitabnya yang asal Kitab al-'Ibar wa Diwan.Kitab Muqaddimah ini telah diterjemahkan ke bahasa Inggeris, Indonesia dan Melayu. Beliau meninggal dunia di Kaherah, Mesir pada 808H/1406M.

[25]             Karen Amstrong - The History of God: A 4000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, ms. 259-260.

[26]             Hakikat kebenaran bahawa penjajahan Barat atas negara-negara Islam bukan semata-mata atas alasan 'mencari rempah ratus dan serbuk teh' jelas terbukti melalui pengakuan ahli-ahli sejarah dan agama Barat/Kristian sendiri, sebagaimana yang dihuraikan oleh David Waines, pensyarah Islamic Studies di Lancaster University, England dalam bukunya An Introduction to Islam (Cambridge University Press, 1995), ms. 214-215.

[27]             Huzaemah Tahido â€" Penghantar Perbandingan Mazhab, ms. 44.

[28]             Sila lihat buku An Introduction to Islam: Issues in Contemporary Islam oleh David Waines di mana beliau menghuraikan secara umum akan usaha-usaha membangkitkan Islam pada zaman kebelakangan ini. Selain itu lihat juga huraian mendalam lagi terperinci dalam The Oxford Encyclopedia of Modern Islam yang dipimpin oleh John Esposito, Ketua Fakulti Pengkajian Agama, Georgetown University, Washington, USA. Lihat juga buku beliau dalam subjek yang sama: The Islamic Threat: Myth of Reality ?

                Amat menyedihkan apabila kita lihat pengkaji-pengkaji non-muslim amat prihatin lagi peka terhadap suasana kebangkitan Islam akhir-akhir ini; apabila dalam waktu yang sama umat Islam sendiri tidak mengetahui apatah lagi mengambil iktibar terhadapnya.

[29]             Antara lain lihat kertas kerja yang dibentangkan oleh Yusuf al-Qaradhawi berjudul Priorities of The Islamic Movement in The Coming Phase (edisi terjemahan oleh Dar al-Nasr for Egyptian Universities, Cairo1992); di mana beliau menghuraikan halangan-halangan yang terlebih dahulu perlu diatasi sebelum umat boleh mengorak langkah ke arah kejayaan hakiki.

Prof. Dr. Muhammad Yusuf al-Qaradhawi lahir pada 1344H/1926M di Mesir, berkelulusan Al Azhar. Kini bertugas sebagai Deen Syari'ah dan Islamic Studies, juga Director for Centre of Sunnah and Sirah Studies di University of Qatar. Mengarang puluhan buku dalam isu-isu Islam mutakhir dan sehingga kini buku-bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa kita (Malaysia & Indonesia) sudah menjangkau lebih 40 buah. Diikktiraf dunia sebagai salah seorang ulama' mutakhir yang banyak berusaha memberikan kefahaman dan menyelesaikan isu-isu dunia Islam masa kini (fiqh al-Waqi').

[30]             ‘Abd al-Rahman I. Doi - Shari'ah: The Islamic Law (A.S. Noordeen, K.Lumpur 1995),ms. 85.

Prof. Dr. ‘Abd al-Rahman I.Doi dilahirkan di India. Beliau mempelajari Islam dan ilmu-ilmunya di Madrasah-madrasah tempatan, kemudian melanjutkannya ke University of Bombay. Jawatannya sebagai pensyarah pengajian Islam bermula di Univ. of Nigeria, kemudian ke Univ. of IFE, kemudiannya ke Univ. of Ahmadu Bello, Zaria. Ketika menulis buku di atas, beliau bertugas di Univ. Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). Beliau ialah salah seorang tokoh dalam bidang syari‘ah Islam yang ulung masa kini, banyak membahas isu-isu syari'ah masa kini di seminar-seminar Islam antarabangsa, banyak menulis artikel, majalah dan buku.

-=-=-=

utk qoul KH Hasyim Asyari, ane kesulitan melacak link web aslinya dan juga pdfnya.
namun dapat dari link lain yg memang merujuk ke artikel yg ane maksud.
sila disimak:

http://rulan.mywapblog.com/post/20.xhtml

-=-=-=-

NU dan Madzhab
by Atthullab on 05:18 AM, 01-Sep-09
NU dan Madzhab
Mengapa harus bermadzhab ?

Hadlrotus Syekh KH. Hasyim Asy'ari pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama, pada Muqoddimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama yang disampaikan dalam pidato bahasa arabnya pada Muktamar NU lll Th. 1928 di Surabaya dan Muktamar NU lV Th. 1929 di Semarang menyampaikan:


"Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya mengikuti salah satu dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) mengandung kemaslahatan yang besar, dan meninggalkan seluruhnya membawa resiko kerusakan yang fatal.


Kami dapat menjelaskan persoalan diatas dari beberapa aspek:


Pertama, bahwa umat Islam telah sepakat bulat untuk mengacu dan menjadikan ulama salaf sebagai pedoman dalam mengetahui, memahami, dan mengamalkan syariat Islam secara benar. Dalam hal ini, para tabi'in mengikuit jejak para sahabat Rasulullah SAW, lalu para pengikut tabi'in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para tabi'in. Demikianlah seterusnya, pada setiap generasi, para ulama pasti mengacu dan merujuk kepada orang-orang dari generasi sebelumnya.


Akal yang sehat menunjukkan betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang seperti itu. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan cara naql (mengambill dari generasi sebelumnya) dan istinbath (mengambil hukum langsung dari sumbernya, al-Qur'an dan Hadits).


Naql tidak mungkin dilakukan dengan benar kecuali dengan cara setiap generasi mengambil langsung dari generasi sebelumnya secara berkesinambungan. Sedangkan untuk istinbath, disyaratkan harus mengetahui madzhab-madzhab ulama generasi terdahulu agar tidak menyimpang dari pendapat-pendapat mereka yang bisa berakibat menyalahi kesepakatan mereka (ijma'). Disamping itu, juga disyaratkan harus dilandasi dan ditunjang oleh madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya. Sebab, semua pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki seseorang, misalnya dibidang shorrof, nahwu, kedokteran, kesusastraan, pertukangan, pandai besi, perdagangan dan keahlian logam mulia, tidak mungkin begitu saja mudah dipelajari oleh seseorang kecuali dengan terus menerus belajar kepada ahlinya. Diluar cara itu, sungguh sangat langka dan jauh dari kemungkinan, bahkan nyaris tidak pernah terjadi, kendatipun secara akal boleh saja terjadi.


Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi keniscayaan untuk dijadikan pedoman, maka pendapat-pendapat mereka yang dijadikan pedoman itu haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata-rantai) yang benar dan bisa dipercaya, atau dituliskan dalam kitab-kitab yang masyhur dan telah diolah (dikomentari) dengan menjelaskan pendapat yang unggul dari pendapat lain yang serupa, menyendirikan persoalan yang khusus (takhshish) dari yang umum, membatasi yang muthlaq dalam konteks tertentu, menghimpun dan menjabarkan pendapat yang berbeda dalam persoalan yang masih diperselisihkan serta menjelaskan alasan timbulnya hukum yang demikian. Karena itu, apabila pendapat-pendapat ulama tadi tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan seperti diatas, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan pedoman.


Tidak ada satu madzhabpun di zaman akhir ini yang memenuhi syarat dan sifat seperti diatas selain madzhab empat ini. Memang ada juga madzhab yang mendekati syarat dan sifat diatas, yaitu madzhab Imamiyah (Syi'ah) dan Zaydiyah (golongan Syi'ah). Namun keduanya adalah golongan ahlu bid'ah, sehingga keduanya tidak boleh dijadikan pegangan.


Kedua, Rasulullah SAW telah bersabda: "Ikutilah kepada golongan terbesar (as-Sawad al-A'dhom)!”. Sesudah beberapa madzhab yang tergolong benar telah hilang dan yang tersisa hanya tingal empat madzhab ini, maka nyatalah bahwa mengikuti salah satu empat madzhab berarti mengikuti golongan yang terbesar, dan keluar dari sana berarti telah keluar dari golongan yang mayoritas.


Ketiga, pada saat zaman sudah begitu lama berputar, makin jauh dari masa Rasulullah SAW, dan amanat menjadi begitu mudah disia-siakan, maka tidak boleh berpegang pada pendapat-pendapat oknum-oknum ulama yang buruk, baik dari kalangan hakim-hakim yang menyeleweng maupun mufti-mufti yang hanya mengikuti hawa nafsunya, meskipun mereka mengaku bahwa pendapatnya itu sesuai dengan pendapat ulama salaf yang masyhur integritas pribadinya, loyalitas agamanya dan amanah moralnya, baik secara eksplisit maupun secara implisit, serta memelihara pendapatnya secara bertanggung jawab. Kitapun tidak boleh mengikuti pendapat orang yang kita belum mengetahui persis apakah yang bersangkutan sudah memenuhi persyaratan ijtihad atau belum.


Apabila kita melihat para ulama ahli tahqiq (penelitian) yang menekuni madzhab-madzhab para ulama salaf, maka ada harapan bahwa mereka akan memperoleh kebenaran dalam usahanya merumuskan pendapat dan penggalian ketentuan-ketentuan hukum dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Sebaliknya, apabila kita tidak melihat hal itu kepada mereka, maka sungguh jauh dari kemungkinan memperoleh kebenaran yang diharapkan.


Inilah pengertian yang secara tidak langsung ditunjukkan oleh Khalifah ‘Umar bin Khatthab RA melalui perkataannya: "Islam akan hancur akibat kelihaian orang-orang munafik dalam berdebat dengan menggunakan al-Qur'an." Dan juga sahabat Ibnu Mas'ud RA berpesan: "Barangsiapa menjadi pengikut (yang baik) maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya."


Dengan demikan gagasan yang pernah dilontarkan Ibnu Hazm bahwa taqlid itu hukumnya haram, sesungguhnya hanya ditujukan kepada orang yang memiliki kemampuan berijtihad meskipun hanya dalam satu permasalahan, serta buat orang yang konkrit meyakini bahwa Rasulullah SAW memerintahkan ini atau melarang itu, sedang perintah atau larangan itu belum dihapuskan. Keyakinan mungkin dapat diperoleh dengan meneliti banyak Hadits dan pendapat para ulama yang menentang maupun yang setuju, lalu jelas bahwa ketentuannya belum terhapuskan. Atau mungkin dengan melihat mayoritas terbesar dari golongan ulama yang mendalami ilmunya ternyata sependapat dalam ketentuan tersebut, sementara golongan yang menentangnya tidak mampu mengajukan dalil kecuali hanya berupa qiyas atau istinbath atau yang sejenisnya (bukan berupa dalil nash). Jika demikian maka tidak ada dalih untuk menyalahi Hadits Rasulullah SAW selain kemunafikan yang terselubung atau kebodohan yang nyata.


Dan ketahuilah! Bahwa setiap orang yang sudah mukallaf (aqil baligh) yang tidak mampu berijtihad secara mutlak, harus mengikuti salah satu dari empat madzhab dan tidak boleh baginya untuk ber-istidlal (mengambil dalil secara langsung) dari al-Qur'an atau Hadits. Ini didasarkan pada firman Allah SWT, (yang artinya kurang lebih): “Dan seandainya menyerahkan (urusan itu) kepada Rasul dan ulil amri (yang menguasai pada bidangnya) diantara mereka, niscayalah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).”. Dan telah dimaklumi, bahwa mereka yang dapat ber-istinbath (mengambil dalil langsung dari al-Qur'an dan Hadits) adalah orang-orang yang telah memiliki cukup keahlian dan kemampuan berijtihad, bukan orang lain, sebagaimana keterangan yang diuraikan dalam bab ijtihad di berbagai kitab.


Adapun orang yang dapat menyandang status mujtahid, maka haram baginya untuk bertaqlid dalam persoalan yang ia sendiri mampu berijtihad, karena kemampuannya berijtihad justru menjadi acuan bagi mereka yang taqlid.


Namun demikian, mujtahid mustaqil (mujtahid yang mampu menggali hukum langsung dari sumbernya, al-Qur'an dan Hadits) dengan memenuhi segala persyaratnnya sebagimana yang telah dijelaskan oleh para pengikutnya dalam permulaan bab qodlo', ternyata sudah tidak ditemukan lagi sejak kira-kira enam ratus tahun yang silam, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Shalah. Bahkan tidak sekedar satu orang yang menyatakan manusia sekarang tidak berdosa seandainya meninggalkan kewajiban berijtihad ini, karena manusia zaman sekarang ini terlalu bodoh untuk mencapai derajat ijtihad. Padahal fardlu kifayah dalam hal mencari ilmu tidak mungkin ditujukan kepada orang-orang yang bodoh.


Sebenarnya madzhab-madzhab yang boleh diikuti tidak hanya terbatas hanya kepada empat madzhab saja, bahkan ada golongan ulama dari mazhab yang bisa diikuti, seperti madzhab Sufyan Tsawri dan Sufyan bin ‘Uyaynah, Ishaq bin Ruhawayh, madzhab Dawud ad-Dhohiri dan madzhab al-Awza'i.


Meskipun demikian para ulama pengikut madzhab Syafi'i menjelaskan bahwa mengikuti selain empat madzhab adalah tidak boleh, karena tidak ada jaminan kebenaran atas hubungan madzhab itu dengan para imam yang bersangkutan, sebab tidak adanya sanad (mata-rantai) yang dapat menjamin daari beberapa kekeliruan dan perubahan. Berbeda dengan madzhab empat, karena para pemimpinnya telah mencurahkan jerih payahnya dalam mengkodifikasi (menghimpun) pendapat-pendapat serta menjelaskan hal-hal yang telah ditetapkan atau yang tidak ditetapkan oleh pendiri madzhab. Dengan begitu, maka para pengikutnya menjadi aman dari segala perubahan dan kekeliruan, serta bisa mengetahui mana pendapat yang benar dan yang lemah.


Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang memberi komentar terhadap Imam Zayd bin 'Ali. Beliau adalah seorang imam yang agung kedudukannya dan tinggi reputasinya, akan tetapi kepercayaan terhadap madzhabnya menjadi hilang karena para murid-muridnya kurang dalam memberikan perhatian pada pentingnya sanad yang menjamin kesinambungan suatu madzhab.
Maka madzhab empat inilah madzhab yang sekarang masyhur dan diikuti. Para imam dari masing-masing empat madzhab ini begitu dikenal, sehingga orang yang bertanya tidak perlu lagi diberikan pengenalan kepada mereka, karena begitu nama mereka disebut, dengan sendirinya orang bertanya pasti mengenalnya. Wallohu A'lam."


Demikian terjemah teks pidato KH. Hasyim Asy'ari. Dari paparannya dapat disimpulkan sebagai berikut:

Tidak alasan pada zaman sekarang untuk menolak taqlid kepada para imam madzhab empat, karena tidak dimungkinkannya setiap manusia mengambil hukum-hukum agama langsung dari sumbernya, al-Qur'an dan Hadits. 

Demikian ini disebabkan tidak dapat terpenuhinya segala persyaratan ijtihad, seperti menguasai ilmu al-Qur'an, Hadits, nahwu, lughot, tashrif dan perbedaan-perbedaan pendapat para ulama serta metode dalam mengambil hukum dari sumbernya (ushul fiqh). 

Sebenarnya para imam mujtahid tidak hanya terbatas pada empat madzhab. Diluar madzhab empat juga banyak para imam yang telah mencapai tingkatan mujtahid, seperti Imam Sufyan Tsawri, Hasan al-Bashri, Ishaq bin Ruhawayh, Dawud ad-Dhohiri, dan lain-lain yang masih tergolong Ahlussunnah wal jama'aah, namun karena para pengikutnya tidak ada yang meneruskan dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya, maka seiring dengan berlalunya waktu, satu persatu musnah ditelan zaman. 

Berbeda dengan pengikut empat madzhab ini yang selalu terus menyebarkan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran imam pendiri madzhabnya, sehingga pendapat imam pendiri madzhab dapat terkodifikasi (terhimpun) dengan baik. 

Akhirnya, validitas (kebenaran sumber dan salurannya) dari pendapat tersebut tidak diragukan lagi, dan terhindar dari kemungkinan pemalsuan terhadap pendapat dan pemikiran imam pendiri madzhab. 

Disamping itu, madzhab empat ini telah teruji ke-shahihan-nya, sebab memiliki metode istinbath (penggalian hukum) yang jelas dan telah tersistematis (tersusun) dengan baik, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiya. 

Para pengikut madzhab empat juga menulis beberapa kitab yang menguraikan dan menjabarkan pemikiran imam madzhab dengan sanad (mata-rantai) yang terus bersambung kepada pendiri madzhab.

-=-=-=-=-

Walloohu a'lam bis-showab.
Wassalam,


Nugon

--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "nugon19" <nugon19@...> wrote:
>
> tak kenal maka tak sayang.kalau Mas Fami tak bangga dgn ikut Sunni,
> monggo silahkan.mungkin tak sesuai dgn rasa dan selera, atau mungkin
> belum kenal ajaran sesungguhnya.tapi Mayoritas Ahlul Bait , banyak
> ulama, termasuk KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Ashari, Syeikh Ahmad Surkati,
> Ustadz A Hassan, dgn bangga mengikuti manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
> situs satuislam ini mainnya halus.seolah mau taqrib, tapi digiring jadi
> Pro Syiah secara perlahan.
> seperti Kalam Habib Umar, gurunya Habib Munzir , juga kalam Habib
> Rizieq, seolah tdk mempermasalahkan Syiah.pdhal statement nya jelas,
> menetapkan kesesatan bagi yg menghina Ahlul Bait, Istri Nabi dan Sahabat
> Nabi.menetapkan Kekafiran bagi yg menyatakan Al-Quran yg kita baca, wa
> bil khusus Mushaf 'Utsmani, sudah ditahrif, dimanipulasi agar
> menguntungkan suatu golongan.cuma karena Adab, terlebih dialog kpd Syiah
> yg dari gol Ahlul Bait juga (yg minoritas, tapi radikal macam evangelis
> Kristiani), makanya hanya menetapkan kriteria, bukan menunjukkan
> langsung nama personil. Sama dgn cara Majelis Tarjih berfatwa.
> Politik memang punya pengaruh kpd penyebaran madzhab.tapi kalau
> dikatakan Sunni mesra dgn politik, diprotek penguasa, terlebih yg 4
> madzhab...ya berarti kata beberapa orang NU yg mumpuni (termasuk Koko
> ane), mereka bilang kalau level bacaan kitabnya masih cetek.terlebih utk
> kitab Siroh.dan biasanya yg berkata seperti ini, sudah termakan
> tulisannya Kang Jalal yg sudah beredar di awal 2000 an.
> KH Hasyim Ashari menyatakan kenapa ikut madzhab, dan hanya 4 madzhab
> saja utk yg Sunni.....lantaran kehati-hatian, karena madzhab yg lain,
> tdk terkodifikasi dgn baik, hanya ada dlm bentuk nukilan dan catatan yg
> tdk sistematis, serta hampir tdk ada lagi yg melestarikan.pemahaman yg
> didapat dari talaqqi dan kitab yg sistematis lebih aman dan terjamin,
> ketimbang hanya mendapat ilham/pemahaman dari kitab yg tdk sistematis,
> dan tdk bisa talaqqi (pengajian interaktif langsung dgn seorang
> ustadz/ulama).
> lalu 4 Imam perintis 4 Madzhab justru jauh dari kekuasaan.
> utk Madzhab Hanafi, memang salah satu murid Imam Abu Hanifah, jadi
> qodhi.tapi Abu Hanifah rah sendiri disiksa hingga meninggal, lantaran
> menolak jadi qodhi.dan 2-3 orang faqih yg selevel dgn beliau, kabur atau
> mencari siasat agar terhindar ditunjuk jadi qodhi.
> Imam Maliki, disiksa, sampai terkilir/terlepas sendi bahunya, kalau tdk
> salah, lantaran fatwa masalah baiat dan talaq yg bertentangan dgn
> Gubernur Hijaz (Madinah) saat itu.
> Imam Syafi'i, hijrah ke Mesir, demi menuntut ilmu, demi menyebarkan
> ilmu, dan menghindari fitnah Mu'tazilah yg merasuk ke Khilafah Abbasiyah
> pd saat itu.terutama debat kusir Al-Quran makhluk atau bukan.
> Imam Ahmad disiksa sampai 2 Kholifah, lantaran menolak menyatakan
> Al-Quran itu makhluk.Imam Ahmad ini dibenci oleh Mu'tazilah, sehingga
> selama Kholifahnya pro Mu'tazilah, ia awet dipenjara dan bahkan disiksa.
> madzhab lain punah lantaran tdk ditulis di Kitab secara sistematis,
> apalagi macam Madzhab Syafi'i yg menulis sistematika madzhabnya langsung
> dlm kitabnya, terutama Ar-Risalah.bahkan murid dari madzhab lain beralih
> ke madzhab lain.simak qoul Imam Syafi'i ttg salah satu Imam Madzhab,
> yakni Al-Laits..."Imam Al-Laits lebih faqih dari Imam Malik, tapi
> sayang, murid-muridnya menyia-nyiakan ilmunya".dan terbukti , tatkala
> Imam Syafi'i di akhir hayatnya pindah ke Mesir...ia menyerap ilmu dari
> murid Imam Al-Laits, lalu menggabungkannya dgn khazanah
> madzhabnya.justru murid-murid Imam Al-Laits, akhirnya beralih ke Madzhab
> Syafi'i.dan tdk sampai 1 Abad, madzhab Al-Laits di Mesir (tempat
> asalnya), malah punah.
> ane blm sempat kasih linknya, jadi anggap saja hoax.tapi kalau mau
> googling, terutama di link aktivis Salafi di Malaysia, yakni Ustadz
> Hafiz Firdaus, sebagian info ini bisa didapat dgn baik, terkait masalah
> Madzhab.
> ane sengaja bawa statement dari ormas saudara kita di sini (NU), biar
> multi-perspektif, multi-dimensi kacamata analisanya.
> kalau di Muhammadiyah, jelas lebih fokus kpd back to Al-Quran dan Hadits
> dan amal nyata.sehingga pendapat ulama madzhab sangat dihargai,
> metodologinya sangat diperhatikan....tapi tdk memakukan diri pd madzhab
> tsb...terlebih hanya berfokus pd qoul ulamanya saja , macam sebagian
> ulama di NU (yg belakangan dikritik oleh KH Sahal Mahfudzh yg
> menyatakan agar melebarkan cakrawala pandangan kpd Madzhab lain selain
> Madzhab Syafi'i dan fokus kpd metode nya, bukan qoul-nya saja...dan ini
> diakui oleh Koko ane, ini kelemahan sebagian ulama di NU).
> sudut pandang dari pemikiran Ala Muhammadiyah....suka atau tidak suka,
> Sunni telah memberikan kontribusi peradaban yg membangun, terutama
> tatkala blm ada budaya taqlid buta dan fanatisme madzhab secara
> membabi-buta.tetapi suka atau tdk suka, Syiah...kendati memberi
> kontribusi pd peradaban Islam...juga berkontribusi utk menghancurkan.ini
> terbukti dgn runtuhnya Daulah Abbasiyah oleh serangan Mongol - Hulagu
> Khan...sebagian besar karena andil Pejabat yg bermadzhab Syiah.
> suka atau tdk suka, Sunni telah sukses merebut Baitul Maqdis pd saat
> Perang Salib.tapi Syiah yg tatkala waktu itu sempat menguasai Mesir dgn
> Dinasti Fathimiyah...justru terkesan tdk peduli.
> bahkan ghulat dari Syiah (yg sampai diberi laqob rofidhoh oleh Syiah,
> dan juga dikafirkan oleh Syiah)....yakni gol Qoromithoh kalau tdk
> salah....sukses menyerang Mekkah, dan mengambil Hajar Aswad, serta
> membawa keluar dari Mekkah dlm waktu beberapa tahun.kalau ada yg anti
> Salafi/Wahabi, dan suka memakai alasan/tudingan penyerangan Salafi
> Radikal ke Mekkah dsb (yg masih debat-able)....maka masih jauh sekali
> dari dampak penyerangan Qoromithoh tsb.
> dan tdk ada dari Salafi yg dituding radikal dan sempat menyerang Mekkah
> dsb ini...menganggap Al-Quran sudah dimanipulasi/tahrif.tapi sebagian
> Syiah , menyatakan Al-Quran sudah dimanipulasi/tahrif.
> ini jauh lebih fatal!!!!Fakta dan Sejarah telah mencatatnya.silahkan
> disimak dan direnungkan.
> Walloohu a'lam bis-showab.Wassalam,



> Nugon

> --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Fami Fachrudin"
> masfami@ wrote:
> >
> > Cak Noval,
> >
> > Mungkin link2 berikut bisa dibaca untuk melengkapi info tentang Syiah
> :)
> >
> > http://satuislam.wordpress.com/ahlussunnah-wal-jamaah/
> >
> >
http://satuislam.wordpress.com/2012/01/22/menjadi-muslim-sejati-tidak-ha\
> rus-meninggalkan-sunni-dan-masuk-syiah/
> >
> > Sekaligus Mas Wahyudi mungkin bisa meneliti kebenaran isinya karena
> banyak nama dan kitab yang disebut di situ asing sekali buat saya yang
> awwam ini.
> >
> > Saya dapat kesan, Sunni bisa survive karena "ditolong" atau "bisa
> bermesraan" dengan rezim politik. Dan Sunni sendiri awalnya tidak hanya
> 4 peadepokan (mazhab), karena banyak padepokan yang gugur di jalan
> akibat tidak adanya pertolongan dari rezim politik yang ada saat itu.
> >
> > Dan saya baru tahu dari tulisan tsb, istilah ahlussunnah wal jamaah
> sendiri merupakan produk politik utk menakut-nakuti rakyat awwam.
> >
> > Jadi tidak ada kebanggaan ikut Sunni nih :(
> >
> >
> > Salam,
> > -Fami Fachrudin
> >
> > Sent from my Heart® with Love
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> >
>

[Non-text portions of this message have been removed]


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
7. .::: FOLLOW @ALAZHARPEDULI :::.
Posted by: "al_azharpeduli" al_azharpeduli@yahoo.co.id al_azharpeduli
Date: Tue Feb 7, 2012 10:31 pm ((PST))

Untuk mendapatkan brita sputar Al-Azhar, kegiatan Masjid Agung Al-Azhar,
kegiatan keislaman, jadwal umroh, tausiyah, jadwal radioalazhar, follow
@alazharpeduli, semoga manfaat.


Messages in this topic (1)

===


Untuk berlangganan milis Syiar Islam, kirim email ke:
syiar-islam-subscribe@yahoogroups.com
Layanan pembuatan website mulai 2 Dinar: http://media-islam.or.id/2010/07/22/pembuatan-website-seharga-3-dinar

Paket Umrah 2011 mulai US$ 1.400/orang di http://media-islam.or.id/2011/01/24/paket-umroh-2011-mulai-us-1-400


------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
syiar-islam-normal@yahoogroups.com
syiar-islam-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
syiar-islam-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar